Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

MOMEN

Jumat, 13 November 2020

KRITIKAN

 

KRITIKAN

 

Kritikan itu pahit. Maka kadang orang tidak mau dikritiik. Sikap takut dan tidak mau dikritik itu menunjukkan sikap kurang percaya diri. .Mereka yang tidak mau dikritik itu menunjukkan sikap yang tidak ingin maju. Sebab kita tahu kekurangan orang lain, dan orang lain tahu kekurangan kita. Maka seharusnya kita berterima kasih kalau kekurangan kita ditunjukkan oleh orang lain.

Obat itu memang pahit, namun setelah minum obat Insyaa Allah akan sehat. Demikian halnya dengan kritikan yang memang menyakitkan. Namun di balik kritikan itu akan ada perbaikan.

            Khalifah Abu Bakkar Ashshidiqi sebagai salah seorang sahabat yang sangat dekat  dengan Rasulullah Saw telah menunjukkan sikap terbuka atas kritikan. Sesaat setelah Rasulullah Saw wafat, beberapa tokoh Islam saat itu bermusyawarah untuk memilih seorang pemimpin sebagai pengganti kepemimpinan Rasulullah Saw. Pada saat itu, Umar bin Khattab mengajukan usul agar Abu Bakkar Ashshidiqi dipilih sebagai pemimpin/kepala negara. Kemudian usul itu disepakati oleh para tokoh saat itu. Sesaat setelah terpilih sebagai khalifah, Abu Bakkar Ashshidiqi menyampaikan pidatonya secara singkat.” “Hai kaum muslimin, saya telah diangkat sebagai pemimpin kalian, tetapi aku bukan berarti sebagai orang  terbaik diantara kalian. Maka jika saya benar, maka ikutilah dan bantulah aku. Tetapi kalau aku salah, tolong luruskan. Ingatlah bahwa orang yang lemah diantara kalian menjadi kuat di sisiku, sehingga saya serahkan haknya kepadanya. Dan ingatlah bahwa orang yang kuat di antara kalian menjadi lemah di sisiku, sehingga saya ambil yang bukan haknya dari padanya. Taatilah aku, selama aku mentaati Allah dan rasulNya. Dan jika aku tidak taat, maka tidak ada keharusan bagi kalian untuk mentaatiku”.

            Dari kata-kata yang dilontarkan itu, dapat dipahami bahwa selama kepemimpinan beliau terbuka untuk dikritik dan dievaluasi. Beliau mengakui bukan orang yang terbaik, tetapi sebagai orang biasa yang memiliki kekurangan dan kelemahan.

            Sikap terbuka dan siap menerima saran inipun juga ditunjukkan oleh Khalifah ‘Umar bin Khathab. Pada suatu hari, beliau naik mimbar dan berpidato antara lain menyatakan :” Apa yang akan tuan-tuan perbuat, andaikata saja saya memalingkan kepala saya ke dunia (tidak lurus) ?”. Mendengar pidato itu, lalu muncullah seseorang di antara kerumunan kaum muslimin yang hadir saat itu. Laki-laki itu maju ke depan sambil mengacungkan tangannya bagaikan pedang terhunus dengan berkata “Kalau begitu, pedang kamilah yang akan berbicara”. “Kepada sayakah kata-kata itu ditujukan ?”. tanya Umar bin Khathab. “Memang andalah yang kami tuju dengan ucapan ini “. Sanggah laki-laki itu. Kemudian Umar pun mengatakan “Semoga Allah merahmati anda. Segala puji bagi Allah yang telah menyediakan orang-orang yang akan mengoreksi kesalahan saya”.

            Perkataan itu bukan sekedar basa-basi. Umar adalah orang yang tegas dan terbuka untuk menerima saran dan kritikan dari orang lain. Sebab, memang disadarinya bahwa setiap orang itu memiliki kekurangan dan juga keleihan dari orang lain.

 

Lasa Hs.