Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Minggu, 09 Februari 2020

PENULIS ITU PENGONTROL


                                 

Penulis adalah sosok manusia yang memiliki kepekaan dan sikap kritis terhadap fenomena sosial, ekonomi, ilmu pengetahuan, budaya, politik, dan pendidikan. Mereka peka dan bersikap kritis terhadap “teks kehidupan” baik yang tersurat maupun yang tersirat. Dengan nuraninya, penulis cepat bereaksi untuk menilai dan mengontrol fenomena tersebut. Mereka bicara melalui tulisan yang seolah-olah gelisah dan resah melihat fenomena itu. Karya-karya mereka dapat dijadikan sebagai media control terhadap fenomena yang terjadi saat itu.
          Dalam bidang budaya dapat dibaca buku Slilit Kiyai (Emha ‘Ainun Najib), Robohnya Surau Kami (A.A.Navis), Siti Nurbaya  (Marah Rusli) dan lainnya. Di bidang politik dapat disimak buku-buku Siapa Manabur Angin Menuai Badai, Politik Dasamuka, Indonesia Menggugat, Sarinah, Melangkah Dipaksa Sejarah dan lainnya. Tidak sedikit diantara penulis-penulis itu mampu melahirkan karya besar dari hasil renungan, kepekaan, dan penghayatan yang dalam. Bahkan penulis itu sering terlibat langsung dalam fenomena penderitaan budaya, ekonomi, sosial, dan politik.
Karl Marx menulis buku Das Capital ketika ia hidup miskin, menderita, dan kaum buruh dieksploitasi kaum borjuis. Tan Malaka menulis buku Mandilog  ketika ia dihimpit kemiskinan dan sakit parah. Shiyali Ramamrita Ranganathan, seorang pustakawan India yang menemukan Lima Hukum Ilmu Perpustakaan (Five Laws of Librar Sciences) itu menulis karya kepustakawanan dalam keadaan sakit lumpuh.
Demikian halnya dengan Prof. Dr. HAMKA, ulama besar, budayawan terkenal itu menyelesaikan penulisan Tafsir Al Azhar (30 juz) ketika beliau berada dalam tahanan pemerintahan Bung Karno. Tahanan penjara itu dengan tuduhan, bahwa Buya Hamka akan melakukan kegiatan subversi terhadap pemerintahan. Ternyata tuduhan itu tidak dapat dibuktikan. Hidup di penjara selama dua setengah tahun itu ternyata memberikan hikmah mampu menulis buku. Tetapi yang di luar penjara atau tidak dipenjara ternyata  tidak mampu/mau  menulis buku.
Tentang tafsir ini, Prof. Dr. James Rush (guru besar sejarah Universitas Yale) berkomentar :”Studi dari tulisan Hamka tentang kepercayaan dan pengetahuannya yang mendalam tercermin secara dramatis dalam keberhasilannya meyusun tafsir yang lengkap. Untuk masyarakat Indonesia yang sedang berkembang, ia merupakan tiang penyangga. Ia mengharapkan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat Islam, masyarakat yang aman, damai, dan modern sebagaimana diungkapkan dalam bukunya Di Bawah Lindungan Ka’bah.
(Lasa Hs) 

0 komentar:

Posting Komentar