Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

MOMEN

Kamis, 16 April 2020

An Nadhafatu minal Iman



Sekitar tahun 1964, Pak AR ditugaskan sebagai MPH (Majelis Pembimbing Haji) . Pada waktu itu perjalanan haji masih menggunakan kapal laut. Pak AR berangkat dari Tanjung Perak Surabaya.
Karena perjalanan jauh dan lama, maka setiap hari diselenggarakan shalat jama’ah kemudian diisi kuliah tujuh menit/Kultum tentang agama Islam, khususnya bagi para calon jama’ah haji. Kira-kira berjalan 3 (tiga) hari, bagian kebersihan awak kapal mengadu kepada Pak AR: “ Pak tolong diberi tahu kepada jama’ah kalau membuang kotoran jangan di washtafel. Saya repot setiap pagi harus membersihkan sak abrek kotoran. “Baik , nanti saya beri tahu” kata Pak AR. Pada malam harinya setelah jama’ah shalat maghrib di mushala kapal, Pak AR mengadakan kultum dengan topik an nadhafatu minal iman. Setelah selesai kultum, Pak AR memberi kesempatan tanya jawab atau usul-usul. Banyak yang tanya dan usul. Diantaranya ada yang usul demikian “Pak AR mbok tempat hajatnya (WC) itu jangan tinggi-tinggi. Saya jadi susah sekali kalau mau buang hajat”. Pak AR tersenyum karena yang dicari ketemu, siapa yang suka buang hajat di washtafel. Malam itu juga Pak AR menemui orang itu dan memberi tahu, kalau washtafel itu bukan untuk membuang hajat, tetapi untuk cuci tangan atau muka, sedang untuk buang hajat ada tempatnya sendiri. Pagi harinya bagian kebersihan kapal menemui Pak AR sambil tersenyum berkata :” Terima kasih Pak AR”  “Terima kasih kembali: Jawab Pak AR memberi senyum.  

Lasa Hs.