Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

MOMEN

Senin, 16 Maret 2020

K.h Abdullah : Consoel Moehammadijah Celebes Selatan 1931-1938



K.H. ABDULLAH  (1895-24  April 1944), lahir di Maros, adalah putra Abdur Rahman dan Ibu Halimah. Semula ia belajar agama Islam kepada ayahnya sendiri. Setelah remaja, Abdullah  belajar kepada Petta Kalie di Maros. Setelah dewasa, ia menunaikan ibadah haji dan menetap di Makkah selama 10 tahun untuk memperdalam agama Islam.  Di Makkah ini, beliau menikah dengan Fatimah, asal Maros yang saat itu juga  menunaikan ibadah haji

Setelah merasa cukup belajar di Makkah, lalu Abdullah pulang ke Tanah Air dan tinggal di Kampung Butung Makassar. Dari sini, beliau mengajar, bersilaturrahmi, dan berkenalan dengan orang-orang dari Jawa yang memahami  Muhammadiyah.  Melalui interaksi ini, beliau dan sahabatnya bernama Mansyur Al-Yamani menjadi anggota Muhammadiyah.

Atas inisiatif Mansyur, maka diselenggarakan pertemuan di rumah Haji Muhammad Yusuf Daeng Mattiro. Pertemuan malam tanggal 15 Ramadhan itu melahirkan  Muhammadiyah  Group Makassar, K.H. Abdullah sebagai Vorzitter. Satu tahun kemudian Muhammadiyah Group Makassar menjadi Cabang, dan Muhammadiyah semakin berkembang. K.H. Abdullah menjadi Koordinator Muhammadiyah untuk daerah-daerah Campalagian, Batu-Batu (Soppeng), Tabbaa, Lampoko Sengkang, Labbakang, Maros, dan lainnya

Sejak terbentuknya cabang pada 1927 lalu digelar Konferensi Muhammadiyah pertama pada tahun 1928 di Makassar, dan muktamar kedua tahun 1929 di Sengkang, ketiga tahun 1930 di Majene, ke empat tahun 1930 di Bantaeng, ke lima pada tahun 1931 di Labbakkang, dan ke enam pada  tahun  1932 di Palopo. Pada konferensi ke enam ini, K.H.Abdullah dipercaya sebagai Konsul Muhammadiyah Celebes  Selatan  pertama kali.

Pada masa kepemimpinan beliau  selama 11 tahun, yakni selama 4 (empat) tahun sebagai voorzitter cabang dan selama 7 (tujuh) tahun sebagai konsul, K.H. Abdullah berhasil memajukan Muhammadyah di Celebes Selatan. Beliau meninggal dunia menjelang shalat dhuhur bersamaan dengan serangan bom Belanda terhadap kapal-kapal yang sedang berlabuh di pelabuhan Makassar

Lasa Hs.