Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Senin, 27 April 2020

ATI SEBELUM MATI : Tulisan - 1


                     
                                     
Percaya atau tidak percaya bahwa kematian itu merupakan keiscayaan. Kemanapun manusia pergi atau mau menghindar dari kematian, kalau sudah saatnya mati maka orang tidak bisa mengelak. Kemampuan manusia lari untuk menyelematkan diri kalau sudah sampai jatahnya mati, maka mautpun akan menjemputnya. Namun kalau belum saatnya ajal, maka tertimbun reruntuhan bangunan sehari semalampun tetap hidup. Hal ini diingatkan oleh Allah dalam Al Quran S. Al Jumu’ah: 8: “Katakanlah, Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia Beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.
          Kematian dari satu sisi diartikan pisahnya roh dari jasad sehingga tubuh manusia tidak dapat melakukan fungsinya lagi.Kematian inilah yang dianggap  sebagai musibah besar bagi sebagian orang dalam perjalanan hidup manusia. Namun melupakan kematian merupakan bahaya yang lebih besar lagi.
          Mati dalam arti lain adalah tidak berfungsinya potensi manusia dalam kehidupan ini meskipun roh masih menempet jasad manusia. Seorang politikus yang tidak lagi aktif atau tersingkir dari panggung dan sistem politik, maka bisa dikatakan mati karir (politiknya). Seorang olahragawan yang tidak lagi aktif di bidangnya, entah sebagai pelaku, pengamat, atau penulis bidang olah raga, berarti  juga telah mati profesinya. Demikian pula pemilik ilmu, bidang, dan keahlian tertentu. Apabila mereka tidak lagi berkecimpung dan tidak mengembangkan bidang mereka, maka orang ini sebenarnya telah mati (ilmu, bidang, keahlian, pikiran) dalam hidup (roh) nya. Inilah yang dimaksud dengan “janganlah mati sebelum mati”, atau “jangan mati dalam hidup”
Kematian dalam hal ini adalah ketidakmampuan seseorang atau kelompok untuk memanfaatkan potensi diri bagi kemanfaatan pihak lain. Padahal setiap orang memiliki potensi diri yang bisa berupa harta, tenaga, pengalaman, kekuasaan, ilmu,  dan pengaruh. Potensi ini apabila dimanfaatkan secara optimal akan memberikan makna tersendiri dalam kehidupan. Bahkan dalam jangka panjang dapat mengembangkan potensi orang lain.
Mereka yang tidak mau dan tidak mampu mengoptimalkan potensi diri untuk orang lain, sebenarnya kurang memahami hakekat hidup.. Makna hidup manusia hendaknya tidak kalah dengan makna hidup pohon pisang. Pohon pisang sebelum berbuah, lebih dulu memiliki anakan. Hal ini dapat dipahami bahwa sebelum generasi tua turun panggung dari pentas dunia ini, maka perlu menyiapkan generasi penerus. Setelah anakan pohon pisang ini tumbuh, barulah pohon pisang itu berbuah. Setelah pohon pisang itu berbuah , nanti pada saatnya akan ditebang. Disiniliah makna pohon pisang yang dapat menyiapkan generasi penerus, dan memberi manfaat pada kehidupan sebelum kematian (ditebang).
Pemanfaatan potensi diri ini perlu kesadaran tinggi bahwa hidup harus memberikan makna. Bukankah sebaik-baik orang itu yang mampu memberikan makna/manfaat bagi sebanyak-banyak orang. Apabila orang tidak mau dan tidak mampu memanfaatkan potensi diri secara optimal, maka hal itu merupakan suatu kerugian. Sebab poteni diri itu mati.
Harta yang diburu sejak bangun tidur sampai tidur lagi itu bisa menjadi kenikmatan tersendiri. Namun apabila tidak bisa menyikapinya dengan arif, maka bisa-bisa harta itu justru menjadi malapetaka. Apabila orang mampu memanfaatkan potensi harta sesuai ajaran Islam, maka harta itu akan menjadi kendaraan keselamatan sampai kampung akhirat. Kiranya perlu disadari bahwa harta yang kita makan akan menjadi kotoran, jika diwariskan kadang menjadi rebutan, tetapi kalau disedekahkan/infakkan justru itu yang akan menyelematkan kita.
Mereka yang mengumpulkan harta hanya untuk kepentingan di dunia ini, sebenarnya mereka itu gila harta. Mereka itu tidak cinta harta. Orang gila itu tertawa, menangis,ngomong, teriak-teriak, bahkan menangis sendiri. Artinya pemburu harta itu menikmati dunianya sendiri sambil tertawa, teriak, bahkan menangis sendiri, dan tidak peduli dengan dunia orang lain. Demikian pula halnya dengan orang yang gila harta yang tidak jauh berbeda dengan orang yang gila beneran.
          Lain halnya dengan orang yang betul-betul cinta harta. Harta yang dimilikinya tidak sekedar dinikmati di dunia ini. Sebagian memang untuk memenuhi sekedar kebutuhan hidup di dunia yang hanya sementara ini. Sebagian lagi mereka gunakan sebagai bekal dalam perjalanan yang sangat jauh. Mereka ingin memiliki bekal yang banyak untuk menempuh perjalanan yang sangat panjang nanti.

Bersambung


Lasa Hs

0 komentar:

Posting Komentar