Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

MOMEN

Rabu, 18 November 2020

NASIHAT PENDAHULU KITA Ajining diri ana ing lati. Ajining raga ana ing busana

Salah satu nasihat orang-orang tua kita dalam bahasa Jawa :ajining diri ana ing lati. Ajining raga ana ing busana. Artinya bahwa nilai diri itu tergantung pada ucapan/mulut. Nilai jasmani itu dipengaruhi oleh sesuatu yang melekat (dapat dilihat mata) pada diri orang. Busana itu pakaian

          Ucapan, pernyataan, tulisan, dan bahasa yang digunakan menunjukkan siapa sebenarnya diri orang itu. Apabila ucapannya menenteramkan, baik, benar, dan sopan maka orang itu akan dihormati. Bila ucapan seseorang itu menyakitkan, meresahkan, memanas-manasi situasi, provokatif, dan jorok,   maka orang akan risi mendengarnya. Hal ini akan mengurangi wibawa/nilai seseorang dalam masyarakat. Mungkin orang akan membencinya.  Bahkan bisa ditinggalkan oleh simpatisannya.

          Al Quran sebagai petunjuk (hudan) bagi orang-orang yang taqwa memberikan tuntunan untuk berkata dengan kata-kata yang lembut (layyinan), kata yang benar (sadidan), kata yang baik dan pantas (ma’rufan), kata yang indah dan santun (kariman), kata ringkas bermakna (balighan), dan  kata yang komunikatif/mudah dimengerti (maysuran).

          Kata-kata yang layyinan adalah kata-kata yang lembut, sopan, tidak jorok, dan beradab. Kata-kata yang sadidan adalah kata yang mengandung kebenaran isi, tatabahasa, dan redaksionalnya. Kata-kata yang ma’rufan adalah perkataan yang baik dan pantas diucapkan (di muka publik, terbatas, medsos, media cetak, tatap muka). Sebab kata pepatah Arab: likulli maqalin mahalun, walikulli mahalin maqalun. (kata-kata tertentu diucapkan dalam situasi dan konsisi yang sesuai, setiap situasi dan kondisi tertentu memang ada kata-kata yang sesuai).  Kata-kata kariman adalah perkataan yang mengungkapkan sesuatu dengan indah, santun, penuh kemuliaan, pujian, dan sejuk didengarkan. Kata-kata balighan adalah pengungkapan kata yang ringkas dan penuh makna,  dan tidak bertele-tele.

          Rasulullah Saw sebagai panutan kita memberikan nasihat untuk berkata yang baik. Kalau kita memang mengaku sebagai umatnya, semestinya mengikuti nasihat beliau antara lain dengan berkata yang baik. Dalam salah satu sabdanya, beliau menyatakan “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir janganlah menyakiti tetangganya, hendaknya memuliakan tamunya, dan berkata yang baik, (kalau tidak bisa berkata baik) hendaknya diam” (H.R. Sahih al Bukhari dari Abu Hurairah).    

          Wibawa seseorang secara jasmani sering dilihat dengan tingkat ekonomi, status sosial, jabatan, rumah, dan keberhasilan anak keturunan dan lainnya. Maka tidak sedikit dalam pengejaraan nilai lahiriyah ini dengan berbagai cara.

Memang diakui bahwa hal-hal yang kasat mata (lahiriyah)  kadang digunakan sebagai ukuran  eksistensi diri agar bernilai dalam masyarakat.

Pada sebagian komunitas/masyarakat bahwa nilai seseorang secara  lahiriyah (ajining raga) dinilai dari aspek yang tangible (kasat mata). Nilai ini ditengarai sekurang-kurangya dengan garwa (istri/suami), putra (anak keturunan), wisma (rumah/tempat tinggal), turangga (kendaraan/transportasi) ,praja (kedudukan, pangkat, derajat, jabatan),  dan kukilo (burung/hobi) 

          Memang, orang ingin eksis dalam pergaulan dan ini merupakan bentuk pemenuhan aktualisasi dan harga diri. Orang yang memiliki harga diri cukup/tinggi akan percaya diri dan akan lebih produktif. Sebaliknya, orang yang kurang memiliki harga diri akan berakibat bersikap rendah diri, merasa tidak berdaya, keputusasaan, dan perilaku neurotik.

 

Bersambung

 

 

Lasa Hs