Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

MOMEN

Senin, 05 Oktober 2020

ANTARA KEDAI KOPI DAN PERPUSTAKAAN


Muhamad Jubaidi

Pustakawan UMY

Jubaidimuhamad25@gmail.com


Tulisan ke-1


Perpustakaan dan buku merupakan satu rangkaian kata yang saling terkait dan melengkapi,

keterkaitan ini bagaikan kedai dan kopi. Kedai merupakan kata yang dimaknai sebagai tempat untuk

berjualan dan kopi adalah menu utama yang disajikanya. Kolaborasi keduanya tidak cukup hanya

menempatkan kopi di dalam kedai tanpa ada kemasan sebagai pemikat. Agar kedai dan kopi memiliki

daya tarik, maka kedai mencoba berbenah dan menjadikan singgasana bagi penikmat kopi, aroma pekat

menusuk kedalam sanubari sejenak membuat orang memperhatikan keelokan keduanya hingga

membuatnya jatuh cinta.

Berbicara masalah selera sudah tentu sangat obyektif. Setiap orang akan menaruh hati sesuai

apa yang dirasakan. Artinya kebutuhan akan selera konsumen adalah prioritas dalam sebuah pelayanan.

Pelanggan akan datang tanpa mempertimbangkan soal harga. Bagi mereka yang penting dapat

menikmati kopi di sebuah kedai yang nyaman, jikalau harga secangkir kopi yang harus dibayarkan lima

kali lipat lebih mahal dibanding dengan secangkir kopi yang disajikan di warung kaki lima, hal tersebut

bukan menjadi masalah untuk sebuah nilai kepuasan dari kenyamanan fasilitas yang didapatkan.

Kopi sebagai menu utama yang disajikan tidak lepas dengan inovasi yang disesuaikan pada

selera konsumen. Bukan hanya identik dengan sebuah cangkir, dan baluran bubuk kopi hitam nan

pekat. Kemasan yang mampu dikembangkan adalah dengan menghadirkan varian rasa tambahan dari

khas rasa pahit kopi dalam berbagai macam varian. Rasa kopi hendaknya disesuaikan dengan trend

masa kini yang mampu membangkitkan selera penikmatnya.

Kedai kopi menjadi menarik untuk dibahas jika disandingkan dengan perpustakaan. Keduanya

memiliki persamaan dalam suatu konsep layanan, kiranya perlu pengembangan inovasi untuk

memadukan kopi dan buku.

Perpustakaan akan menarik jika ruangan didesain dengan mempertimbangkan selera pemustaka

pada umumnya, tanpa meningggalkan esensi nilai ergonomi suatu perpustakaan dan fasilitas yang

disajikan, kesan kumuh, pekat, gelap, dan apek mungkin masih tersirat pada generasi jadul di era tahun


90an. Mereka melihat dengan kasat mata hingga menganggap perpustakaan merupakan gudang buku,

dibiarkan begitu saja tanpa ada perhatian untuk dikelola dengan baik.

Tanpa kita sadari, hadirnya berbagai macam kedai kopi yang didesain sangat menarik. Kedai

kopi ini ternyata mampu menyajikan berbagai macam sarana kebutuhan yang dibutuhkan konsumen.

Sajian sarana itu seperti layaknya layanan wifi gratis, jam buka yang lebih panjang, tata ruang alami,

kondisi ini merupakan sebuah tempat pilihan dari sebagian anak muda saat ini dibanding harus ke

perpustakaan dengan berbagai macam syarat dan ketentuan yang harus di penuhi.

Dari persamaan yang ada antara perpustakaan dan kedai kopi mengerucut tiga kata, yaitu

fasilitas, menu dan layanan. Penulis mencoba menganalisa kelebihan kedai kopi yang saat ini menjadi

daya magnet anak muda untuk sekedar datang dan mencobanya. Maka tak heran bila mereka menjadi

ketergantungan, untuk datang dan pasti kembali. Maka perpustakaan dapat menduplikat sebagai

inovasi dan dapat dikembangkan sebagai sesuatu yang unik juga menarik.

Pemahaman paling dasar yang harus difahami dan diperhatikan dalam hal ini adalah konsep

dasar dari perpustakan itu sendiri sebagai penyedia layanan jasa non profit, bukan layanan jasa profit

seperti halnya kedai kopi. Sedangkan untuk melihat keuntungan atau hasil yang diharapkan sudah tentu

berbeda.

Keuntungan itu tidak lagi berbentuk uang melainkan kelayakan dan kenyamanan dari

pengunjung itu sendiri, pengembangan perpustakaan dengan berbagai inovasi sudah tentu dibutuhkan

biaya yang tidak sedikit. Dengan berbagai macam pembenahan perpustakaan diharapkan nantinya

mampu memberikan kenyamanan baik fasilitas, layanan, koleksi, dan keramahan petugas.

Inovasi dapat merubah pandangan orang tentang perpustakaan. Pustakawan layaknya tenaga

ahli harus mampu memberikan semua layanan yang dibutuhkan pemustaka, mereka tidak hanya

bertugas sebatas melihat antara ruangan dan buku. Seperti barista dengan segala keahlian meracik kopi

yang mampu menyesuaikan selera konsumenya, mampu memikat dan memberikan rasa nyaman adalah

sepenggal nikmat kepuasan pelanggan baik di perpustakaan maupun di kedai kopi.


Bersambung.........