Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

MOMEN

Kamis, 01 Oktober 2020

Said Tuhuleley; Tokoh Kemanusiaan

 

Said Tuhuleley; Tokoh Kemanusiaan

Raisa F

Pak Said Tuhuleley merupakan seorang aktivis islam dan berperan besar dalam pengembangan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Beliau lahir di Saparua, Maluku dan meninggal di Yogyakarta pada 9 Juni 2015. Pak Said adalah alumni Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) dan berkhidmat di Persyarikatan Muhammadiyah.  Pada tahun 1984, Ustadz Said Tuhuleley dan temannya Zulkifli Halim yang merupakan kader-kader HMI menjadi yang diperhitungkan setelah bergabung dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Beliau bertugas di Lembaga Penelitian, Publikasi dan Pengabdian Masyarakat (LP3M) UMY. Beliau merintis penelitian jurnal, yakni  Media Inovasi yang mendapatkan pengakuan masyarakat di tingkat nasional.

Ketika di LP3M UMY, Pak Said membuat terobosan dengan melakukan seminar-seminar nasional. Tema-tema dalam seminar yang diselenggarakan LP3M pada waktu itu juga progresif, aktual, dan konstekstual. Melalui Media Inovasi dan topik-topik yang dibahasnya, LP3M dan UMY dianggap responsif oleh publik terhadap persoalan sosial, keagamaan, kebangsaan dan kemanusiaan. Beberapa topik yang pernah menjadi tema besar di awal tahun 2000-an adalah krisis kemanusiaan, krisis lingkungan, pemanasan global, demokrasi, multikulturalisme, dan masyarakat sipil. Dengan topik-topik ini, Pak Said pandai memanfaatkan para tokoh dan akademisi dari Jakarta yang datang ke Yogyakarta untuk menjadi narasumber. Karena seminar nasional banyak dimuat di media massa, nama UMY pun ikut terdongkrak. Pak Dasron Hamid, selaku Rektor UMY sangat mendukung gagasan dan langkahnya, sehingga Pak Said berkarya lebih leluasa.

Sisi yang menonjol lainnya dari diri Pak Said adalah semangat kerja kerasnya. Pak Said adalah dosen tetap Fakultas Agama Islam (FAI) UMY, Pembina Pesantren Budi Mulia, dan ketua (Majelis Pemberdayaan Masyarakat) MPM PP Muhammadiyah. Semua amanat itu dijalankan Pak Said dengan tekun dan serius alias dengan kerja keras. Di FAI UMY, menurut Pak Mahli Zainudin Tago, Pak Said selalu disiplin dan serius mengajar. Dia selalu cermat dalam menyiapkan bahan-bahan kuliah, antara lain dalam bentuk modul untuk tiap mata kuliah yang diampunya. Dia juga dikenal sebagai dosen yang mencermati para peserta didik. Dalam hal ini, dia tidak menoleransi mahasiswa yang ngobrol sendiri-sendiri saat kuliah berlangsung. Baginya, mahasiswa yang fokus saja masih sulit memahami materi kuliahnya apalagi mahasiswa yang suka ngobrol dalam perkuliahan. Pak Said juga dikenal sebagai dosen yang paling tertib mengumpulkan nilai-nilai mata kuliah yang menjadi hak mahasiswa. Tentu hal ini menjadi luar biasa mengingat kesibukannya yang luar biasa pula. Terkait hal ini, Pak Said pernah marah kepada seorang dosen muda yang tidak disiplin mengumpulkan nilai mahasiswa hanya dengan alasan sang dosen sibuk mengurus persyarikatan. Selain bidang akademik, beliau juga sebagai ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat MPM.  Pak Said dikenal sebagai satu-satunya ketua majlis yang berkantor hampir setiap hari. Oleh karena itu, program-program MPM dapat berjalan dengan baik dan beliau dipercaya untuk memimpin majelis ini untuk dua periode (2005-2010, 2010-2015). Belum lagi aktivitas di Pesantren Budi Mulia tempat tinggal beliau sehari-hari.

Saat musim penerimaan mahasiswa baru UMY tiba, Pak Said sering pergi ke sekolah-sekolah membawa brosur dengan mobil tua UMY. Mobil kijang tua itu dia sebut mobil “antipeluru” karena bebas untuk dibawa kemana saja dan tahan gores karena memang sudah jelek. Beliau cukup lama mengoordinasi KKN (Kuliah Kerja Nyata) mahasiswa UMY ketika masih di bawah LP3M. Selama itu, beliau menikmati aktivitas turun dari satu desa ke desa yang lain di wilayah DIY. Bersamaan dengan itu, Pak Said Tuhuleley memanfaatkan pula kesempatan untuk berdakwah yang merupakan kegemarannya. Saat itu, beliau merangkap sebagai anggota Majelis Tabligh PP Muhammadiyah yang ketuanya juga Pak Amien Rais.

Di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, kenang Pak Masyhudi Muqarrabin, Pak Said Tuhuleley pernah menjabat sebagai Pembantu Rektor (PR) III yang sebelumnya dijabat oleh Bapak Musthafa Kamal Pasya. Pak Said meneruskannya melalui pengembangan kemahasiswaan yang lebih dinamis, bukan saja di bidang akademik, melainkan juga di bidang-bidang lainnya. Tercatat pula berdirinya Drum Corps UMY pada tanggal yang sama dengan berdirinya beberapa UKM, seperti Muhammadiyah MultiMedia Kine Club, Senirupa, dan Kelompok Penelitian Mahasiswa, yaitu pada 17 Agustus 1997.

Dalam beberapa tahun terakhir sisa hidupnya, kenang Pak Masyhudi, beliau dapat dikatakan sering masuk rumah sakit akibat kondisi fisik dan kesehatan yang menurun. Beliau tidak pernah merasa lelah dalam memperjuangkan perbaikan nasib rakyat kecil. Beliau menghembuskan nafas terakhir tanggal 9 Juni 2015 di RS Sardjito Yogyakarta. Jenazah almarhum Said Tuhuleley dimakamkan di pemakaman Karangkajen Yogyakarta pada Rabu siang tanggal 10 Juni 2015. Kata-kata khas dan semboyan almarhum akan dikenang dan menjadi sumber inspirasi serta militansi dalam melanjutkan perjuangan memberdayakan masyarakat kecil oleh siapa pun dan di mana pun, yaitu: “Selama rakyat menderita, tidak ada kata istirahat.

 

Sumber; Prihantoro, Agung. 2015. Jejak Langkah Said Tuhuleley. Yogyakarta:Yayasan Shalahuddin Laboratorium Dakwah