Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Rabu, 02 Oktober 2019

BADAWI, Ahmad (5 Febrari 1902 - 25 April 1969)


BADAWI, Ahmad (5 Febrari 1902 -  25 April 1969) adalah putra K.H. Muhammad Fakih (K.H. Habiburrahman) dengan N. Sitti Habibah (adik kandung K.H. Ahmad Dahlan). Putra Kauman Yogyakarta ini masih keturunan Panembahan Senopati. Beliau belajar agama dari ayahnya sendiri, kemudian pendidikan formalnya dimulai dari Madrasah Muhammadiyah (1908 – 1913).Madrasah ini kemudian berubah menjadi Standardschool, lalu menjadi Sekolah Rakyat (sekarang sekolah dasar) yang didirikan oleh K.H.Ahmad Dahlan. Kemudian pada tahun 1913 – 1915 beliau belajar kepada K.H. Ibrahim di Pondok Pesantren Lerab Karanganyar. Setelah selesai belajar dari pondok ini, lalu belajar ke Pondok Pesantren Termas di bawah asuhan K.R.H. Dimyati. Untuk menambah pengetahuan ilmu agama Islam, beliau belajar lagi di Pondok Pesantren Besuk Wangkal Pasuruan.  Dari sini ia lalu belajar lagi ke Pondok Pesantren di Kauman dan Pandean Semarang
            Pada awal kemerdekaan Republik Indonesia, beliau terlibat dalam pergerakan politik perjuangan bangsa. Pada masa perjuangan ini, beliau bergabung dalam Angkatan Perang Sabil (APS) dan pernah beroperasi di Sanden, Bantul Tegalayang, Bleberan, dan Kulon Progo. Pada tahun 1947 beliau diangkat sebagai Imam III Angkatan Perang Sabil. Beliau juga pernah menjadi anggota Lasykar Rakyat Mataram dan bergabung dengan batalyon Pati dan Resimen Wirata MPP Gedongan.
            Pada masa kepemimpinannya, Muhammadiyah agak tersendat antara lain disebabkan bahwa tidak sedikit anggota Muhammadiyah yang menjadi anggota partai Masyumi. Pada saat itu Muhammadiyah menjadi bidikan Orde Lama. Sikap ini dipengaruhi oleh gosokan-gosokan orang-orang Partai Komunis Indonesia (PKI). Orang-orang komunis itu membuat isu bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang anti Pancasila, anti Nasakom, dan pewaris Darul Islam/DI Tentara Islam Indonesia/TII. Hal ini dianggap bahwa Muhammadiyah sebagai batu sandungan keinginan PKI dan antek-anteknya. PKI selalu memusuhi Islam dan sering menohok dari belakang. Tentunya kita ingat Peristiwa Madiun, G 30 S/PKI pada September 1965. PKI saat itu sangat licik dan berusaha dekat dan memengaruhi Bung Karno serta menyebar fitnah bahwa beberapa tokoh Muhammadiyah (Hamka, Kasman Singodimedjo, Ghazali Sahlan dll) ditangkap dan dipenjara pada masa pemerintahan Orde Lama.
            Memperhatikan kondisi yang gawat dan membahayakan Muhammadiyah ini, maka pimpinan Muhammadiyah berusaha mendekati Bung Karno. Alhamdulillah, usaha ini berhasil antara lain dengan diangkatnya Kiyai Ahmad  Badawi sebagai penasehat Bung Karno. Kedekatan beliau dan Muhammadiyah dengan kekuasaan ini akan menjadi penyeimbang kekuatan politik saat itu. Pada masa itu terdapat 3 (tiga) partai besar  yang sangat berpengaruh yakni Partai Nasional Indonesia (PNI), Nahdhatul ‘Ulama (NU), dan Partai Komunis Indonesia (PKI). Kiyai Badawi tidak hanya membela Muhammadiyah, tetapi juga berjuang membela umat Islam dan organisasi Islam. Beliau juga berhasil memengaruhi Bung Karno saat itu untuk tidak membubarkan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
            Sumbangsih beliau pada Muhammadiyah cukup besar antara lain bahwa beliau berulang kali duduk dalam jajaran kepemimpinan PP Muhammadiyah. Kedudukan beliau itu antara lain; sebagai Ketua, Wakil Ketua, Ketua Majelis Tarjih dan Ketua Majelis Tabligh. Beliau juga ahli falak yang dimiliki Muhammadiyah dan dikenal sebagai pendiri Pendidikan Ulama Tarjih Muhamadiyah (PUTM).
            K.H. Ahmad Badawi wafat di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah pada hari Jum’at 25 April 1969 lalu dimakamkan di Karangkajen berdekatan dengan makam K.H. Ahmad Dahlan.
Beliau juga meninggalkan kekayaan intelektual antara lain berupa buku-buku; 1) Hitungan Dengan Jalan Yang Ke 1 (1940); 2) Cara Menghitung Hisab Hakiki; 3) Gerhana Bulan (1960); 4) Pengadjian Rakjat; 5) Nuklan Syu’abul Iman (bahasa Jawa); 6) Nikah; 7) Manasik Haji; 8) Menghadapi Orla; 9) Jadwal Waktu Shalat untuk Selama-lamanya.
Beliau wafat pada hari Jum’at tanggal 25 April 1969 di Rumah sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta.
(Lasa Hs)

0 komentar:

Posting Komentar