Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Seminar Layanan Prima di UAD

oleh Dr. Muhammad Sulhan,SIP.,M.Si. dan Drs. Tedi Setiadi,M.T.

Munas di solo

Foto bareng pemateri

Rabu, 28 Februari 2018

Pustakawan FPPTMA Kembali Eksis dalam CFP Nasional

Kamis, 1 Maret 2018 secara remis Perpustakaan Universitas Surabaya mengumumkan peserta yang lolos dalam kegitan SEMINAR DAN CALL FOR PAPERS DISRUPTIVE TECHNOLOGY : Opportunities and Challenges for Libraries dan Librarians. Pengumuman resmi tersebut dapat dilihat di laman ini. Alhamdulilah, ada beberapa pustakawan FPPTMA yang lolos, diantaranya :

  1. Amri Hariri "Strategi Pustakawan Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Purwokerto Dalam Membangun Personal Branding" (UM Purwokerto)
  2. Mufiedah Nur "Kemas Ulang Modul Menjadi Video Pembelajaran di Youtube" (UM Jember)
  3. Muhammad Jubaidi  "Inovasi Layanan Perpustakaan UMY Melalui Literasi Media Sebagai Upaya Merawat Kebhinekaan Civitas Akademika" (UMY)
  4. Mustofa "Promosi Perpustakaan Melalui Instagram" (UMS)
  5. Umifatimah dan Eko Kurniawan "Peminjaman Berbasis Fingerprint Sebagai Upaya Meminimalisir terjadinya Penyalahgunaan Kartu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta" (UIN Suka dan UMY)
  6. Yolan Priatna "Infografis Sebagai Media Promosi Perpustakaan" (UM Ponorogo)

Kamis, 22 Februari 2018

TUNAIKAN AMANAH SEBELUM AJAL MENJELANG


 Firman Allah Swt yang artinya: Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya (takut mati) itu pasti akan menemui kamu sekalian, kemudian kamu akan dikembalikan kepada Allah yang Mengetahui yang salah dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan (Q.S. Al Jumu’ah: 8)
            Kematian tak segan-segan menghampiri siapapun dan dimanapun. Nenek tua sedang makan pagi meninggal karena kejatuhan pintu rumah yang roboh akibat gempa. Seorang abang becak beranak banyak mendadak meninggal karena tertindih bangunan yang roboh. Seorang mahasiswa yang pagi itu harus ujian, ternyata meninggal di tempat tidurnya karena gempa yang dahsyat di pagi hari misalnya.
            Kematian bisa saja menimpa pekerja tambang karena rerunthan tanah. Seorang jama’ah maghrib padasujud terakhir lama tidak bangun, ternyata setelah diamati dia telah meninggal. Bisa saja seseorang meninggal di kursi ruang sidang ketika mengkuti sidan atau pertemuan ilmiah. Kematian dengan cara yang bermacam-macam itu   merupakan bukti kekuasaan Allah yang dalam waktu singkat Allah memanggil hamaNya yang dikehendaki.
            Berangkat dari kematian yang tidak mesti didahului oleh sakit itu  patut menjadi renungan  bahwa kita perlu segera menunaikan amanah. Amanah berarti kepercayaan. Bila orang diberi amanah berarti diberi kepercayaan. Kata amanah ini serumpun dengan kata iman. Maka amanah ini lahir dari kekuatan iman. Bila iman kuat, maka semakin kuat dalam memegang amanah. Tetapi apabila tidak bisa dipercaya berarti imannya lemah. Jadi antara iman dan amanah ibarat dua keping mata uang. Dalam hal ini Rasulullah Saw menegaskan dalam sabdanya:” Tidak (sempurna) iman seseorang yang tidak amanah, dan tidak (sempurna) agama orang yang tidak menunaikan/menepati janji” (H.R.Ahmad).
            Sebagaimana pengertian istilah lain, maka amanah dapat diartikan secara sempit dan secara luas. Secara sempit amanah berarti memelihara titipan dan mengembalikannya kepada pemiliknya seperti semula. Kemudian amanah dalam arti luas mencakup banyak makna, yakni menjaga diri, menyimpan rahasia, menjaga titipan, menjaga pemberian Allah Swt, menunaikan tugas dari Allah, dan tidak menyalahgunakan kekudukan/jabatan
Menjaga Diri
            Diri orang merupakan sesuatu yang berharga. Maka ada pesan jangan sampai menjual harga diri. Penafsiran harga diri kadang-kadang berlebihan. Mungkin hanya soal sepele saja justru menjadi tawuran dengan alasan membela harga diri.
Menjaga diri adalah upaya agar diri kita tetap dihormati, memiliki kewibawaan, diakui eksistensi kita, tetap dihormati, dan dapat dicontoh orang lain. Orang semacam ini mampu menempatkan dan menyesuaikan diri dalam pergaulan masyarakat umum maupun masyarakat karirnya.
Menyimpan Rahasia
            Masing-masing individu, rumah tangga, lembaga, bahkan negara memiliki rahasia sendiri-sendiri. Rahasia ini mungkin merupakan aib tetapi bisa juga rahasia itu justru merupakan kekuatan atau kekayaan yang disembunyikan. Demikian pula dalam kehidupan rumah tangga antara suami istri ada hal-hal yang harus menjadi rahasia. Sampai masalah ranjang pun tidak boleh diceritakan kepada orang lain.
            Seorang suami yang membeberkan aib istrinya, justru itu merupakan tindakan yang tidak terpuji. Demikian pula, apabila isteri melakukan konferensi pers tentang penyelewengan suami misalnya. Tindakan ini sebenarnya justru merusak citra rumah tangga sendiri. Dalam hal ini Rasulullah Saw bersabda yang artinya:” Sesungguhnya amanah yang paling besar di sisi Allah pada hari kiamat ialah apabila seorang suami berkumpul dengan isterinya kemudian hal ini disebarluaskan kepada orang lain tentang rahasia isterinya” (H.R. Muslim).
Menjaga Titipan
            Apabila dititipi barang, anak, harta, pesan, bahkan salam orang lain, maka titipan itu harus dijaga sebaik-baiknya. Apabila sewaktu-waktu titipan itu diambil oleh yang menitipkannya, maka titipan itu harus ikhlas untuk mengembalikannya.
            Kecuali itu, apabila kita renungkan penuh kesadaran bahwa harta, anak, ilmu, bahkan nyawa itu merupakan titipan. Titipan ini sewaktu-waktu akan diminta kembali oleh Dzat yang Menitipkannya. Kita pun harus ikhlas untuk melepaskannya meskipun berat di hati.
            Dalam suatu kisah diceritakan bahwa pada masa Rasulullah Saw ada suami isteri yang saling asah, asih, dan asuh. Suami itu bernama Abu Thalhah dan isterinya bernama Ummu Salim. Pada suatu hari Abu Thalhah baru pulang dari berniaga/dagang. Ketika sampai di rumah beberapa saat sebelum kedatangannya, anaknya meninggal dunia. Ummu Salim tidak segera memberitahukan kejadian itu kepada suaminya. Sebab sang suami masih capai dan pikirannya belum tenang. Setelah dihidangkan minuman dan makanan ala kadarnya, lalu istirahat sejenak. Kemudian Abu Thalhah menanyakan keadaan putranya yang ketika ia pergi kebetulan anaknya itu sedang sakit. Maka Ummu Salim mengatakan :”Wahai suamiku anak kita lebih tenang dari sebelumnya. Dikatakan selanjutnya : “Wahai suamiku apabila apabila seseorang meminjamkan barang kepada seseorang dalam jangka waktu tertentu, lalu setelah habis masa itu lalu itipan itu diambil oleh pemlinya melalui seorang utusan. Di satu sisi, peminjam itu masih enggan mengembalikannya. Berat rasanyaapabila barang titipan itu diambil oleh pemiliknya. Nahapakah peminjam itu berhak untuk mencegahnya (tidak boleh diambil). Mendengar ini, Abu Thalhah pun menjawab “Tentu saja tidak”. Lalu Ummu Salim mengaakan bahwa putra kita telah dipanggil oleh Allah Swt dan kini sedang berbaring di kamar. Abu Thalhah lalu menghampiri jenazah putranya itu seraya mengatakan inna lillahi waina ilaii rajiun.
            Keesokan arinya, Abu Thalhah menghadap kepada Rasulullah Saw dan menceritakan apa yang dikatakan oleh Ummu Salim kepadanya. Beliau bersabda “: Demi Allah yang telah mengutusku dengan kebenaran, Allah telah melontarkan ke dalam rahimnya  seorang laki-laki sebagai balaan atas kesabarannya ditinggal anaknya.”.
            Sungguh mengagumkan kesabaran Ummu Salim sebagai  seorang istri yang menyaari bahwa semua itu hanya titipan. Beliau memang panai menjaga perasaan suami yang baru saja pulang dari niaga berbulan lamanya.  
Menjaga Pemberian Allah
            Harta,isteri, anak,dan ilmu pegetahuan yang diberikan oleh  Allah harus dipelihara dan dimanfaatkan sebaik-baiknya. Harta benda misanya harus dipergnakan sebaik mungkin untuk mencari ridha Allah, baik untuk memenuhi kebutuhan diri, keluarga, maupun untuk kepentingan umat. Demikian pula halna dengan ilmu  pengetahuan yang kita miliki harus dimanfaatkan untuk kesejaheraan umat manusia.
Menunaikan Tugas dari Allah
            Manusia dberi kepercayaan/aanah oleh Allah untuk menjadi pemimpin/khalifah di muka bumi ini. Amanah yang berat ini semula ditawarkan kepada bumi,langit, dan gunung-gunung .Hal ini sebagaimana difirmankan oleh AllahSwt dalam S. Al Ahzab 72:
Artinya:” Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah keada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu karena mereka khawatir (tidak kuat memikul) bahkan khawatir untuk menghianatinya. Kemudian amanah itu dibebankan kepada manusia. Sesungguhnya manusia itu dhalim dan amat bodoh”. Semua tugas yang dibebakan kepada manusia harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Sebab apapun yang dikerjakan manusia harus dipertanggungjawabkan.    
Tidak Menyalahgunakan Kedudukan/jabatan.
            Kedudukan adalah kepercayaan/amanah dan sekaligus kehormatan,baik kedudukanformal atau kedudukan nonformal. Apabila orang mampu menjaga kedudukannya secara baik, maka dia akan tetap memiliki wibawa dan pengaruh meskipun secara formal tidak menduduki  jabatan (struktural) lagi.Sebaliknya betapa banyak orang yang  hancur namanya begitu turun dari kedudukan dan jabatannya. Bahkan keluar rumah saja tidak berani.Ini semua sebagai akibat menyalahgunakan kedudukan dan jabatannya untuk kepentingan prbadi, partai, maupun kroni-kroninya.

  
Lasa Hs







Rabu, 21 Februari 2018

SILATURRAHMI KE PERPUSTAKAAN UM Surabaya, Ubaya dan UM Gresik


Selama 2 (dua) hari Lasa Hs selaku ketua FPPTMA dan beberapa Staf Perpustakaan UMY melakukan silaturahmi ke Universitas Surabaya (Ubaya) dan pembinaan ke Perpustakaan UM Surabaya dan Perpustakaan UM Gresik. Kunjungan ke UM Surabaya diterima oleh Wakl Rektor III UM Surabaya dan staf Perpustakaan UM Surabaya  di gedung berlantai 13. Dalam kesempatan itu diselenggarakan diskusi dan bimbingan tentang literasi informasi, akreditasi, pengelolaan repositori, deteksi plagiasi, kerjasama, maupun penyelenggaraan Muhammadiyah Corner. Dalam kesempatan itu disepakati penyelenggaraan TOT literasi untuk staf perpustakaan PTMA se Jawa Timur.
Kunjungan ke Perpustakaan UM Gresik diterima oleh Wakil Rektor Akademik UM Gresik dan staf perpustakaan, staf Teknologi Informasi. Pada kesempatan itu didiskukan tentang pentingnya akreditasi bagi perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah.     

Rabu, 14 Februari 2018

Embedded Librarian dan Upaya Self-Disruption Perpustakaan Perguruan Tinggi


Embedded Librarian dan Upaya Self-Disruption Perpustakaan Perguruan Tinggi
Oleh:
Atin Istiarni
Pustakawan Universitas Muhammadiyah Magelang

Fenomena tumbangnya industri konvensional akhir-akhir ini membuat beberapa pelaku industri mulai resah. Perubahan dirasa begitu cepat setelah adanya teknologi dan internet. Perubahan yang yang mampu mengubah gaya hidup masyarakat secara global dalam waktu sangat cepat. Industri paling terlihat perubahannya adalah industri jasa transportasi. Bisa kita lihat semakin masifnya perkembangan ojek online. Masyarakat dimanjakan dengan jasa transportasi yang cepat, aman, dan murah. Bukan hanya itu, kebutuhan masyarakat juga cepat terpenuhi dengan adanya layanan seperti Go-Food misalnya. Orang mudah mendapatkan apa yang diinginkan tanpa pindah tempat. Perubahan yang tentu sangat menakjubkan.
            Namun sayangnya, perubahan yang terjadi tidak mudah diterima oleh semua orang. Pertentangan antara ojek online dan ojek konvensional sampai menimbulkan pertikaian yang seperti tak berujung, hingga pemerintah menurunkan maklumatnya dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 108 Tahun 2017. Itu baru dari sisi transportasi, belum lagi tumbuh suburnya onlineshop yang mampu menurunkan minat orang untuk datang ke pusat perbelanjaan. Kemudian, dalam ranah informasi, perpustakaan mungkin menjadi organisasi yang paling merasakan dampaknya. Pencari informasi yang selanjutnya disebut pemustaka lebih memilih google dan buku elektronik yang bisa diakses lewat gadget mereka.
            The library is a growing organism, begitulah hukum yang ditetapkan oleh S. R. Ranganathan pada 1931. Perpustakaan terus berkembang mengikuti pola belajar masyarakat. Saat ini, ekspansi sebuah perpustakaan sudah mampu memberikan layanan 24 jam melalui layanan online. Peminjaman dan pengembalian buku melalui perpustakaan maya dalam wujud I-pusnas milik Perpustakaan Nasional RI misalnya. Semua serba digital, mudah, murah, dan memuaskan pembaca. Lantas, bagaimana dengan pustakawan jika yang semula dikerjakaannya  diambil alih oleh mesin? Perpustakaan adalah organisasi yang terus berkembang mengikuti perubahan yang ada. Tentunya, pustakawan juga seharusnya mengubah paradigma pekerjaannya sesuai dengan kebutuhan masyarakat.


Perpustakaan Era Baru
            Era baru menuntut kesedehanaan dan keefektivan. Rhenald Kasali mengungkapkan jika Disruption akan mudah terjadi pada lembaga yang high regulated. Waktu sangat berharga dan hal ini harus dipahami oleh pustakawan. Pekerjaan yang semula seperti “penjaga warung” sudah saatnya dirubah. Perpustakaan Perguruan tinggi mulai berbenah dengan penerapan teknologi canggih untuk memberikan layanan yang sederhana dan efektif. Penggunaan teknologi sepertinya menjadi acuan atas kesederhanaan dan keefektivan dan itu disepakati oleh dunia global. Perubahan gaya bekerja pustakawan perguruan tinggi saat ini mengarah pada upaya edukasi kepada pemustaka. Pustakawan tidak lagi sibuk dengan katalog, shelving, peminjaman dan pengembalian serta pekerjaan teknis lainnya. Embedded librarian adalah istilah yang digunakan untuk pustakawan yang terlibat dalam pemberian edukasi bagi civitas akademika kampus. Edukasi dalam bentuk kegiatan Literasi Informasi, pelatihan menulis dan mungkin juga kemas informasi dalam bentuk knowled management kini telah dikembangkan oleh pustakawan. Seorang embedded librarian mampu untuk diajak kolaborasi dengan dosen maupun peneliti. Keahlian pustakawan dalam mengakses dan mengelola informasi baik teks maupun digital membuat pustakawan dibutuhkan saat proses pencarian referensi untuk penelitian maupun tugas akademis lain.
Kesadaran pustakawan maupun pengelola perpustakaan akan hadirnya era baru menjadikan pustakawan mulai berbenah melalui rekonstruksi kebijakan perpustakaan. Saat ini mahasiswa dimanjakan dengan teknologi dan layanan cepat yang diberikan perpustakaan. Lebih dari itu, fungsi perpustakaan sebagai tempat rekreasi untuk mencari solusi juga terwujud. Pustakawan siap sedia memberikan solusi pencarian referensi yang kredibel, mutakhir, dan relevan. Pustakawan juga bisa menjadi Pustakawan menjadi mitra belajar mahasiswa maupun dosen. Dengan begitu perpustakaan bukan lagi tempat “terasing” atau “pengasingan” yang kehadirannya sekedar aksesoris untuk akreditasi saja. Jika pustakawan mampu memberikan layanan seperti itu berarti pustakawan dan perpustakaan juga menjadi pihak yang terlibat dalam peningkatan mutu serta kualitas akademik di perguruan tinggi. Maka, menjadi embedded librarian merupakan langkah strategis untuk melakukan Self-Disruption dalam masa era baru seperti yang saat ini terjadi agar perpustakaan tidak ikut “gulung tikar” dan dilupakan masyarakat milenial.






Selasa, 13 Februari 2018

Notulensi Rapat Koordinasi Asosiasi Perpustakaan dengan Kemenristekdikti



NOTULA


ACARA        
:
Rapat Koordinasi Perpustakaan Perguruan Tinggi
HARI/ TANGGAL
:
Kamis, 8 Februari 2018
WAKTU RAPAT    
:
14.00 – 22.00
LOKASI
:
Ruang Rapat Hotel Santika Jemursari Surabaya.
PESERTA RAPAT 
:
1.      Johan Noor (Universitas Brawijaya)
2.      Sirajul Arifin (UIN Sunan Ampel)
3.      Vincentius Widya Iswara (Universitas Widya Mandala)
4.      Labibah Zain (UIN Sunan Kalijaga)
5.      Lasa HS (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)
6.      Arda PW (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)
7.      Munawaroh (STIE Perbanas Surabaya)
8.      Amirulum (Universitas Surabaya)
9.      Taufiq Abdul Gani (Universitas Syiah Kuala)
10.  Dian Wulandari (Universitas Kristen Petra)
11.  Suhetris (Pusat Data dan Informasi IPTEK dan DIKTI)
12.  Tiara Desyanti R (Biro Keuangan dan Umum)
13.  Fahmi Ma’ruf (Biro Keuangan dan Umum)
14.  Linda Warni (Biro Sumber Daya Manusia)
15.  Dewi Y (Biro Hukum dan Organisasi)
16.  Ardiani Damaryanti (Biro Hukum dan Organisasi)
17.  Suwitno (Direktorat Jendral Riset dan Pengembangan)
18.  Wawan Bayu P. (Kepala Bagian Publikasi dan Dokumentasi Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik)
19.  Tri Sudari (Kepala Bagian Kerja Sama Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik)
20.  Boni Agusta (Kepala Sub Bagian Dokumentasi dan Perpustakaan Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik)
21.  Suryo Boediono (Kepala Sub Bagian Sistem Informasi Kerja Sama Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik)
22.  Arista Bayu Paramarta (Staf Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik)
23.  Setiyo Hayati (Staf Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik)
24.  Heronia Duwith (Staf Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik)
25.  Ifan Harianto (Professional Photography)

PERSOALAN YANG DIBAHAS
:
1.      Rapat koordinasi membahas Perpustakaan Perguruan Tinggi bersama Forum-forum Perpustakaan Perguruan Tinggi
2.      Koordinasi Pemanfaatan E-Journal Untuk Perguruan Tinggi
3.      Analisis Jabatan Fungsional Pustakawan.

Poin-poin Pemaparan dari Narasumber Bapak Agus Suwitno dengan Tema : Pemanfaat E-Journal Bersama
1.      Pada tahun 2009, Ditjen Dikti memiliki sebuah portal jurnal nasional yaitu Garuda. Tetapi setelah penggabungan antara Kemenristek dan Ditjen Dikti, portal tersebut seakan hilang hingga saat ini.
2.      Dari tahun 2009 – 2018, penganggaran untuk layanan E-Journal di Ditjen Riset dan Pengembangan (Risbang) menurun tajam.
3.      Salah satu tujuan Ditjen Risbang dalam menyediakan referensi layanan E-Journal untuk mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu menghasilkan karya publikasi yang bermanfaat.
4.      Pada tahun 2016, Ditjen Risbang mengadakan rapat dengan Perpustakaan Nasional untuk mencari solusi untuk Perguruan Tinggi agar dapat berlangganan E-Journal.
5.      Tahun 2017 sempat ada lelang E-Journal di Ditjen Risbang, namun gagal karena ada permainan harga dari penyedia database yang membuat langganan E-Journal untuk Perguruan Tinggi sangat mahal.
6.      Perubahan media cetak ke media elektronik baik buku maupun jurnal mempermudah masyarakat khususnya akademisi untuk memperoleh informasi tersebut di mana saja dan kapan saja.
7.      Di era saat ini, pustakawan bukan hanya pengelola buku saja, tetapi juga dapat menjadi pengelola pengetahuan yang kedepan dapat mendampingi tenaga peneliti.
8.      Kebutuhan pustakawan sebagai asisten peneliti dapat menjadi acuan kenaikan jabatan fungsional yang memungkinkan.
9.      Rencana E-Journal untuk perguruan tinggi dan seluruh masyarakat akan dilanggan secara nasional oleh Perpustakaan Nasional yang sesuai dengan instruksi Presiden. Hal tersebut untuk efisiensi anggaran dana di perguruan tinggi.
10.  Ditjen Risbang mewantikan kalau kepentingan akademisi di Perguruan Tinggi harus menjadi yang utama. Ditjen Risbang sangat mengharapkan dapat melanggan E-Journal khusus untuk perguruan tinggi.
11.  Banyak akademisi di Perguruan Tinggi menyebutkan bahwa E-Journal di Perpustakaan Nasional sangat tidak Komprehensif saat ini.
12.  Tahun 2017 ada kenaikan anggaran untuk melanggan E-Journal karena bergabungnya LPNK dan Perguruan Tinggi Kedinasan.
13.  Rasio akses dan unduhan E-Journal di perguruan tinggi tahun 2017 hanya 26%, sangat rendah.
14.  Tahun 2018, Ditjen Risbang tetap melanggan E-Journal.
15.  SINTA menjadi portal jurnal ilmiah Ristekdikti bagi dosen dan peneliti saat ini.
16.  Science Direct awalnya ingin dilanggankan untuk perguruan tinggi. Tetapi karena sangat mahal,  hingga 40 M hanya untuk 30 perguruan tinggi, sehingga otomatis ditolak. Alhasil Science Direct dilanggankan untuk LPNK saja.
17.  Tahun 2018, Ristekdikti berencana bekerja sama dengan LIPI untuk menyiapkan cloud rumah jurnal di perguruan tinggi swasta yang direncanakan membuat 500 rumah jurnal.
18.  Selain menyiapkan cloud rumah jurnal bagi PTS, Ristekdikti juga berencana untuk membuat akses jurnal terakreditasi untuk peneliti agar meningkatkan mutu artikel yang dibuat.

Kolom Diskusi dengan Tema “Pemanfaatan E-Journal Bersama”
Pertanyaan Diskusi
Jawaban Diskusi
1.      Langganan E-Journal di Perpusnas memang sangat berpengaruh, tetapi kenapa sampai saat ini tidak ada kejelasannya?

2.      Ada pencabutan alokasi langganan jurnal di RKKL di beberapa perguruan tinggi, ini bagaimana kami dapat melanggan jurnal kembali?

3.      Bagaimana kebijakan Menteri Ristekdikti untuk menjalankan perintah Presiden untuk langganan jurnal dari Perpusnas?

4.      Mengapa Kemenristekdikti terlalu percaya terhadap penilaian scopus?

5.      Rektor UB saat ini masih menyetujui anggaran E-Journal.

6.      Apabila Kemenristekdikti yang melanggan E-Journal, kemungkinan Perpustakaan Non Dikti tidak dapat mengakses. Apakah memang lebih baik cukup Perpusnas saja yang melanggan?
7.      Bagaimana kebijakan dari Kemenristekdikti untuk pustakawan agar dapat masuk ke Simlitabmas? Karena yang dapat masuk ke Simlitabmas hanya dosen yang memiliki NIDN

8.      Kami berharap Kemenristekdikti dapat memberikan kesempatan bagi pustakawan untuk penelitian dan sekolah tinggi lebih lanjut.


1.      Ada beberapa jurnal yang dilanggan oleh Perpusnas masih belum terakreditasi dan kurang komprehensif bagi perguruan tinggi hingga saat .

2.      Arahan Bapak Presiden saat peresmian Perpustakaan Nasional yaitu mengintruksikan cukup Perpusnas yang melanggan E-Journal secara nasional. Kami dari Risbang sedikit tidak rela karena kami juga harus terlibat dalam pengadaan lelang E-Journal guna kepentingan dosen, peneliti, dan mahasiswa. Jangan sampai karena dilanggan oleh satu Lembaga, anggaran kita ditarik ke Perpusnas, kualitas jurnal untuk perguruan tinggi menjadi turun.

3.      Pak Menteri tentu saja mengikuti instruksi Presiden. Tetapi kami dari Risbang akan tetap terus berjuang untuk melanggan E-Journal walaupun  kami hanya ikut serta dalam proses lelang E-Journal di Perpustakaan Nasional.

4.      Kami menemukan sangat banyak review jurnal masih agak kurang, sehingga tidak ada standarnya. Bukan kami membela scopus, tetapi kami selama dua tahun belakangan ini mengundang tim penilai scopus yaitu CSAB untuk menilai kenapa jurnal kita hanya 36 yang terindeks di scopus.

5.      Semoga saja semua perguruan tinggi juga dapat mengikuti langkah Rektor UB.

6.      Tim akreditasi jurnal di Kemenristekdikti sudah sangat komprehesif dibandingkan dengan Perpusnas. Tetapi karena instruksi Presiden, kami nantinya akan bekerja sama dengan Perpusnas dalam pengadaan E-Journal yang sesuai dengan perguruan tinggi.

7.      Kami juga berharap pustakawan terlibat dalam penelitian bagi dosen atau peneliti. Saat ini memang belum ada kebijakan itu, kami akan coba mengusahakannya

8.      Untuk Pendidikan lanjut bagi tenaga pustakawan, kami berfikir bahwa pengatur tenaga pustakawan hanya di Perpusnas. Kemenristekdikti hanya mengurus jabatan fungsional dosen. Kami mengusulkan bapak untuk berkomunikasi dengan SDID Ristekdikti mengenai perihal ini.

Poin-poin Pemaparan dari Narasumber Ibu Dian Wulandari dari SDM, Ibu Dewi dari Biro Hukor, dan Ibu Ardiani dari Biro Hukor dengan Tema : Analisis Jabatan Fungsional di Kemenristekdikti
1.      Sumber daya manusia untuk pustakawan sebetulnya ada di Biro Sumber Daya Manusia (Biro SDM) pada saat Dikti masih di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
2.      Kenapa saat ini berada di Biro Hukum dan Organisasi (Biro Hukor)? Karena ada perubahan yaitu penggabungan antara Kemenristek dan Ditjen Dikti.
3.      Biro Hukor Kemenristekdikti hanya menganalisis jabatan fungsional di PTN Satker dan PTN BLU yang belum remunerasi.
4.      Apabila selain dua PTN tersebut, seperti PTN BH, sudah ada statuta dan otonomi kampus sehingga Biro Hukor tidak dapat menganalisis jabatan fungsional.
5.      Dasar analisis jabatan fungsional yang dilakukan Biro Hukor adalah UU no.5 tahun 2014 bahwa ASN harus memiliki jabatan tertentu walaupun pelaksana dan harus memiliki kompetensi.
6.      Biro Hukor baru saja menyelesaikan Peraturan Menteri baru yaitu Peraturan Menteri nomor 68 tahun 2017.
7.      Analisis jabatan dilakukan untuk memperoleh informasi jabatan dan proses manajemen PNS.
8.      Organisasi dan Tata Kelola (OTK) di PTN terkadang suka rancu seperti ada tenaga keuangan di divisi akademik, hal tersebut yang tidak sesuai dan dapat dihilangkan jabatannya oleh KemenPAN-RB
9.      Pegawai fungsional diatur dalam Permen PAN-RB, pihak Kemenristekdikti tidak mengatur hal tersebut.
10.  Angka Beban Kinerja (ABK) harus dianalisis lebih dalam agar mendapatkan slot pustakawan dan jabatannya.
11.  SKP juga harus disesuaikan dengan AKB, karena hal tersebut berpengaruh terhadap tunjangan dan jabatan.
12.  SKP disusun berdasarkan tugas pokok pustakawan.
13.  Jabatan fungsional pustakawan utama memang ada tetapi waktu masih di Kemendikbud.
14.  Untuk menjadi pustakawan yang lebih tinggi seperti utama, perlu dianalisis terlebih dahulu dengan melihat ABK dan SPK nya. Apakah perlu pustakawan utama di perguruan tinggi.
15.  Dalam Permenristekdikti, tidak ada jabatan fungsional utama, baik pustakawan maupun jabatan fungsional lainnya, hanya sampai madya.
16.  Biro SDM hanya menetapkan keputusan jabatan setelah adanya Penetapan Angka Kredit (PAK) dari pembina pustakawan yaitu Perpustakaan Nasional.

Kolom Diksuis dengan Tema : Analisis Jabatan Fungsional di Kemenristekdikti
Pertanyaan Diskusi
Jawaban Diskusi
1.      Apakah kemenristekdikti menentukan jabatan fungsional secara seragam?

2.      Kami sudah membuat analisis jabatan. Ada contoh kasus di Perpustakaan memang tidak ada jabatan untuk programmer dan mungkin MenPAN-RB atau Ristekdikti berfikir bahwa programmer tidak berhubungan dengan perpustakaan. Tetapi karena perpustakaan sudah berubah, programmer itu dibutuhkan di perpustakaan, lalu bagaimana?

3.      Apakah memungkinkan PAN RB dan Ristekdikti duduk bersama untuk membahas permasalahan ini?

4.      Ada uraian mengenai Pustakawan Utama di Permenpan nomor 49 tahun14, tetapi mengapa di peraturan Ristekdikti meniadakan jabatan pustakawan utama? Kenapa peraturan kedua kementerian ini berbeda? Kalau di perguruan tinggi tidak ada pustakawan utama, kami khawatir pustakawan di perguruan tinggi akan meninggalkan jabatan fungsional untuk pindah formasi ke struktural. Lalu bagaimana rumusnya perguruan tinggi agar ada pustakawan utama?

5.      Sesuai dengan UU no.43 tahun 2007 dan PP no.24 tahun 2014 menjelaskan bahwa pustakawan adalah PNS. Kami memohon bantuan kepada Ristekdikti untuk menyuarakan hal ini ke DPR. Kami juga memohon kepada Ristekdikti memperhatikan pustakawan yang ada di PTS.
Lalu yang menjadi permasalahan dari status jabatan fungsional pustakawan utama karena surat edaran Kemenristekdikti nomor 12102318/A2/2017, kami berfikir bahwa Pustakawan Utama benar-benar sudah tidak ada, ternyata hanya di PTN Satker dan BLU non Remunerasi saja, kenapa tidak dikatakan lebih detail di surat ini? Kami menganggap semua PTN benar-benar sudah tidak ada Pustakawan Utama.

6.      Kami berharap pustakawan di perguruan tinggi adalah S2 agar ada fungsi asisten penilitian dosen, referensi, dan mengadvokasi dosen dan mahasiswa. Inilah program rencana kami di forum perpustakaan perguruan tinggi. Support dari kementerian kira-kira bagaimana?
1.      Untuk pemetaan jabatan fungsional dilakukan oleh Kementerian PAN RB. Kemenristekdikti hanya menganalisis PTN Satker dan PTN BLU yang belum Remunerasi. PTN BH ada otonomi dengan statuta. PTN BLU yang sudah Remunerasi sudah diatur dari Ditjen BLU dengan 10 faktor.

2.      Bagaimana dengan OTK nya? Lalu fungsi IT di Perpustakaan apakah sudah sesuai dengan tugas dan fungsi perpustakaan atau tidak. Tolong diisikan dalam OTK apabila programmer atau hal apapun yang kami kira tidak ada jabatan itu di perpustakaan ternyata dibutuhkan oleh perpustakaan. Karena PAN RB akan mencoret jabatan apabila tidak ada di OTK. Kami tidak bisa apa-apa, hanya PAN RB yang mengatur hal ini.

3.      Kami juga sudah duduk bersama dengan PAN RB, bahkan satker pun kami undang. Tetapi OTK itulah yang harus diperhatikan oleh PTN Satker dan PTN BLU non Remunerasi. Karena kami di Ristekdikti hanya menganalisis jabatan di dua PTN tersebut, tetapi tidak di PTN BH maupun PTN BLU yang sudah Remunerasi.

4.      Kami dari Ristekdikti tidak meniadakan jabatan fungsional. Permen ini merupakan  hasil validasi pada bulan oktober 2014 yang masih dengan MenPAN RB. Permen no.49 mendasari tunjangan kinerja waktu penggabungan antara Ristek dan Dikti. Hasil validasi menyatakan bahwa pustakawan utama di PTN Satker dan BLU non Remunerasi tidak ada, bukan kami meniadakan. Kalau selain kedua PTN tersebut, bisa saja ada Pustakawan Utama karena ada statuta dan otonomi sendiri. Tetapi perlu diingat, SKP Pustakawan Utama harus dipenuhi minimal 80% unsur utama dan 20% unsur penunjang.

5.      Sebetulnya yang mengatur pustakawan adalah Perpusnas. Mohon koordinasikan kepada Perpusnas mengenai undang-undang tersebut.
Untuk surat edaran, kami pihak Ristekdikti memohon maaf kepada seluruh pustakawan PTN non Satker dan BLU belum Remunerasi sehingga membuat gaduh.

6.      Karena pustakawan di PTS bukanlah PNS, inilah yang sulit. Bisa dicoba beasiswa LPDP atau yg terbuka. Atau apabila masih menginginkan hal tesebut dari Ristekdikti, dapat mengadvokasi ke Ditjen SDID Kemenristekdikti.