Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Kamis, 20 Februari 2020

MAKNA IKHLAS : Tulisan – 1





Kata ikhlas  berasal dari bahasa Arab khalasha bentuk akar katanya adalah khulushon atau khalashon  yang berarti jernih dan bersih dari pencemaran. Misalnya ada kata khalashus saminu berarti samin yang murni. Kata khalasha bisa juga diartikan dengan selesai, misalnya kata khalashtu berarti aku telah selesai (mengerjakan sesuatu). Maka kata ikhlash menunjukkan pengertian bersih, jernih, dan suci dari campuran dan pencemaran. Sesuatu yang murni itu berarti bersih tanpa campuran, baik bersifat materi maupun non materi. Hal ini berarti bahwa perbuatan ikhlas itu adalah perbuatan yang betul-betul mengharap ridha Allah dan bersih dari berbagai kepentingan.Semua kegiatan itu bukan sekedar kepuasan hawa nafsu, tetapi dilakukan semata-mata demi Allah. “Katakanlah, sesunguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah semata, yakni Tuhan Semesta Alam”.(Q.S. Al An’am: 162).
Kata ikhlas memang mudah diucapkan tetapi sulit dilaksanakan. Namun demikian bukan berarti bahwa yang sulit itu tidak bisa dilaksanakan. Sebab sering terjadi bahwa apa yang sulit bagi orang lain, maka belum tentu sulit bagi kita. Sebaliknya, ada sesuatu yang sulit bagi kita, tetapi ternyata sangat mudah bagi orang lain.
Jiwa yang ikhlas sebenarnya merupakan implementasi dari buah iman yang kokoh. Adanya iman yang kokoh akan mendorong seseorang untuk melakukan kegiatan yang manfaat pada dirinya dan pada pihak lain. Perbuatan yang ikhlas merupakan perbuatan yang digerakkan oleh hati sanubari yang bersih dan tidak dicampuri oleh nafsu yang buruk (sayyiah).
          Niat berbuat ikhlas ini memang tersembunyi sebagaimana tersembunyi perbuatan buruk pada diri seseorang. Sebab memang sebagian besar manusia itu suka menutupi kekurangan diri. Maka menutupi atau tidak menampakkan amal baik inilah termasuk tanda-tanda ikhlas. Dalam hal ini Yahya bin Mu’adz menyatakan bahwa ikhlas itu memisahkan amal saleh dengan aib sebagaimana perbedaan susu dan darah (Ihya’ Ulumuddin jaz 4: 366).
Dengan demikian, maka pribadi yang ikhlas itu dapat diumpamakan orang yang membersihkan beras dari kerikil-kerikil kecil. Beras yang telah dibersihkan dari kerikil-kerikil itu apabila dimasak tentunya rasanya enak. Demikian halnya dengan perbuatan ikhlas, tentunya akibat perbuatan itu akan dirasakan enak oleh orang lain dan yang berbuat. Sebab apa yang diperbuat itu dilakukan dengan lilo legowo.
Bersambung

Lasa Hs<

0 komentar:

Posting Komentar