Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

MOMEN

Minggu, 13 September 2020

PUSTAKAWAN MUDA BERBICARA

 

WEBINAR NASIONAL

PUSTAKAWAN MUDA BERBICARA :

PELUANG DAN TANTANGAN PROFESI DI ERA DISRUPSI

 

            Pustakawan Muda Berbicara : Peluang dan Tantangan Profesi di Tengah era Disrupsi merupakan tema webinar nasional yang diangkat oleh tim Perpustakaan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi K.H Ahmad Dahlan Lamongan serta disupport oleh Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah. Webinar Nasional ini diadakan pada tanggal 8 September 2020 dengan tujuan untuk memperingati Hari Literasi Dunia atau Hari Aksara Internasional. Kegiatan yang ternyata diikuti oleh lebih dari 1500 peserta dari pustakawan dan  berbagai lini profesi ini telah sukses dilaksanakan melalui Aplikasi berbasis daring yakni Zoom Cloud Meeting dan Youtube STIEKHAD TV pada pukul 09.00 WIB hingga selesai acara pada pukul 12.30. WIB.

 Sebagai pengantar acara, webinar dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Sang Surya yang diikuti oleh para peserta webinar, kemudian dibuka Oleh Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi K.H Ahmad Dahlan Lamongan Dr. Hj. Mu'ah, MM., M.Pd beserta dua Key Note Speaker yakni Drh. Emil Elestianto Dardak M.Sc., Selaku Wakil Gubernur jawa Timur dan Drs. Lasa Harsana., M.Si sebagai Ketua Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah.

Dalam pengantarnya, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi K.H Ahmad Dahlan Lamongan Dr. Hj. Mu'ah, MM., M.Pd menyampaikan bahwa dalam situasi Pandemi Covid-19 ini, perpustakaan diharapkan menjadi pusat dan center informasi masyarakat agar bisa mengikuti perkembangan informasi terkini.

Adapun berikutnya, dalam sambutannya Drh. Emil Elestianto Dardak M.Sc., selaku wakil Gubernur Jawa Timur menegaskan bahwa pustakawan muda atau pustakawan Milenial harus bisa membawa warna baru didalam pengelolaan kepustakaan, diperlukan suatu upaya untuk memperbaiki tingkat literasi agar selaras dengan tingkat gemar membaca. Menurutnya, hal tersebut bertujuan agar masyarakat bisa naik ke satu level yang lebih tinggi dari literate kemudian mahir untuk ber-literasi informasi.

Dilanjutkan dengan pengantar berikutnya oleh Ketua Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah Drs. Lasa Harsana., M.Si yang menekankan bahwa perpustakaan saat ini mau tidak mau wajib untuk berubah demi mesiasati era digitalisasi. Perlu adanya keseimbangan dengan teologi, khususnya nilai-nilai ke-Islaman dan ke-Muhammadiyahan agar memberikan warna-warni pada Kehidupan Perpustakaan.

 

Setelah pembukaan selesai, dilanjutkan dengan materi-materi yang terbagi dalam dua sesi. Disesi pertama pemaparan dilakukan oleh Meri Susanti dan Arda Putri Winata. Disesi Pertama, Meri Susanti menekankan bahwa seorang pustakawan harus mampu bertransformasi, berkolaborasi hingga mampu menjadi trigger dalam menghadapi problem solving. Pustakawan Berprestasi dari Provinsi Bengkulu ini juga menambahkan perlunya pola fikir baru untuk merubah stigma profesi bahwa stereotip pustakawan sudah tidak bisa kesampingkan lagi, sehingga perlu ditanamkan dalam diri masing-masing untuk berniat melakukan perubahan serta selalu ikhlas dalam bekerja.

Sedangkan Arda Putri Winata di materi berikutnya, manyampaikan bahwa pustakawan diharapkan tidak menutup diri dan dilarang takut untuk berkembang, artinya pustakawan harus berani mengembangkan diri, salah satunya dengan memperkaya skill bahasa asing. Perempuan yang pernah meraih gelar Pustakawan berprestasi Nasional ini juga menambahkan pentingnya pustakawan melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak untuk meningkatkan wawasan guna pengembangan aspek multidisiplin ilmu. Hal ini menurutnya agar pustakawan dapat terus berkembang sebagai guardian of information.

             Selanjutnya Disesi Kedua, materi diisi oleh Atin Istiarni dan Fikri Fitrananda. Dalam materinya, Astin mengungkapkan bahwa di tengah era Disrupsi ini pustakawan muda harus lebih terbuka, energik dan aktif baik secara psikis maupun fisik. Menurutnya, hal ini penting untuk sebagai pengembangan mental pustakawan muda. Perempuan asal Kota Magelang ini juga memberikan pandangan bahwa sebagai pustakawan muda penting untuk menjajaki afiliasi profesi pustakawan para senior-senior terdahulu dari berbagai bidang pekerjaan agar dapat menambah wawasan dan sudut pandang baru.

            Berbeda dengan Fikri, di materi terakhir pria yang sedang konsen sebagai pegiat literasi Jawa Timur ini juga telah menyampaikan berbagai sudut pandang dengan cakupan teoritis dan filsafat. Menurutnya, Sebagai pustakawan tidak seharusnya mensimplifikasi persoalan dengan hanya melihat hasil temuan berdasar angka-angka, namun pustakawan juga harus benar-benar mencermati kondisi literasi di tataran grassroot. Sehingga diperlukan upaya dalam memainkan peran knowledge management untuk melakukan filterisasi informasi dan knowledge transfer. Pria yang juga berprofesi sebagai Pustakawan SMP Negeri 2 Glagah Banyuwangi ini juga menegaskan bahwa hal itu penting untuk dilakukan karena perpustakaan sekarang tidak seharusnya terpaku pada ruangan atau jenis-jenis standarisasi yang bersifat legal formal, justru harus lebih berani untuk menerapkan cara dengan instrumen-instrumen yang lebih segar dan diterima oleh kalangan society 5.0, seperti pemanfaatan Youtube, Podcast dan virtual Reality untuk menyentuh masyarakat secara langsung.

            Sampai di akhir acara, kegiatan webinar ini kemudian diakhiri dengan sedikit kesimpulan dari moderator serta ditutup do’a oleh Master Of Ceremony. Setelah acara selesai, Siti Musyarofah S.E, selaku kepala Perpustakaan STIE K.H Ahmad Dahlan mengucapkan terima kasih kepada Para Peserta dan para Pustakawan khususnya, semoga rutin untuk diadakan.