SPIRITUAL QUOTIENT : Tulisan – 1

 

       

Spiritual quotient atau kecerdasan spiritual adalah kecerdasan manusia yang bertumpu pada kekuatan hati nuraninya yang penuh kearifan di luar ego mereka. Kecerdasan ini digunakan untuk mendekatkan diri pada Allah Swt. Maka apabila hubungan dengan Allah  (hablum minallahi)  itu baik, maka Insyaa Allah hablum minannasi  akan menjadi baik.

Hati nurani yang dibimbing  hidayat Allah inilah yang akan mampu menerangi diri dan orang lain. Matahati yang jernih akan mampu melihat fenomena dirinya dan mampu memandang batas-batas salah dan benar. Hati seperti ini akan mampu membedakan mana yang halal dan mana yang haram. Semuanya dapat dipandang secara jelas. Maka tidak ada istilah yang suram atau pandangan yang buram. Pandangan yang suram dan buram itu dapat disebabkan matahatinya sakit, sehingga tidak mampu memandang sesuatu dengan jelas. Sebab sebenarnya yang benar dan yang salah itu sudah jelas. Perbedaan yang halal dan yang harampun sudah terang benderang. Dalam hall ini Jalaluddin Rumi seorang ahli sufi Islam pernah menyatakan bahwa matahati itu memiliki kemampuan 70 kali  lebih besar untuk melihat kebenaran daripada indera penglihatan (Agustian, 2001).

          Spiritual konon berasal dari kata spirit  (bahasa Inggris) yang berarti roh. Roh dapat diartikan dengan energi kehidupan. Yakni suatu kekuatan (power)  yang membuat manusia bisa hidup, bergerak, bernafas, dan beraktivitas optimal. Roh ini ditiupkan Allah pada manusia sebagai nafas kehidupan. Hal ini dapat dipahami bahwa roh inilah yang membuat manusia bisa hidup dalam arti luas. Roh ini nanti pada saatnya akan kembali kepada Allah . Sebab kita ini Insyaa Allah akan kembali pada Allah yang waktunya dirahasiakan. Innaa lillaahi wainnaa ilaihi raji’un (Q.S. Al Baqaran: 156).

          Segala kecerdasan itu sebenarnya merupakan kesadaran hati yang paling  jernih hingga bertemunya kebenaran sejati dan mampu membimbing manusia menjadi mahkluk yang paling sempurna (ahsanu taqwim).  Sebaliknya apabila manusia tidak mampu bahkan tidak memiliki kecerdasan spiritual, maka bisa-bisa malah menjadi makhluk yang paling hina (asfala safilin).

          Utuk menjadi cerdas spiritual , maka kita perlu meahami diri kita sebagai makhuk spiritual yang murni, penh kasih sayang, suci, memiliki sifat-sifat Ilahiyah. Kemudian diatara sifat-sifat Ilahiyah ini adalah sifat kasih sayang. Allah itu Rahman dan Rahim yang dengan sifat itu, manusia mendapatkan kehidupan.kebahagiaan, dan keberhasilan lahir batin. Dengan adanya cinta dan kasih sayang ini, maka hal-hal lain seperti kekayaan (wealth)  dan keberhasilan (success) akan tercapai.

Bersambung

 

                                                                             Lasa Hs

0 Komentar