Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

MOMEN

Senin, 04 Mei 2020

MATI SEBELUM MATI :Tulisan – 2




 Kematian tidak hanya menimpa pemilik harta, tetapi bisa juga menimpa pemilik ilmu pengetahuan. Ilmu yang dimiliki seseorang kadang hanya untuk kepentingan sendiri. Sejak kecil, seseorang menuntut ilmu sampai dewasa di dalam maupun di luar negeri. Bertahun  ilmu didapat dan gelarpun diperoleh. Kemudian ilmu itu digunakan untuk mencari kekayaan, mengejar jabatan fungsional atau struktural. Ilmu itu dishare  di berbagai seminar, penelitian, atau dalam bentuk artikel jurnal internasional. Memang apabila dirupiahkan, nilai ilmu itu cukup mahal. Sebab untuk mencarinya menghabiskan uang jutaan bahkan milyaran rupiah. Ilmu mereka itu kadang harus diganti dengan pengejaran jabatan basah untuk memeroleh kehormatan sebagai eksistensi diri.
Dengan ilmu itu pula, mereka bisa mengajar kesana kemari. Mereka kadang pilih-pilih lembaga yang basah. Mereka kadang tidak mau mengajar di lembaga pendidikan yang kering lantaran merasa tidak dihargai. Penghargaan bagi mereka adalah sesuatu yang dilihat mata, dan bukan sesuatu yang dilihat hati. Perilaku ilmuwan dan intelektual seperti ini diperingatkan oleh Rasulullah saw dalam sabdanya :” Siapa yang memelajari ilmu pengetahuan untuk meraih kebanggaan dan kemuliaan dunia, maka orang itu besok pada hari kiamat tidak akan mendapat baunya surga”. (H.R. Abu Daud dari Abu Hurairah r.a.).
          Jaman  selalu berubah dan umur semakin berkurang. Suatu ketika nanti para ilmuwan itu tidak bisa lagi mengkomersialkan ilmunya. Jabatan yang dikejar-kejar pun akhirnya juga lepas dari tangan. Kekuasaanpun sirna bagaikan macan ompong. Saat-saat seperti inilah yang kadang menghantui para ilmuwan yang takut untuk pensiun. Setelah pensiun mau mengerjakan apa ?.
          Ilmuwan yang meninggal dengan meninggalkan rekaman ilmunya, maka ini berarti bahwa mereka hidup (pemikiran) dalam kematian (jasad). Dengan demikian orang lain masih bisa berguru, memelajari, bahkan mengembangkan pemikirannya. Hal ini tentunya berbeda dengan ilmuwan yang tidak meninggalkan karya, jejak langkah yang monumental. Mungkin nama mereka lama kelamaan hilang dari percaturan bidangnya bersamaan dengan pisahnya roh dari jasad.
          Mengenai pengabadian nama, ada yang berpesan kepada keluarganya agar nama . gelar, dan keahliannya ditulis di batu nisan apabila dia teah meninggal. Hal ini dimaksudkan agar orang yang membacanya masih mengagumi kehebatannya dan menghormatinya.Ada pula yang berpesan agar besok kalau sudah mati supaya dibuatkan patung besar sebagai potret dirinya.
          Agar manusia tidak mati dalam hidup ini, kiranya perlu adanya produktivitas sesuai potesi masing-masing. Produktivitas inilah  nantinya yang akan memberikan manfaat setelah seseorang meningga dunia. Betapa banyak orang yang sudah meninggal dunia, tetapi mereka itu seolah-olah masih hidup di antara kita. Pemikiran, teori, dan ajaran-ajaran mereka masih bisa kita pelajari melalui rekaman dan tulisan yang mereka tinggalkan. Firman Allah swt dalam Al Quran S. Al Baqarah: 154 :” Dan janganlah kamu mengatakan bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah , mereka itu telah mati. Sebenarnya (mereka) itu hidup (di aam lain yang bukan alam kita), tetapi kamu tidak menyadarinya”.
          Umur merupakan masa hidup orang yang bisa memiliki nilai positif atau negatif yang bertalian dengan tingkat produktivitas seseorang. Oleh karena itulah, maka untuk memeroleh kualitas produk, kita dituntut untuk bekerja keras (hard work), bekerja efektif, dan bekerja cerdas (smart work). Konsep bekerja keras ini kiranya dianjurkan oleh agama-agama besar dunia dan para tokoh peradaban.
Habis

Lasa Hs.