Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

MOMEN

Kamis, 05 Maret 2020

SOEHARTO : BIBIT MUHAMMADIYAH Tulisan – 2



        Hubungan Jenderal Soeharto dengan para kiyai Muhammadiyah pun akrab. Kalau berembug dengan kiyai Muhammadiyah ia dikenal rasional sekaligus menampakkan rasa hormatnya. Ketika suatu hari Panitia Rehabilitasi Masyumi mendatanginya, ia pun menyambut dengan baik. Kiyai Muhammadiyah yang membidangi Lembaga Hikmah bersama tim, waktu itu menginginkan agar Partai Masyumi direhabilitasi karena tidak pernah bersalah kepada Republik ini. Pak Harto menolak permintaan, tetapi tidak asal menolak. Pak Harto bertanya:”Bapak-bapak, sebenarnya apa yang ingin diperjuangkan oleh Bapak-bapak dari Muhammadiyah ini ?”. “Kami ingin ada suasana yang Islami dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat. Untuk itu perlu adanya tempat ibadah yang banyak sebagai tempat untuk membina kehidupan Islam tersebut”. Jawan Kiyai Muhammadiyah.
            ‘Baik kalau begitu saya akan membuat kebijakan membangun masjid dan mushala di stasiun, di terminal, di bandar udara, di pelabuhan, di sekolah, di kampus, dan di kantor-kantor pemerintah” Kata Pak Harto.
            Mendengar jawaban itu para kiyai Muhammadiyah pun lega. Dan antara para kiyai Muhammadiyah dan Pak Harto terus terjalin silaturrahmi sehingga kalau ada masalah yang krusial dapat diselesaikan dengan bijak. Termasuk masalah asas tunggal yang dapat diselesaikan oleh Pak AR Fakhruddin dengan Pak Harti dengan sangat arif.
(Mustofa W. Hasyim)
(Sumber Suara Muhammadiyah, 1 – 15 Agustus 2015, edisi khusus Muktamar 47 di Makasar).