Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Kamis, 29 Agustus 2019

MANAJEMEN PERUBAHAN : Tulisan - 1


      Perubahan pada hakikatnya adalah transformasi dari keadaan lalu menuju keadaan sekarang, dari keadaan sekarang menuju keadaan yang akan datang. Kalau keadaan sekarang berubah menjadi lebih baik berarti suatu keberhasilan. Apabila keadaan sekarang sama (tidak berubah) dengan keadaan yang lalu, maka berarti suatu kerugian karena stagnan. Apabila keadaan sekarang berubah menjadi lebih buruk dari keadaan yang lalu, maka berarti suatu  kecelakaan.
           Adanya perubahan sebagai tanda adanya tanda kehidupan dan perkembangan. Maka apabila tidak terjadi perubahan, maka berarti bahwa kehidupan itu mandeg dan tidak berkembang. Namun demikian pengalaman empiris menununjukkan bahwa adanya usaha perubahan sering  mampu meningkatkan kinerja lembaga lebih maju secara  pesat. Perlu juga  disadari bahwa banyak pula usaha perubahan, namun kenyataannya tidak berhasil. Hal ini kadang menimbulkan keragu-raguan pada diri orang/kelompok dan orang/kelompok  lain untuk berusaha berubah.
           Perpustakaan sebagai lembaga yang selalu berubah (library is the growing organism) harus selalu melakukan perubahan. Perubahan ini sesuai tingkat kebutuhan informasi masyarakat. Namun demikian perlu disadari bahwa untuk menuju perubahan selalu dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal adalah adanya tekanan global dan semakin ketatnya kompetisi. Faktor internal berasal dari internal perpustakaan itu sendiri, dimana manajemen/kepala perpustakaan harus bisa mengendalikannya.
           Oleh karena itu dalam upaya merubah dan mengembangkan pengelolaan dan layanan perpustakaan diperlukan manajemen/kepemimpinan  yang profesional. Yakni manajemen yang memiliki pemahaman visi (the need for vision) , etika (the need for ethics) , keberagaman budaya (the need for cultural diversity), dan pelatihan (the need for training) (Stoner dan Freeman (1992: 16)  
1)   The Need for vision
Manajer/kepala perpustakaan akan membawa perubahan dan pengembangan yang signifikan apabila memiliki visi yang jelas. Oleh karena itu kepala perpustakaan harus mampu melihat jauh ke depan tentang perpustakaan yang dipimpinnya dan tujuan perpustakaan yang akan dicapai. Visi ini akan menjadi acuan utama semua staf perpustakaan itu. Tanpa adanya visi yang jelas dari kepala perpustakaan, maka sumber daya manusia perpustakaan akan melakukan tugas dan pekerjaan yang tidak terarah.
Oleh karena itu, kalau suatu  perpustakaan ingin maju, maka tidak bisa penugasan sebagai kepala perpustakaan asal tunjuk. Cara ini tidak akan membawa perubahan apa-apa. Bahkan akan menjadi masalah. Model seperti  ini perlu dihindarkan.
2)   The Need for ethics
Dalam memenej perpustakaan diperlukan pemahaman etika. Baik etika lembaga, etika profesional kepustakawanan, maupun  etika komunikasi. Tanpa pemahaman ini, perjalanan kepemimpinan perpustakaan akan terhambat oleh masalah moral. Maka tak heran kalau terjadi pemogokan kerja, protes tersembunyi, bahkan stres terselubung. Hal ini antara lain disebabkan kepala perpustakaan tidak memahami ketiga etika tersebut. Maka dalam melangkah mereka cenderung  trunyak trunyuk.
3)   The Need for cultural diversity
Orang-orang yang bekerja di perpustakaan terdiri dari berbagai macam tingkat pendidikan, suku, agama,paham, dan budaya. Faktor ini  harus dipahami oleh manajemen. Untuk itu, manajemen harus memiliki komitmen kuat untuk memberikan perlakuan yang adil tanpa memandang ras, suku, aliran politik, budaya, maupun jenis kelamin. Sebab keberagaman budaya (cultural diversity) ini merupakan kenyataan dalam kehidupan bernegara, berbangsa, dan bermasyarakat.
4)   The Need for training
Dalam memenej organisasi, lembaga, maupun perpustakaan diperlukan ketrampilan manajemen tersendiri. Oleh karena itu kepala perpustakaan perlu menyadari akan pentingnya pelatihan di dalam organisasi/perpustakaan dan di luar perpustakaan. Pelatihan manajemen ini dilakukan oleh kepala perpustakaan dan staf perpustakaan.
Pelatihan adalah keseluruhan kegiatan untuk memberi, memeroleh, meningkatkan, serta mengembangkan kompetensi kerja, produktivitas, disiplin, sikap, dan etos kerja pada tingkat ketrampilan dan keahlian tertentu sesuai dengan jenjang dan kualifikasi jabatan dan pekerjaan (Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 dalam Lasa Hs, 2017)
          Bersambung

          Lasa Hs

0 komentar:

Posting Komentar