Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

MOMEN

Jumat, 01 Mei 2020

MANUSIA dan DERITA



Pada umumnya, orang kepingin hidup senang terus. Rata-rata mereka itu tidak mau menderita. Namun , mereka sering lupa bila suka, mengeluh bila menderita. Manusia kerap lupa bersyukur, abai membersihkan harta, dan lalai menjaga kesehatan. Bila derita menimpa, mereka lupa salah dan dosa.  
Hidup itu naik turun, kadang bahagia dan kadang menderita. Ketika menderita, kadang begitu mudah menyalahkan pihak lain. Sedangkan hidup manusia itu tidak lepas dari cobaan. Cobaan itu ada yang menyenangkan dan ada yang menyusahkan.
Allah swt berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah: 155: ”Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”.
          Dari firman tersebut dapat dipahami bahwa setelah manusia menerima coban, Allah swt menjanjikan berita gembira bagi orang mukmin yang sabar. Bisa jadi setelah cobaan dan derita itu, manusia menyadari salah dan dosanya. Kesalahan itu mungkin dalam ibadah mahdhah seperti ibadah haji/umrah sekedar selfi-selfi. Mereka puasa hanya sekedar gengsi. Mereka infak shadaqah sekedar kebanggaan misalnya. Bahkan suka pamer kekayaan di kala musim penderitaan begini. Begitu pula, bila mereka mendengar   adzan, justru pura-pura tidak mendengar, menyepelekan panggilan Allah swt.  Mereka sibuk dengan kegiatan duniawi; rapat, mengajar, bisnis., bahkan tidur.      
          Ketika manusia dirundung derita, sikap yang ditunjukkan adalah merenung, melamun, diam, sedih, dan emosi tidak stabil. Mereka justru kadang malas ibadah, malas bekerja, dan bisa putus atas.
          Derita yang menimpa manusia tentu memiliki nilai tersendiri. Hal ini tergantung apakah kita meyakini atau tidak. Lebih dari itu, kita hanyalah manusia biasa yang memiliki keterbatasan kemampuan akal dan usaha. Oleh karena itu sebagai seorang mukmin, perlu meyakini kebenaran firman Allah swt bahwa:
1.      Apapun yang diberikan Allah bukan berarti kebencian.
Kenikmatan dan kesusahan yang diberikan Allah kepada kita bukan menunjukkan kebencian. Di balik penderitaan tentu ada kebaikan asal manusia sabar dan mau menyadarinya.
Allah swt menegaskan hal ini dalam Al Quran S. Adh Dhuha: 3 – 5:”Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu. Dan sungguh, di kemudian hari (waktu) akan lebih baik bagi kamu dari permulaan. Dan sungguh kelak Tuhanmu pasti memberikan karuniaNya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas”.
2.     Di  balik kesulitan (penderitaan, kesusahan) tentu ada kemudahan (kebaikan, nilai, hikmah). Hal ini ditegaskan Allah swt dalam Q.S. Asy Syarh: 5 – 6:”Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu (tentu) ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu (tentu) ada kemudahan”.
Hikmah di balik derita itu akan diketahui oleh orang-orang diberikan hukmah kebijaksanaan, hatinya bersih, dan bersikap husnud dzan.
          Ibnul Qayyim mengatakan :”Andaikata kita bisa menggali hikmah yang terkandung dalam ciptaan Allah, maka tidak kurang dari ribuah hikmah yang bisa diambil saripatinya. Namun akal manusia terbatas dan pengetahuan kita terlalu sedikit. Ilmu semua makhluk di dunia ini bukan apa-apa bila dibanding dengan ilmu Allah. Perbandingan itu ibarat lilin di bawah sinar matahari di siang hari. Inipun masih sekedar perkiraan, Adapun keadaan sebenarnya tentu saja lebih dari itu”.
          Sungguh mulia, bila kita menyadari bahwa di balik derita, kita perlu evalusai diri tentang salah dan dosa kita. Kemudian meningkatkan ibadah mahdhah dan kesalehan sosial kita. Dengan sabar, ikhlas, dan tawakkal menerima derita. Dengan terus bangkit mencari solusi atas musibah yang menimpa. Janji Allah menunggu di ujung segala usaha itu.

Lasa Hs