Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Rabu, 08 Juli 2020

HUKUM PENYELENGGARAAN SHALAT JUM’AT DI SELAIN MASJID Tulisan – 4




Di masa pandemi ini, penyelenggaraan shalat di masjid diharuskan memenuhi protokol kesehatan yang ketat, di antaranya adalah mengatur jarak shaf. Hal itu mengakibatkan daya tampung masjid berkurang. Timbul pertanyaan di masyarakat, bolehkah mengerjakan shalat Jum’at di luar masjid atau di lokasi lain selain masjid ?.
Pada prinsipnya shalat Jum’at idealnya dikerjakan di masjid. Namun demikian, apabila ada keperluan yang mendesak, maka shalat Jum’at dapat dilaksanakan tidak hanya di masjid, tetapi di lokasi lain, seperti di mushala, langgar, tanah lapang, halaman, gedung pertemuan, rumah, ruangan kosong yang telah dipersiapkan untuk tempat ibadah atau tempat-tempat luas lain yang layak. Hal ini didasari oleh beberapa alasan, antara lain:
Pertama
            Lafadz perintah shalat Jum’at yang bersifat umum tanpa mensyaratkan shalat hanya di satu tempat. Hal ini disebutkan dalam Q.S. al-Jumu’ah: 9, yang artinya :” Hari orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”.
Kedua
            Pengertian dari kata ”masjid” yang secara etimologi memiliki arti tempat sujud. Dengan demikian, kata ”masjid” pada hakikatnya tidak terbatas pada masjid yang berupa bangunan khusus untuk shalat semata, tetapi tempat manapun yang dapat dilakukan shalat (sujud) maka dapat berfungsi sebagai masjid. Dalam sebuah hadis disebutkan yang artinya :”Dari Abi Sa’id al-Khudri (diriwayatkan) ia berkata, bahwa Rasulullah saw bersabda :”Bumi ini semuanya merupakan masjid (tempat sujud untuk shalat) kecuali jamban (kamar kecil) dan kuburan” (HR. Al-Hakim)
Ketiga
            Perluasan makna atas lafadz ”masjid” di atas diperkuat oleh perbuatan sahabat Mus’ab bin Umair tatkala menjadi utusan Rasulullah saw ke Madinah setelah Bai’at al-’Aqabah. Dalam keterangan yang dinukilkan oleh Ibnu Sa’ad dalam kitabnya Tabaqat al-Kubra disebutkan bahwa Mus’ab pernah mendirikan shalat Jum’at berjamaa’ah di rumah Sa’ad bin Khaisamah. 
            Mus’ab kemudian menuliskan surat kepada Rasulullah saw untuk meminta izin kepada beliau agar bisa mengumpulkan kaum Anshar yang telah masuk Islam untuk mendirikan shalat. Rasulullah pun mengizinkannya dan menuliskan perintah untuk Mus’ab: cermatilah bagaimana persiapan kaum Yahudi untuk beribadah Sabat. Tatkala matahari tergelincir (masuk waktu dhuhur) bersegeralah engkau menunaikan shalat Jum’at menghadap Allah swt dan berkutbahlah. Maka Mus’ab mengumpulkan para kaum Anshar di rumah Sa’ad bin Khaitsamah sebanyak dua belas orang dan itulah shalat Jum’at pertama kali yang didirikan di Madinah (Ibn Sa’ad, III: 110)


Keempat
            Shalat Jum’at yang dilaksanakan di masjid dalam keadaan seperti sekarang ini dapat menimbulkan kesulitan, karena dituntut adanya pengetatan protokol kesehatan, antara lain pembatasan jumlah akibat dari perenggangan shaf. Sementara itu, salah satu sifat agama Islam adalah selalu menghindarkan  dari kesulitan dan kesempitan. Dalam Q.S. al-Hajj: 78 disebutkan :”Dia Allah) sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan”.
            Tercatat dalam sejarah bahwa memindahkan lokasi shalat hakikatnya pernah diperbolehkan oleh Rasulullah saw kepada sahabat bernama ’Itban yang meminta izin khusus kepada Nabi  saw untuk menjadi imam di rumahnya. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, yang artinya:” Dari ’Itban bin Malik al-Anshari, dia berkata, saya menjadi imam shalat kaum saya, Bani Salim. Lalu saya temui Nabi saw, saya tanyakan kepada beliau, saya tidak bisa terima penglihatan saya, sementara banjir menghalangi rumah saya dengan masjid kaum saya, sungguh saya ingin sekali engkau datang ke rumah saya, engkau tunaikan shalat di rumah saya di tempat yang akan saya jadikan sebagai masjid. Nabi saw menjawab, insyaa Allah saya datang. Pagi menjelang siang yang memanas, Nabi saw bersama Abu Bakar menemui saya. Nabi saw minta izin masuk dan saya mengizinkan. Beliau tidak duduk sampai berkata, di mana engkau ingin saya tunaikan shalat di rumahmu?. Kepada beliau saya tunjukkan tempat yang saya ingin beliau shalat. Lalu Rasulullah saw berdiri untuk shalat. Kami berbaris di bekakangnya. Beliau tutup shalat dengan salam. Kami pun membaca salam (H.R. al-Bukhari)
            Berdasarkan hadis di atas, dapat diketahui bahwa alasan ’Itban meminta keringanan adalah karena adanya kesulitan yaitu gangguan mata dan adanya hujan yang menyebabkan banjir. Sementara ancaman pandemi Covid - 19 tidak lebih ringan daripada alasan yang dikemukakan oleh ’Irban dan direstui oleh Rasuullah saw.
            Dengan demikian, menambah lokasi pelaksanaan shalat Jum’at di selain masjid seperti mushala, langgar, tanah lapang, halaman, gedung pertemuan, rumah, ruang kosong yang telah dipersiapkan untuk tempat ibadah atau tempat-tempat luas lain merupakan hal yang diperbolehkan, dikarenakan adanya kemaslahatan (al-hajah) yang menuntutnya dan adanya masyaqqah melaksanakannya di tempat terpadu yang biasa dilakukan.
            Ketika tingkat bahaya pandemi Covid-19 ini telah dinyatakan mengalami penurunan di beberapa daerah oleh pihak yang memiliki otoritas, maka kegiatan ibadah berjamaah pun dapat dilakukan kembali meskipun dengan menerapkan serangkaian protokol kesehatan yang ketat sebagai bentuk kehati-hatian dan tetap berupaya mencegah penyebaran wabah Covid-19. Hal ini selaras dengan kaidah-kaidah fikih:
            Adhdhoruratu tuqaddaru biqadariha
            (Kemudharatan itu dibatasi dengan kadarnya (al-Asybah wa a l-Naza’ir oleh al-Suyuthi: 84)
            Idzaa dhaqa al-amru ittasa’a waidza ittasa’a dhaqa
            (segala sesuatu, jika sempit maka menjadi luas, dan jika (kembali) luas maka menjadi sempit (Muhammad az-Zubaili, al-Qawa’id al-Fiqriyyah, 1: 272)
            Al-amru idza tajawaza ’an haddihi in’akasa ila dhiddihi
(segala sesuatu apabila melampaui batas, maka hukumnya berbalik pada sebaliknya (Al-Asybah wa a-Naza’ir oleh al-Nu’mah: 72)   

HABIS


Lasa Hs.

0 komentar:

Posting Komentar