Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Kamis, 02 Juli 2020

HUKUM SALAT BERMASKER


HUKUM SALAT BERMASKER
            Tulisan – 2

           Pada dasarnya mendirikan shalat dalam keadaan tertutup wajah tidaklah dianjurkan. Hal ini sesuai dengan hadis berikut:
Artinya:” Dari Abu Hurairah (diriwaatkan) ia berkata:”Rasulullah saw melarang seseorang menutup mulutnya di dalam salat (HR. Ibnu Majah)
          Dalam rangkaian sanad hadis ini terdapat rawi (orang yang meriwayatkan hadis) bernama al-Hasan bin Zakwan yang diperselisihkan kemakbulan riwayatnya oleh para kritikus hadis. Sebagian lebih banyak menganggapnya rawi yang dhaif (lemah) karena sering melakukan kekeliruan, melakukan tadlis dan dalam riwayat hadis ini menggunakan formula ’an’anah (’dari’) . sebagian lain menganggap hadisnya hasan dengan alasan Yahya bin Sa’id, ahli hadis terpercaya, meriwyatkan hadisnya (Mizan al-i’tidal, II: 236-237, nomor 1847).
Dalam hadis ini terdapat larangan menutup sebagian wajah, namun, seandainya hadis ini dipandang makbajarul sesuai pendapat yang menyatakannya hasan, maka larangan tersebut tidak sampai pada hukum haram. Hal ini ditunjukkan oleh Ibnu Majah sendiri yang meletakkan hadis tersebut pada bab Ma Yukrahu fi ash-shalah (hal=hal yang tidak disukai (makruh) dalam shalat. Selain itu, larangan dalam hadis ini pun tidak berlaku umum karena memiliki sebab yang khusus, yaitu agar tidak menyerupai kaum Majusi di dalam beribadah sebagaimana diinformasikan dalam kitab Syarh Sunan Abi Dawud  karya Badr ad-Din al-’Aini.
            Oleh karena itu, menutup sebagian wajah dengan masker ketika shalat berjamaah di masjid atau mushala dalam keadaaan belum bebas dari pandemi Covid – 19 seperti sekarang ini tidak termasuk dalam larangan di atas dan tidak merusak keabsahan shalat. Apalagi pada masa ancaman wabah seperti sekarang ini, masker merupakan salah satu alat pelindung diri yang sangat dianjurkan dipakai ketika berada di luar rumah, termasuk ketika harus ke masjid atau mushala untuk shalat berjamaah. Dengan demikian, masker telah menjadi suatu kebutuhan (al-hajjah) mendasar yang mendesak untuk dipenuhi. Hal ini selaras dengan kaidah fikih al hajah tanzilu manzilah adh-dharurat (adanya suatu kebutuhan menempati kondisi kedaruratan).
(sumber: Suara Muhammadiyah edisi khususTh. Ke-105, Juli 2020)

Bersambung  


0 komentar:

Posting Komentar