Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

MOMEN

Selasa, 22 September 2020

Trend Webinar di Masa COVID-19

 


Raisa Fadelina

Pustakawan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

 

Sejak diberlakukan peraturan social distancing oleh pemerinta Maret 2020 lalu, segala bentuk perkumpulan massa ditangguhkan. Walaupun perkumpulan tersebut berupa kegiatan yang positif, misalnya rapat, diskusi, workshop, ataupun seminar, tetap dilarang. Bagaimanapun juga, kegiatan harus tetap berjalan seperti biasa. Maka masyarakat berbondong-bondong untuk mengalihkan kegiatannya ke dunia virtual.

Bagi sebagian masyarakat yang ingin menyelenggarakan acara secara resmi, seperti seminar, tidak boleh dilakukan secara tatap muka. Maka, mereka mengalihkan seminar tersebut ke dalam website yang kemudian dikenal dengan istilah webinar. Webinar adalah istilah umum dalam dunia kajian yang merujuk kepada kegiatan seminar yang dilakukan secara daring, menggunakan situs web atau aplikasi tertentu berbasis internet. Biasanya, webinar ini menggunakan sebuah aplikasi berbasis website yang digunakan untuk siaran langsung, seperti zoom, microsoft teams, dan google meets. Di dalam aplikasi tersebut ada pembicara dan peserta acara yang melakukan acara secara virtual. Di sana terdapat daftar hadir, ruang percakapan untuk diskusi, pengaktifan video baik dari segi peserta maupun pembicara, dan fitur lambaian tangan untuk saling menyapa. Di akhir acara, peserta dapat mengisi form sertifikat untuk mendapatkan serifikat sebagai bukti mengikuti acara tersebut. Webinar ini seperti kegiatan seminar pada umumnya, hanya saja dilakukan di dunia virtual.

Salah satu kegiatan yang dialihkan ke dalam bentuk virtual adalah acara-acara di Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah/FPPTMA. FPPTMA telah melaksanakan berbagai macam kegiatan dalam bentuk webinar. Beberapa webinar tersebut membahas tentang tips kepustakawanan dan yang paling banyak diminati adalah bimbingan akreditasi. Acara ini dapat diikuti secara umum, namun untuk bimbingan akreditasi dikhususkan bagi perpustakaan Muhammadiyah dan ‘aisyiyah saja. Akan tetapi, pada hari pelaksanannya banyak masyarakat umum yang mengikuti acara tersebut dikarenakan kebutuhan informasi yang jarang mereka dapatkan. Maka, pengurus FPPTMA menyelenggarakan webinar tersebut bersesi-sesi dari tingkat sekolah hingga perguruan tinggi.

            Dengan adanya webinar di dunia virtual tersebut, masyarakat menjadi hemat biaya dan waktu. Mereka tidak membutuhkan transportasi dan konsumsi. Mereka dapat mengikuti webinar hampir lintas pulau bahkan lintas negara tanpa biaya yang besar. Selain itu, mereka dapat ilmu yang berguna dari berbagai webinar yang diikuti. Biasanya, setiap orang dapat mengikuti webinar minimal 3 kali dalam sebulan karena kemudahan aksesnya. Maka, di masa COVID-19 ini, webinar sangat berkembang pesat.

Melihat banyaknya webinar yang dilakukan masyarakat, ternyata terdapat beberapa kendala yang harus diperhatikan. Misalnya kegiatan webinar ini menguras data internet yang banyak, sehingga masyarakat harus menyediakan data internet lebih banyak dari sebelumnya. Kendala lain juga dirasakan bagi masyarakat yang tinggal di pelosok desa, yang bahkan mereka kesusahan dalam mendapatkan sinyal internet. Dengan itu, aktifitas webinar jadi terganggu dan masyarakat tidak dapat mendengarkan penjelasan dengan sempurna. Hal ini perlu mendapatkan perhatian pemerintah untuk memperhatikan kualitas internet di seluruh negeri.

Bagaiamanapun juga di masa pandemi ini, aktivitas webinar masih menjadi yang terbaik karena tidak membutuhkan kerumunan orang. Aktivitas harus berjalan seperti biasa, tetapi masyarakat harus tetap menerapkan aturan social distancing. Maka, dengan berkembangnya webinar di masa pandemi ini masyarakat harus melek teknologi dan berusaha mempelajarinya jika kurang paham. Hal ini harus dilakukan karena kita tidak tahu kapan pandemi akan berakhir. Kita harus selalu mengembangkan diri agar aktivitas dapat berjalan seperti biasa dengan tetap mematuhi aturan protokol kesehatan.