Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Minggu, 22 September 2019

ANIS, Muhammad Yunus (3 Mei 1903 – 14 April 1979)


ANIS, Muhammad Yunus (3 Mei 1903 – 14 April 1979)  adalah putra Haji Muhammad Anis dan ibu Siti Saudah binti H.Syu’aib. Haji Muhammad Anis adalah seorang Abdi Dalem Kraton Ngayogyokarto dan masih keturunan dari raja Brawijaya V.  Sejak kecil beliau telah mendapatkan pendidikan Alquran dan akhlak dari orang tua dan datuknya sendiri 
Putra Kauman Yogyakarta ini memeroleh pendidikan dari Sekolah Rakyat Muhammadiyah Yogyakarta, lalu Sekolah Al Atas, dan Sekolah Al Irsyad di Jakarta di bawah asuhan Syekh Ahmad Syurkati.
Muhammad Yunus Anis masuk persyarikatan Muhammadiyah tahun 1925. Ketika  belajar di Batavia (Jakarta) beliau telah menjadi Pengurus Cabang Muhammadiyah Batavia (1924 – 1926) dan merangkap Ketua Bagian Pustaka (sekarang Majelis Pustaka & Informasi).
Setelah itu,  beliau bertugas sebagai anak panah  Muhammadiyah ke berbagai daerah dan pernah tinggal di Kudus dan Bondowoso.
Ketika beliau menjadi Sekretaris Pengurus Besar Muhammadiyah sering keliling ke cabang dan ranting di Jawa dan luar Jawa. Pada saat  bertugas sebagai guru Muhammadiyah di Alabio Kalimantan Selatan, beliau sempat mendirikan sekolah yang diteruskan oleh Bakri Sujak. 
Kemudian  ketika  beliau melaksanakan tugas-tugas persyarikatan di Sumatera bersamaan itu pecah Perang Dunia II pada tahun 1939 – 1945. Hal ini juga memengaruhi pelaksanaan program persyarikatan.  
Beliau dikenal sebagai da’i yang komunikatif, humoris, dan menguasai  materi. HM Yunus Anis telah ikut membesarkan Muhammadiyah dengan perannya sebagai pengurus Cabang Muhammadiyah Cabang Jakarta (Batavia). Selama beberapa kali kepengurusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, beliau dipercaya duduk dalam berbagai posisi kepemimpinan. Pada masa kepemimpinan Ki Bagus Hadikusumo (1942 – 1953) , Yunus Anis dipercaya sebagai Sekretaris. Ketika A.R. St. Mansur sebagai Ketua PP Muhammadiyah (1953 – 1959), Yunus Anis menjabat sebagai Sekretaris Jendral. Kemudian pada periode 1959 – 1962, beliau dipercaya sebagai Ketua dan K.H. Badawi sebagai Wakil Ketua I . Pada kepemimpinan H.Ahmad Badawi sebagai Ketua (1962 – 1968) maka Yunus Anis dipercaya sebagai Penasehat bersama H. Muchtar dan Sutan Mansur.  
Yunus Anis memiliki andil besar dalam kelahiran Kepribadian Muhammadiyah. Dalam pidato iftitah Muktamar Muhammadiyah ke 35 di Jakarta tahun 1962, beliau menjelaskan tentang kedudukan dan sifat Muhammadiyah antara lain:
  1. Muhammadiyah adalah persyarikatan gerakan agama Islam yang memiliki bidang kemasyarakatan;
  2. Muhammadiyah yang selalu amar ma’ruf nahi munkar untuk kebaikan masyarakat seluruhnya;
  3. Muhammadiyah menghargai dan dapat bekerjasama dengan segala pihak, organisasi dan partai apa saja namanya, yang menghargai dan memaklumi cita-cita Muhammadiyah.
 Semasa kepemimpinannya , beliau telah mengorbitkan  sejumlah nama wanita untuk duduk dalam kepengurusan Muhammadiyah yakni; Prof. Baroroh Baried Ishom, Siti Aminah Dahlan, Siti Zainab Damiri, Siti Badilah Zuber, dan Siti Aisyah Hilal.
            Di tengah-tengah kesibukannya sebagai tokoh Muhammadiyah dan Imam Tentara, beliau meluangkan waktu untuk menulis buku. Diantara buku-buku yang ditulisnya adalah: 1) Kitab Shiyam; 2) Kitab Takbir (tulisan Arab); 3) Risalah Siti ‘Aisyah (berbahasa Jawa berhuruf Arab/Pegon); 4) Risalah Shalat Ied di Tanah Lapang; 5) Sejarah Maulid Nabi Muhammad s.a.w.6) Pelajaran Propaganda; 7) Pelajaran Administrasi Muhammadiyah; 8) Manasik Haji; 9) Riwayat Hidup H. Ahmad Badawi; 10) Riwayat Hidup H. Fakhruddin; 11) Wanita Berbicara dengan bahasa Alquran; 12) Riwayat Hidup Nyai Dahlan; 13) Bahasa Arab Sehari-hari
(Lasa Hs)

0 komentar:

Posting Komentar