Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

MOMEN

Minggu, 01 November 2020

HATI dan MACAMNYA :Tulisan – 2

 


Hati itu Mengerakkan

          Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa hati manusia itu dapat menggerakkan manusia untuk melakukan aktivitas. Hati akan menentukan baik buruknya perbuatan seseorang. Apabila hati itu baik, maka akan baik pula perbuatan seseorang. Baiknya perbuatan seseorang ini akan dirasakan oleh lingkungan dan masyarakat pada umumnya. Sebaliknya apabila hati itu jelek, sakit,dan  kotor maka akan buruk pula akibat perbuatan seseorang. Perbuatan ini akan menimbulkan keresahan, kerusuhan, bahkan anarkhis yang menyengsarakan masyarakat.

            Dalam hal ini, Rasulullah Saw menegaskan dalam salah satu sabdanya yang artinya: Ingatlah, bahwa dalam tubuh manusia ada segumpal daging, apabila daging ini baik, maka baik pula seluruh tubuh. Jika hati itu rusak/sakit, maka rusak/sakit pula seluruh tubuh, ketahuilah bahwa benda itu adalah hati”. (H.R. Bukhari dan Muslim).

           Untuk itu manusia harus mampu menggunakan hati sebagai sarana hidup ini dengan sebaik-baiknya. Sebab penggunaan  perangkat hidup manusia seperti mata, telinga, dan hati harus dipertanggung jawabkan di dunia ini maupun di akhirat nanti. Perbuatan manusia tidak cukup untuk dipertanggungjawabkan di dunia ini. Hidup masih ada kelanjutannya lagi dan mati bukan berarti segelanya selesai. Manusia masih akan mengalami kehidupan selanjutnya untuk mengetahui akibat perbuatannya selama ini. “Allahlah yang Menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa dan Maha Pengampun” demikian Allah menegaskan dalam Q.S. AMulk: 2.

            Dalam hal tanggung jawab perbuatan manusia ini, Allah Swt menegaskan dalam firmanNya yang artinya:” Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya”. (Q.S. Al-Isra’: 36).

            Di era keterbukaan informasi ini kita perlu hati-hati dalam memilih paham, pemikiran, dan tindakan. Jangan sampai hanya ikut-ikutan pada suatu paham, gerakan,  dan apapun namanya justru akan menjermuskan diri kita. Dalam bahasa Jawa perilaku hanya ikut-ikutan saja dikatakan anut grubyuk ora ngert rembug (hanya ikut-ikutan pada (paham, gerakan, kelompok) tetapi tidak memahami substansi (baik buruk, manfaat tidaknya). Sebab ternyaa  tidak sedikit, orang yang terjerumus gara-gara diiming-imingi seratus ribu rupiah. Akhirnya mereka menyesal dan kadung masuk penjara.

            Informasi yang diterima melalui telinga (mendengar) melalui mata (membaca) harus diseleksi dan dipikirkan betul benar tidaknya dan manfaat maupun madharatnya. Sebab di era ini tidak sedikit orang yang mudah dihasut melalui media sosial lantaran adan pesan berantai. Padahal pesan itu belum tentu benar.

            Percaya atau tidak atas kehidupan berikutnya terserah pribadi masing-masing. Sebab masalah kehidupan sesudah mati merupakan masalah gaib. Masalah gaib ini hanya disampaikan oleh orang-orang terpilih dan suci yakni para rasul dan nabi. Apa yang mereka sampaikan itu bukan sekedar hawa nafsu mereka. Apa yang para rasul sampaikan itu betul-betul wahyu dari Allah. Hal ini sebagaimana ditegaskan Allah Swt dalam Q.S. An Najm: 1-5 yang artinya :” Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) itu tidak sesat dan tidak keliru. Dan tidaklah yang diucapkannya  itu (Al-Quran) menurut keinginannya. Tidak lain bahwa (Al-Quran) itu adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Yanag diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat”.     

 

Bersambung