Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

MOMEN

Selasa, 02 Februari 2021

NASIHAT PENDAHULU KITA :Ojo mati tanpo aran (jangan mati tanpa meninggalkan nama)

Bagi pecinta wayang (ringgit) purwo, istilah ini tidak asing. Kata-kata ini pasti muncul pada adegan sebelum perang antara raksasana (Buto Cakil, Gendirpenjalin) sebagai lambang kejahatan dengan kesatria sebagai lambang kabajikan dan kebenaran. Kalimat itu mengandung makna filosofi yang dalam bagi yang mau memahaminya. Namun tidak sedikit yang mencomoohnya lantaran ketidaktahuan. Yang penting komentar dulu. Selagi masih berkesempatan komentar.

            Sebagaimana dipahami bahwa hidup ini terdiri dari jasad dan ruh. Ruh sebenarnya merupakan hakikat manusia itu sendiri. Artinya kalau ruhnya rusak/jahat maka rusak/jahat pula hakikat kemanusiaannya. Dalam syair Arab dikatakan faanta binnafsi la biljismi insanun (engkau itu diakui eksistensi sebagai manusia lantaran ruh/jiwa dan bukan lantaran jasmani). Dengan ruh dan jiwa yang berpikir (nafs nathiqah), manusia mengetahui segala sesuatu. Ruh ini dulu berasal dari alam arwah yang keberadaannya merupakan rahasia Ilahi. Sedangkan jasad manusia diciptakan dari unsur materi (maddah) yakni unsur api, tanah, air, dan udara. Dalam hal ini Allah Swt menyatakan yang artinya :”Katakan bahwa ruh itu termasuk urusan Tuhanku dan kau hanya diberi pengetahuan samgat sedikit”(Q.S. Al Isra’: 85).

            Ruh menurut para ahli tasauf dan filosof Islam merupakan sumber kehidupan dan sumber akhlak mulia. Ia adalah sesuatu yang halus, bersih, dan bebas dari genggaman hawa nafsu. Kemudian alam ruh adalah alam yang berada di luar ruang dan waktu empiris yang kita kenal dan jalani selama ini (Hidayat, 2006; 990. Ruh ini memiliki nilai keabadian/tidak mati. Sedangkan jasad manusia terbuat dari materi yang cepat atau lambat akan memiliki keterbatasan beraktivitas alias akan rusak. Artinya pada saatnya nanti kegiatan jasad ini akan terhenti dan itulah yang disebut kematian.

            Ruh manusia akan memiliki nilai keabadian tergantung sejauh mana aktivitas ruh itu melekat pada jasad seorang manusia. Kalau jejak manusia yang ditinggalkannya itu memiliki manfaat yang lebih luas dan abadi, maka itulah makna keabadian yang sesunggguhnya. Dan inilah yang dimaksud dengan ojo mati tanpo aran (jangan meninggal tanpa meninggalkan nama (jasa, amal saleh, ilmu yang manfaat, nilai kejuangan dll). Maka orang-orang yang memiliki jasa besar dalam bidang tertentu, namanya diabadikan menjadi nama jalan atau perguruan tinggi (Jl. Jendral Soedirman, Universitas Jendral Soedirman), nama bandara (Soekarno-Hatta), nama rumah sakit (Rumah sakit Prof. Dr. Sardjito), atau nama masjid (Masjid K.H.Dahlan, masjid A.R, Fachruddin) dan lainnya.

 

Lasa Hs.