Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

MOMEN

Jumat, 11 September 2020

ULAMA DAN GERAKAN KAUM INTELEKTUAL SEBELUM KEMERDEKAAN MENENGOK SEPENGGAL PERJALANAN JIHAD KYAI IBRAHIM

 

 

ULAMA DAN GERAKAN KAUM INTELEKTUAL SEBELUM KEMERDEKAAN

MENENGOK SEPENGGAL PERJALANAN JIHAD KYAI IBRAHIM

 

Oleh

Muhamad Jubaidi

jubaidi@umy.ac.id

 

 

            Sosok kyai ibrahim adalah seorang ulama yang memiliki pembawaan  sangat sederhana, hal ini tersurat ketika beliau mendengar pesan wasiat yang disampaikan oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan sebelum wafat, untuk supaya mau dan bersedia melanjutkan tongkat kepemimpinan Muhammadiyah.  kerendahan dan ketawaduan sebagai ulama yang berilmu, hal itu tidaklah langsung diterima dan disanggupi oleh Kyai Ibrahim untuk menanggung amanah tersebut, karena melihat begitu besar desakan dari para sahabat dan juga amanat langsung dari Kyai Ahmad Dahlan untuk kelangsungan eksistensi Muhammadiyah dan mimpi besar menjadi negara merdeka terbebas dari belenggu penjajahan Belanda, akhirnya amanat tersebut diterimanya untuk menahkodai Muhammadiyah setelah pereode pertama yang di ketuai langsung oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan.

            Kyai Ibrahim adalah putra dari K.H. Fadlil Rachma­ningrat, dan merupakan adik kandung Nyai Ahmad Dahlan, Kyai Ibrahim lahir di kampung Kauman Yogyakarta, pada tanggal 7 Mei 1874, pada usia 49 tahun tepatnya pada bulan maret 1923 dalam rapat Tahunan Anggota Muhammadiyah sebagai Voorzitter Hoofdbestuur Moehammadiyah Hindia Timur atau ketua perkumpulan Muhammadiyah pada waktu itu.  Kyai ibrahim kecil belajar mengkaji ilmu Al-Quran sejak usia 5 tahun, yang kemudian atas bimbingan kakak tertuanya yaitu KH. M. Nur, beliau menunaikan Ibadah Haji di usia 17 tahun serta dilanjutkan memperdalam ilmu agama Islam di mekah selama 7-8 tahun.

            Beliau termasuk seorang ulama besar yang cerdas, luas wawasannya, sangat dalam ilmunya dan disegani. Ia hafal (hafidh) Al-Quran dan ahli qira’ah (seni baca Al-Quran), serta mahir berbahasa Arab. Sebagai seorang Jawa, ia sangat dikagumi oleh banyak orang karena keahlian dan kefasihannya dalam penghafalan Al-Qur’an dan bahasa Arab. Pernah orang begitu kagum dan takjub, ketika dalam pidato pembukaan (khutbah al-’arsy atau sekarang disebut khutbah iftitah) Kongres Muhammadiyah ke-19 di Bukittinggi Sumatera Barat pada tahun 1939, ia menyampaikan dalam bahasa Arab yang fasih.(Kyai Haji Ibrahim (Ketua 1923 - 1933) | Muhammadiyah 2020)

            Kyai Ibrahim menikah dengan Siti Moechidah binti Abdulrahman alias Djojotaruno pada tahun 1904. Pernikahannya dengan Siti Moechidah ini tidak berlangsung lama, karena istrinya segera dipanggil menghadap Allah. Selang beberapa waktu kemudian Ibrahim menikah dengan ibu Moesinah, putri ragil dari K.H. Abdulrahman (adik kandung dari ibu Moechidah).  Ibu Moesinah (Nyai Ibrahim yang ke-2) dikaruniai usia yang cukup panjang yaitu sampai 108 tahun, dan baru meninggal pada 9 September 1998. Menurut penilaian para sahabat dan saudaranya, Ibu Moesinah Ibrahim merupakan potret wanita zuhud, penyabar, gemar sholat malam dan gemar silaturahmi. Karena kepribadiannya itulah maka Hj. Moesinah sering dikatakan sebagai ibu teladan.(Suara ’Aisyiyah 1999).

            Sebagai ulama yang dilahirkan di akhir abad-18 dan berkiprah diawal abad ke-19 tentu memiliki dinamika yang sangat luar biasa, Lahir sebagai kaum intelektual terdidik dikalangan keluarga yang berilmu merupakan sudut pandang ilmiah yang tidak bisa dipisahkan ketika beliau besar menjadi seorang ulama yang berkemajuan di zamanya. 

            Pergolakan batin yang disertai akal budi keilmuan sebagai seorang yang alim, Kyai Ibrahim dalam sudut pandang sebagai kaum intelektual pada zaman kolonial Belanda mampu merumuskan beberapa agenda besar sebagai gerakan moral pemersatu bangsa,  sebagaimana hal tersebut dalam analisis Max Weber kaum intelektual dapat dimaknai sebagai seseorang yang memiliki kekhasan mempunyai akses khusus terhadap pencapaian tertentu yang dianggap sebagai nilai budaya, sehingga mampu mencerminkan “kepemimpinan”dari komunitas budaya.”(John L. Esposito dan John O. Voll 2002).

            Yang dimaksud budaya dalam hal ini adalah representasi Muhammadiyah sebagai hasil produk komunitas dari komunikasi orang-orang terpelajar, terorganisir, modern sebagai gerakan moral kaum intelektual muslim diawal abad-19 dikawasan Asia Tenggara.  Melalui Muhammadiyah Kyai Ibrahim, mampu mempunyai peran ganda, disatu sisi menolak segala intervensi kolonial penjajahan Belanda, disisi yang lain dapat menyatu  sesuai  peran dan kedudukanya sebagai organisasi yang hidup bersanding dengan bangsa penjajah, melalui berbagai macam inovasi Kyai Ibrahim mampu merefleksikan pesan Kyai Ahmad Dahlan “Hidup-hidupilah Muhammadiyah dan Jangan Mencari Hidup di Muhammadiyah”, hal tersebut dilaksanakan secara ikhlas semata-mata untuk perjuangan Muhammadiyah sebagai organisasi modern yang mencerahkan serta berdampak lebih luas sebagai tonggak kebangkitan kaum intelektual di Indonesia waktu itu di tengah-tengah cengkeraman penjajahan kolonial Belanda.  Adapun capaian yang mampu di torehkan oleh Kyai Ibrahim diantaranya:

1.      Pada Tahun 1924 mampu mendirikan Fonds Dachlan (atau donatur biasiswa bagi anak-anak miskin yang ingin melanjutkan sekolah baik di sekolah Muhammadiyah maupun sekolahan milik Belanda yang ada di Indonesia)

2.      Pada Tahun 1925 mengadakan khitanan massal, dan juga perbaikan perkawinan untuk menjodohkan putera-puteri keluarga Muhammadiyah sebagai penguatan dakwah kultural dilingkungan Muhammadiyah.

3.      Di masa kepemimpinan Kyai Ibrahim, telah melaksanakan sebanyak sepuluh kali rapat tahunan Muhammadiyah, yang terus menerus memilihnya sebagai Pengurus Besar Muhammadiyah. dan pada tahun 1926, istilah rapat tahunan Muhamadiyah diganti menjadi kongres Muhammadiyah, bertempat di Surabaya sebagai kongres Muhammadiyah ke-5.

4.      Pada tahun 1928 Muhammadiyah mampu mengirimkan anak panah Muhammadiyah sebagai Mubaligh Hijrah ke seluruh penjuru tanah air dari putera-puteri alumni sekolah kader Muhammadiyah Muallimin, Mu’allimat, Tabligh School dan Normaal School.

5.      Pada tahun 1929 bertepatan dalam kongres Muhammadiyah di Solo, Kyai Ibrahim mampu mendirikan badan usaha penerbit buku-buku sekolah Muhammadiyah (Uigeefster My), yang bernaung dibawah majlis Taman Pustaka.

6.      Pada Tahun 1929 terjadi penurunan atau meniadakan gambar Kyai Ahmad Dahlan di lingkungan Muhammadiyah, karena terjadi gejala pengkultusan.

7.      Pada Tahun 1932 dalam Muktamar Muhammadiyah ke-21 di Makasar, Muhammadiyah menerbitkan surat kabar yang pertama  (dagblaad), kemudian diserahkan kepada Pengurus Muhammadiyah Cabang Solo, yang kemudian dinamakan surat kabar Adil.

8.        Kyai Ibrahim selalu terpilih dalam sepuluh kali kongres Muhammadiyah selama pereode kepemimpinanya.  Dalam capaianya Kyai Ibrahim mampu merangkul angkatan Muda Muhammadiyah waktu itu, dengan meningkatkan kualitas takmirul masjid, serta berhasil dalam mendirikan Koperasi Adz-Dzakirat, juga perkembangan ‘Aisyiyah sebagai gerakan pelopor gerakan dakwah perempuan Muslim pertama yang terorganisir, tertip dan kuat.

9.        Dalam bidang pendayagunaan ekonomi kerakyatan dan pemerataan pendidikan untuk kaum pribumi, Kyai Ibrahim bergabung dengan Politieke Economische Bond (PEB), sebuah organisasi yang dibentuk oleh persatuan pabrik gula yang dimiliki Belanda. Tujun PEB ialah untuk mengatur koordinasi dan kerja sama antar-pabrik gula di Jawa Tengah dan Jawa Timur dalam produksi, pemasaran, dan juga dalam aspek sosial-budaya yang ada hubungannya dengan politik-ekonomi pabrik gula. PEB mendirikan perkumpulan dengan nama Jam'iyatul Hasanah yang bertujuan untuk menghimpun guru-guru agama dan membiayai mereka untuk mengajarkan agama Islam kepada buruh-buruh di pabrik gula. Meskipun dari sebagian orang menganggap Muhammadiyah yang telah bekerjasama dengan pemerintah kolonial Belanda waktu itu menyebutnya sebagai antek Belanda, Namun fitnahan tersebut bisa diatasi dengan keterbukaan dalam kepemimpinan KH. Ibrahim dengan mengundang para utusan dari cabang-cabang Muhammadiyah untuk memeriksa keuangan dan notulensi rapat di Pengurus Besar Muhammadiyah di Yogyakarta, dan terbukti bahwa fitnahan tersebut tidak benar. Kepiawaian Kyai Ibrahim dalam memainkan irama Muhammadiyah waktu itu memang jauh melampau batas pemikiran masyarakat kita pada umumnya sehingga peran strategis yang dilaksanakan Muhammadiyah dianggapnya sebagai bentuk penghianatan kepada bangsa sendiri untuk mencapai tujuan bersama yaitu kemerdekaan. (AR Fachruddin 1991).

            Banyak hikmah yang dapat diambil dari sepenggal kisah perjalanan dakwah Kyai Ibrahim sebagai seorang ulama sekaligus ketua organisasi keagamaan Muhammadiyah, Gerak melintas zaman, kreatif,  inovatif dengan berbagai macam terobosan yang mampu beliau torehkan sebelum kemerdekaan memiliki makna tersendiri bagi kami anak-anak muda Muhammadiyah sebagai tamparan keras untuk dapat melihat lebih jauh dan memaknai nilai ke ikhlasan di setiap jalan perjuangan dakwah Muhammadiyah itu sendiri.

            Kyai Ibrahim mampu menginspirasi, membuka pandangan tabu akan pola kekerabatan masyarakat feodal dengan berbagai macam tipologi budaya sehingga terselip peluang dalam berdakwah dan membangun komunikasi antar golongan sebagai awal mula gerakan kebangkitan masyarakat indonesia untuk mencapai tujuan bersama yaitu mewujudkan negara yang berdaulat merdeka dari penjajahan.   

            Menurut, (Edward Shils 1976), beliau berpandangan,

“kerja intelektual bersumber dari keasyikan religius, melalui pengalaman tertinggi atau paling tidak terkandung dalam pengalaman nyata saat ini, karya intelektual cenderung berpikir dengan simbol-simbol keagaamaan, tradisi penghormatan, perjuangan yang sungguh-sungguh untuk berhubungan dengan yang suci mungkin adalah tradisi kaum intelektual yang paling awal, paling luas dan yang paling penting”.

            Penulis sepakat dengan pendapat diatas, bahwasanya untuk mencapai pada tingkatan kerja intelektual, tidak cukup hanya bermodal dengan pendidikan dan kecakapan dalam memainkan peran, namun harus di penuhi nilai riligiulitas yang kuat sebagai pijakan dalam menjalankan tekat maupun usaha, sebagaimana peran tersebut di awal abad ke-19 Kyai Ibrahim telah mencontohkan beliau secara titah dilahirkan sebagai intelektual muslim pada eranya untuk mampu berbuat sesuatu demi keberlangsungan kehidupan yang lebih bermartabat melalui ilmu dan iman.

 

 


 

Daftar pustaka

 

AR Fachruddin. 1991. Catatan AR Fachruddin.

Edward Shils. 1976. The intellectualls and the powers “in rieff, on intellectuals.” Sage.

John L. Esposito, dan John O. Voll. 2002. Tokoh kunci gerakan Islam Kontemporer. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

“Kyai Haji Ibrahim (Ketua 1923 - 1933) | Muhammadiyah.” 2020. Kyai Haji Ibrahim (Ketua 1923 - 1933) | Muhammadiyah. http://m.muhammadiyah.or.id/id/content-157-det-kyai-haji-ibrahim.html (September 6, 2020).

Suara ’Aisyiyah. 1999. “Ibu Teladan.” : 1.