Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Jumat, 01 Mei 2020

IKHLAS BERPUASA


        

Ibadah puasa merupakan bentuk ibadah yang tersembunyi. Artinya pelaksanaan ibadah yang satu ini tidak bisa diketahui orang lain.  Hal ini berbeda dengan ibadah shalat, ibadah haji, umrah, zakat, dan lainnya yang pelaksanaannya diketahui banyak orang. Maka ada kemungkinan dalam pelaksanaan ibadah ini dicampuri hawa nafsu; pamer, riya’, sum’ah, kepentingan jabatan, dan lainnya. Sedangkan dalam ibadah puasa betul-betul suatu ibadah yang menuntut pengendalian hawa nafsu dan berdimensi rohaniah yang tinggi.
Ibadah sembunyi ini dapat ditinjau dari berbagai dimensi, seperti pengendalian hawa nafsu, kesehatan, sosial, ekonomi, dan segi niat/motivasi. Motivasi ibadah akan memengaruhi kualitas ibadah itu sendiri dan pengaruh terhadap kepribadian seseorang. Ibadah mahdhah (seperti puasa) maupun amal shaleh yang dilaksanakan dengan ikhlas akan membentuk pribadi yang betul-betul muttaqin  dan akan memberikan kedamaian dalam kehidupan ini. 
Kata ikhlas  berasal dari bahasa Arab khalasha bentuk akar katanya adalah khulushon atau khalashon  yang berarti jernih dan bersih dari pencemaran. Misalnya ada kata khalashus saminu berarti samin yang murni. Kata khalasha bisa juga diartikan dengan selesai, misalnya kata khalashtu berarti aku telah selesai (mengerjakan sesuatu). Maka kata ikhlash menunjukkan pengertian bersih, jernih, dan suci dari campuran dan pencemaran. Sesuatu yang murni itu berarti bersih tanpa campuran, baik bersifat materi maupun non materi. Hal ini berarti bahwa perbuatan ikhlas itu adalah perbuatan yang betul-betul mengharap ridha Allah dan bersih dari berbagai kepentingan.Semua kegiatan itu bukan sekedar kepuasan hawa nafsu, tetapi dilakukan semata-mata demi Allah. “Katakanlah, sesunguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah semata, yakni Tuhan Semesta Alam”.(Q.S. Al An’am: 162).
Kata ikhlas memang mudah diucapkan tetapi sulit dilaksanakan. Namun demikian bukan berarti bahwa yang sulit itu tidak bisa dilaksanakan. Sebab sering terjadi bahwa apa yang sulit bagi orang lain, maka belum tentu sulit bagi kita. Sebaliknya, ada sesuatu yang sulit bagi kita, tetapi ternyata sangat mudah bagi orang lain.
Jiwa yang ikhlas sebenarnya merupakan implementasi dari buah iman yang kokoh. Adanya iman yang kokoh akan mendorong seseorang untuk melakukan kegiatan yang manfaat pada dirinya dan pada pihak lain. Perbuatan yang ikhlas merupakan perbuatan yang digerakkan oleh hati sanubari yang bersih dan tidak dicampuri oleh nafsu yang buruk (sayyiah).
          Niat berbuat ikhlas ini memang tersembunyi sebagaimana tersembunyi perbuatan buruk pada diri seseorang. Sebab memang sebagian besar manusia itu suka menutupi kekurangan diri. Maka menutupi atau tidak menampakkan amal baik inilah termasuk tanda-tanda ikhlas. Dalam hal ini Yahya bin Mu’adz menyatakan bahwa ikhlas itu memisahkan amal saleh dengan aib sebagaimana perbedaan susu dan darah (Ihya’ Ulumuddin jaz 4: 366).
Dengan demikian, maka pribadi yang ikhlas itu dapat diumpamakan orang yang membersihkan beras dari kerikil-kerikil kecil. Beras yang telah dibersihkan dari kerikil-kerikil itu apabila dimasak tentunya rasanya enak. Demikian halnya dengan perbuatan ikhlas, tentunya akibat perbuatan itu akan dirasakan enak oleh orang lain dan yang berbuat. Sebab apa yang diperbuat itu dilakukan dengan lilo legowo.
        Apabila ibadah puasa dilaksanakan dengan keihklasan, maka efek kepribadian dan rewardnya sangat tinggi. Sebab tinggi rendahnya reward itu tergantung pada tinggi rendahnya niat/moltivasi. Dalam hal ini dapat disimak apa yang tersirat dari sabda Nabi Muhammad saw  yang artinya:” Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan hanya mengharap pahala dari Allah (ikhlas), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni”. (Muttafaq ‘alaih; al Bukhari no. 38, dan Muslim, no. 760).
Ampunan dosa merupakan nilai yang tak terhingga bagi seorang hamba yang penuh salah dan dosa ini. Namun nilai yang tinggi itu tidak begitu mudah didapat, kalau tidak didukung oleh niat/motivasi yang imanan wahtisaban.(iman dan bersungguh-sungguh).
 Kesungguhan ini akan timbul apabila didorong oleh hati yang bersih, ikhlas dan jauh dari kepentingan duniawi. Hal ini lebih jelas dan lebih tegas lagi dinyatakan dalam sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. :” Allah telah berfirman: Semua amal anak Adam (manusia) dapat dicampuri kepentingan hawa nafsu, kecuali puasa.Maka puasa itu melulu untukKu dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Puasa itu bagaikan perisai, maka apabila seseorang sedang berpuasa janganlah berkata keji dan suka menimbulkan keributan. Apabila ada orang lain mencaci makinya dan/atau mengajak berkelahi/berselisih hendaknya dikatakan kepadanya :”Aku sedang berpuasa”. Demi Allah yang jiwaku ada di tanganNya, bau mulut orang yang puasa bagi Allah lebih harum dari bau misik (kasturi). Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembiraan, yakni gembira ketika berbuka puasa dan kegembiraan yang luar biasa  ketika menghadap kepada Tuhannya lantaran menerima pahala/reward puasanya”. (H.R. Bukhari dan Muslim).    
Tidak mudah memang untuk menegakkan keiklasan, sebab manusia itu pada dasarnya adalah makhluk yang lemah. Syetan selalu mengintai manusia. Syetan mengetahui gerak gerik manusia, sedangkan manusia tidak mengetahui gerak gerik syetan. Menyikapi kondisi seperti ini, Sofyan Ats Tsauri ulama terkena  pernah menyatakan :”Sesuatu yang paling sulit bagiku untuk aku luruskan adalah niatku, karena begitu seringnya berubah-rubah.
         
Lasa Hs




0 komentar:

Posting Komentar