Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Selasa, 17 September 2019

AMRULLAH, Abdul Karim (Haji Rasul) (10 Februari 1879 – 2 Juni 1945)


Ulama besar Sumatera Barat ini adalah putra Syekh Muhammad Amrullah dan ibu Andung Tarawas. Waktu kecil bernama Muhammad Rasul, dan setelah menunaikan ibadah  haji bernama Haji Abdul Karim Amrullah. Muhammad Rasul  mula-mula belajar bahasa Arab kepada ayahnya sendiri, belajar fikih dan tafsir kepada Sultan Muhammad Yusuf. Kemudian pada umur 16 tahun , ia belajar ke Makkah selama 7 (tujuh) tahun belajar kepada Syekh Ahmad Khatib al Minangkabawi yang saat itu beliau menjadi imam Masjidil Haram. Kebetulan saat itu ada dua putra Minang yang belajar kepada Syekh Khatib yakni Muhammad Jamil Jambek dan Thaher Jalaluddin.
Kecuali belajar kepada Syekh Khatib, Muhammad  Rasul juga berguru kepada ulama-ulama terkenal saat itu antara lain Syekh Abdullah Jamidin, Syekh Usman Serawak, Syekh Umar Bajened, Syekh Saleh Bafadal, Syekh Hamid Jeddan, dan Syekh Sa’id Yaman. Beliau pulang ke tanah air tahun 1901.
Beliau terpengaruh pemikiran Muhammad Abduh, Muhammad Rasyid Ridha, maupun Syekh Jamaluddin Al Afghani yang merupakan ulama-ulama pembaharuan. Maka setiba di tanah air, Haji Rasul diminta menjadi perwakilan majalah al Imam di Sumaatera. Majalah ini sebenarnya merupakan perpanjangan tangan majalah al ‘Urwatul Wustha. Majalah al Imam ini terbit di Singapura pimpinan Syekh Thaher Jalaluddin.  
            Di samping itu, bersama dengan Syekh Haji Abdullah Ahmad menerbitkan majalah al Munir yang terbit pertama kali tahun 1911.Pendiri lembaga pendidikan Sumatera Thawalib ini pada tahun 1919 , bersama Syekh H. Abdullah Ahmad, dan Syekh Muhammad Jamil Jambek  mendirikan Persatuan Guru Agama Islam (PGAI). Organisasi ini disahkan sebagai suatu badan hukum oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1921.
            Ketika beliau mengadakan lawatan ke Jawa tahun 1925, beliau bertemu dengan HOS Tjokroaminoto dan KH. Ahmad Dahlan. Dari keduanya, beliau berkesimpulan bahwa pengembangan Islam perlu diorganisir secara baik. Maka perkumpulan Sendi Aman Tiang Selamat  yang pernah dibentuknya itu lalu diganti menjadi Muhammadiyah cabang Sungai  Batang, kampungnya sendiri. Kemudian sejak 1912 beliau pindah dari Sungai Batang ke Padang Panjang. Pada tahun itulah secara resmi berdiri persyarikatan Muhammadiyah pertama kali di Sumatera Barat, dan dari sinilah Muhammadiyah dikembangkan oleh murid-murid beliau ke seluruh Sumatera.  
            Kegiatannya semakin nyata dalam pengembangan Muhammadiyah di Sumatera Barat.  Sebagian besar keluarganya menjadi aktifis dan tokoh Muhammadiyah, seperti Yusuf  Amrullah (adiknya) menjadi Ketua Muhammadiyah di Maninjau, Hamka (putranya) menjadi Konsul Muhammadiyah di Medan.A.R. Sutan Mansur (murid dan menantunya) menjadi Konsul Muhammadiyah di Minangkabau dan Ketua PP Muhammadiyah periode 1950 – 1953.
Pada tahun 1926, beliau mendapat anugerah Doktor Honoris Causa dari Kongres Islam Se Dunia di Kairo. Penganugerahan ini bermula ketika beliau menyampaikan pemikirannya dalam suatu seminar di Kairo yang membahas penghapusan Kekhalifahan Islamiyah di Turki oleh Mustofa Kamal itu.
 Namun di satu sisi dengan majunya dunia pendidikan yang dikembangkannya pemerintah Belanda nampaknya tidak senang terhadap perkembangan pendidikan ini. Maka oleh Belanda, beliau diasingkan ke Sukabumi Jawa Barat pada tahun 1941 M selama satu tahun. Lalu pada masa pendudukan Jepang 1942, beliau dipindahkan ke Jakarta sampai akhir hayatnya dalam usia 66 tahun dan dimakamkan di Pemakaman Umum Karet Jakarta.
Sebagai ulama besar, Haji Rasul meninggalkan karya-karya; 1) ‘Amdah al Anam fi ‘ilm al Kalam (1908); 2) Sullam al Ushul (tentang Ushul Fiqh, 1914); 3) al ifshah (1919); 4) al Burhan (1922); 5) an Nida’ (1929); 6) al Faraid (1932); 7) al Kawakib ad Durriyah (1940; 8) Pedoman Guru (1930); 9) al Bashair (1938); 10) Kitabur Rahmah (1922).
(Lasa Hs).

0 komentar:

Posting Komentar