Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

MOMEN

Jumat, 14 Februari 2020

MOTIVASI dan PRESTASI : Tulisan - 2



Pada masa pemerintahan ’Umar bin Khathab r.a. terjadi peperangan antara umat Islam melawan orang kafir Persia. Pada saat itu khalifah ’Umar bin Khathab berhasil mengumpulkan 14.000 pasukan sabilillah. Peristiwa yang terjadi pada tahun ke 14 Hijriyah itu juga diikuti oleh Khansa’ bin Amran dan keempat anak-anaknya yang semuanya laki-laki. Khansa’ adalah seorang janda dan penyair terkenal sehingga kata hariannya bernada syair dan berisi fatwa berharga.
Sebelum maju perang, Khansa’ memberikan motivasi dan semangat kepada keempat putra-putranya itu. Kata-kata itu artinya:”Wahai putra-putraku, kamu sekalian telah memilih Islam dengan ridha dan penuh kesadaran. Demi Allah yang tiada Tuhan selain Allah, sesungguhnya kamu sekalian adalah putra-putra dari seorang laki-laki dan wanita. Aku tidak pernah mengkhianati ayahmu. Aku tidak pernah menjelek-jelekkan saudaramu yang lain. Aku juga tiak pernah mengubah persahabatan kamu. Kamu sekalian telah mengerti pahala yang disediakan oleh Allah untuk kaum muslimin yang memerangi orang-orang kafir. Ketahuilah wahai putra-putraku bahwa kampung yang kekal itu lebih baik daripada kampung yang fana”. Kemudian Khansa’ menyitir ayat Al Quran yang artinya :”Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntng”. (Q.S. Ali ImranL 200)
          Sejenak, Khansa’ terdiam lalu melanjutkan nasehatnya.:” Kalau kalian bangun esok pagi dalam keadaan selamat, maka keluarlah untuk berperang melawan musuh-musuh Allah. Gunakan semua pengalamanmu dan mohonlah pertolongan kepada Allah. Apabila kalian melihat api peperangan semakin berkobar, maka masuklah ke tengah-tengah kobaran perang itu. Raihlah puncak kobaran perang itu, semoga kalian mendapatkan kejayaan dan balasan yang terbaik di kampung yang abadi kelak”.
Mendengar nasihat ibunya yang bijak itu, keempat anak itu melangkahkan kaki dengan mantap maju ke medan perang. Di tengah-tengah kecamuknya peperangan itu, keempat bersaudara itu saling memotivasi dalam memperjuangkan kalimat-kalimat Allah. Mereka bertambah semangat ketika melihat pedang mengkilat. Tekad merekapun semakin kuat ketika melihat darah muncrat. Merekapun menggebu-gebu ketika melihat mayat-mayat terkapar beku membisu.
Setelah perang usai, orang-orang kafir Persia menderita kekalahan dan umat Islam mendapat kemenangan yang gemilang. Kemudian dilakukan pendataan para syuhada’ yang gugur di medan perang itu. Dari pendataan ini diketahui bahwa keempat putra Khansa’ gugur di medan perang sabilillah itu. Begitu mendengar kabar tentang putra-putranya gugur di medan perang itu, Khansa’ tetap tenang. Beliau berdo’a :”Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku dengan mensyahidkan putra-putraku. Aku berharap dari Tuhanku agar Dia mengumpulkan aku dan mereka di tempat tinggal yang abadi dengan rahmatNYa”. Dari peristiwa ini kemudian penyair ini lebih dikenal dengan sebutan Khansa’ binti Amru Ummu Syahid.
Orang-orang yang bermotivasi tinggi adan maju selangkah bahkan beberapa langkah dari orang lain. Mereka biasanya memiliki ciri khas seperti ambisius, kerja keras, kreatif, berani bersaing, tekun dalam peningkatan kedudukan sosial, dan menghargai produktivitas. Mereka adalah pemberani. Pemberani selalu siap menghadapi kegagalan dan siap menang.
Orang-orang yang berprestasi selalu berusaha untuk mencari keunggulan meskipun keunggulan itu diri sendiri. Mereka yang memiliki dorongan berprestasi ini biasanya memiliki kecakapan-kecakapan :
a.     Berorientasi pada produk dan bukan sekedar mengejar status;
b.    Menyukai tantangan danberani mengambil resiko;
c.     Memanfaatkan informasi dalam pengambilan keputusan
d.     Terus berusaha untuk meningkatkan kinerja.
Sebaliknya, orang-orang yang achievement  motivasinya rendah, maka orang semacam inibiasanya kurang menghargai produktivitas, kurang kreatif, apatis, lesu darah, dan tidak punya tujuan yang jelas. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa penakut itu mati seribu kali, tetapi pemberani hanya mati sekali. Penakut, sebelum mati beneran, pada hakikatnya sudah mati nyalinya karena tidak berani berbuat sesuatu. Akhirnya ide dan pikirannya terkubur bersama ketakutannya. Dengan demikian dapat diibaratkan bahwa penakut itu mati (kalah) sebelum perang. Padahal hal mati (kalah) setelah berperang (berlomba, bersaing, kompetisi) lebih terhormat daripada mati sebelum berkompetisi. Penakut adalah orang yang gagal dan selalu menerima menjadi orang yang kalah pasrah sebagai warga yang terpinggirkan.
(Habis)

Lasa Hs.