Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Seminar Layanan Prima di UAD

oleh Dr. Muhammad Sulhan,SIP.,M.Si. dan Drs. Tedi Setiadi,M.T.

Munas di solo

Foto bareng pemateri

Rabu, 13 Mei 2020

Sharing Antar Anggota FPPTMA

Dengan adanya pademi corona ini, ada banyak hikmah yg bisa kita ambil. Salah satunya yaitu perpustakaan harus memunculkan layanan inovatif kepada para pemustaka yg sedang kuliah online. Salah satu layana tersebut adalah goBook, selain itu masih banyak juga layanan yg dilakukan oleh perpustakaan lain pada masa pandemi ini. Agar dapat mengetahui lebih lanjut maka FPPTMA pada tgl 14 Meri 2020 pada pukul 09.00 insyaallah akan mengadakan sharing online melalui aplikaai zoom teekait inovasi layanan di masa pandemi ini. Bagi anda yg ingin mengikuti kegiatab tsbt maka dapat bergabung melalui ID dan Password di bawah ini

Meeting ID: 777 8371 2739
Password: 1MCHsQ

Senin, 11 Mei 2020

Cara Mudah Membuat Portal Pencarian Informasi di Perpustakaan

Setiap Perpustakaan Perguruan Tinggi idealnya mempunyai tiga system informasi, yaitu :

  1. Website official yang berisi informasi seputar perpustakaan terkait
  2. Sistem otomasi perpustakaan yang menampilkan katalog koleksi perpustakaan
  3. Repository yang berisi karya sivitas akademika tersebut

Masing – masing system informasi  biasanya menggunakan media/platform yang berbeda, sehingga user harus klik satu per satu dari ketiga system tersebut. Untuk itu perpustakaan harus mampu memberikan solusi agar mempermudah user dalam melakukan pencarian informasi. Solusi yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan Google CSE.
Google CSE merupakan sebuah fasilitas yang diberikan oleh google agar kita bisa membuat kotak pencarian terintegrasi dari beberapa system. Sebagai contoh kasus di atas, sebuah perpustakaan  mempunya tiga media/platformyang berbeda,maka dapat disatukan dengan menggunakan Google CSE.
Bagaimana caranya, baca artikel berikutnya

Jumat, 08 Mei 2020

IKHLAS KEPADA ORANG TUA




Manusia lahir ke dunia ini tidak lepas dari peran orang tua. Dengan kekuasaan Allah swt , orang tua melahirkan anak, lalu dididik, dibesarkan sampai dewasa. Begitu besar jasa orang tua pada anak.  Maka dalam banyak ayat Al Quran disebutkan bahwa setelah berbuat baik/ibadah kepada Allah, lalu diperintahkan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua. Berbakti penuh keikhlasan merupakan keutamaan. Bentuk berbakti itu antara lain:
1.            Memperhatikan orang tua
Sebagai anak, kita harus memperhatikan orang tua. Berbakti dan memperhatikan orang tua sangat dianjurkan terutama oleh agama Islam.  Lantaran orang tualah,  dengan izin Allah, manusia  lahir ke dunia. Karunia Allah atas manusia melalui orang tua ini merupakan anugerah yang luar biasa. Karena tidak  semua janin yang dikandung seorang ibu itu lahir ke dunia.
Begitu besar kebaikan memperhatikan dan  berbakti kepada orang tua. Sampai-sampai Rasulullah saw bersabda ”Allah akan memberikan balasan sebanding ibadah haji yang mabrur kepada seseorang yang memandang wajah orang tuanya (memperhatikan dan berbakti) kepada orang tuanya”. (HR. Rafi’i)
2.            Berdo’a untuk orang tua
Salah satu bentuk berbakti kepada orang tua adalah selalu berdo’a untuk orang tua. Banyak kebaikan dari do’a anak untuk orang tuanya antara lain akan dilancarkan rezekinya. Rasulullah Saw bersabda:” Apabila seorang hamba tidak lagi berdo’a untuk kedua orang tuanya, maka akan terputuslah (sulit) rezekinya”. (HR. Ad Dailamy).
3.            Tidak berani kepada orang tua
Meskipun orang tuanya berpendidikan rendah dan kurang pengalaman, seorang anak harus taat kepadanya dan  tidak boleh berani. Bahkan dalam tuntunan agama Islam, meskipun orang tua itu beda agama, maka harus tetap dihormati.  Dalam hal ini Allah menegaskan dalam Al Quran S. Lukman:  14 – 15 :” Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik ) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtuamu. Hanya kepada-Ku  kamu sekalian kembali. Dan jika keduanya  (orang tuamu) memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, namun pergaulilah keduanya di dunia ini secara  baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan apa yang telah kamu sekalian kerjakan”.
Kalau anak sampai berani kepada orang tua, memejahijaukan orang tua, melawan, bahkan menganiaya orang tua, berarti anak itu sudah kehilangan nurani. Mereka tidak tau terima kasih dan tidak beradab. Balasan pada anak yang durhaka ini tidak perlu menunggu kalau anak itu nanti mati. Untuk itu Rasulullah saw mengingatkan kepada para anak yang durhaka dalam salah satu sabdanya:” Dua pelanggaran yang Allah akan laksanakan di dunia ini ialah pembangkangan dan berani kepada orang tua”. (HR Thobarani).

Lasa Hs 

TALANG PLASTIK



         
Ketika itu, Pak AR sudah menjadi Ketua PP Muhammadiyah. Kalau ke Jakarta atau ke kota lain sering ketemu orang dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk pejabat atau pengusaha. Di antara pejabat atau pengusaha itu sering mengaku sebagai warga Muhammadiyah. Ada yang karena neneknya atau kakeknya sebagai orang Muhammadiyah. Ada yang mengaku bahwa beliau pernah sekolah di sekolah Muhammadiyah, mekipun hanya Taman Kanak-Kanak atau Sekolah Rakyat/Sekolah Dasar.
          Diantara para pejabat atau pengusaha itu yang memberi uang kepada Pak AR. antara lain; Ir. H.M. Sanusi (Allahu Yarham), H. Mintardja, S.H., Jenderal Sarbini, Mayjen Maryadi (mantan Dirut PN Sandang), Drs. H. Sonhadji, H. Djunaidi. Mereka memberi uang ada yang 2 juta, 3 juta rupiah, 5 juta rupiah , bahkan ada yang memberi 10 juta rupiah. Uang itu lumayan banyak saat itu.
          Biasanya, sehabis pulang dari dakwah dan mendapat uang, lalu saya (Sukriyanto, penulis buku ini) yang diutus untuk mengantarkan uang itu kepada Bapak H. Zubeir Kohari (Allahu Yarham) atau Bapak   Djindar Tamimy. Melihat hal itu Fauzi (putera Pak AR yang lain dan kini dokter) nyeletuk bilang ”Talang kok ora teles”(Talang kok tidak basah). Kata Pak AR  :” Ini talang plastik, jadi tidak basah”.
          Pak AR memberi penjelasan kepada anak-anaknya, bahwa kalau beliau tidak menjadi Ketua PP Muhammadiyah tentu tidak mungkin ada orang yang memberi uang sebanyak itu. Oleh karena itu, jangan sampai ada pemikiran untuk memperoleh bagian dari titipan itu.      Mereka member[ uang itu untuk Muhammadiyah, karena mereka memiliki kepercayaan dan komitmen dengan perjuangan Muhammadiyah dan saya (Pak AR) sebagai Ketua PP Muhammadiyah” kata Pak AR.
         Ini adalah contoh pemimpin yang amanah , tidak memanfaatkan jabatan untuk memperkaya diri.

(Sumber: Anekdot dan Kenangan Lepas Tentang Pak AR – oleh Sukriyanto,  2013).

Senin, 04 Mei 2020

MATI SEBELUM MATI :Tulisan – 2




 Kematian tidak hanya menimpa pemilik harta, tetapi bisa juga menimpa pemilik ilmu pengetahuan. Ilmu yang dimiliki seseorang kadang hanya untuk kepentingan sendiri. Sejak kecil, seseorang menuntut ilmu sampai dewasa di dalam maupun di luar negeri. Bertahun  ilmu didapat dan gelarpun diperoleh. Kemudian ilmu itu digunakan untuk mencari kekayaan, mengejar jabatan fungsional atau struktural. Ilmu itu dishare  di berbagai seminar, penelitian, atau dalam bentuk artikel jurnal internasional. Memang apabila dirupiahkan, nilai ilmu itu cukup mahal. Sebab untuk mencarinya menghabiskan uang jutaan bahkan milyaran rupiah. Ilmu mereka itu kadang harus diganti dengan pengejaran jabatan basah untuk memeroleh kehormatan sebagai eksistensi diri.
Dengan ilmu itu pula, mereka bisa mengajar kesana kemari. Mereka kadang pilih-pilih lembaga yang basah. Mereka kadang tidak mau mengajar di lembaga pendidikan yang kering lantaran merasa tidak dihargai. Penghargaan bagi mereka adalah sesuatu yang dilihat mata, dan bukan sesuatu yang dilihat hati. Perilaku ilmuwan dan intelektual seperti ini diperingatkan oleh Rasulullah saw dalam sabdanya :” Siapa yang memelajari ilmu pengetahuan untuk meraih kebanggaan dan kemuliaan dunia, maka orang itu besok pada hari kiamat tidak akan mendapat baunya surga”. (H.R. Abu Daud dari Abu Hurairah r.a.).
          Jaman  selalu berubah dan umur semakin berkurang. Suatu ketika nanti para ilmuwan itu tidak bisa lagi mengkomersialkan ilmunya. Jabatan yang dikejar-kejar pun akhirnya juga lepas dari tangan. Kekuasaanpun sirna bagaikan macan ompong. Saat-saat seperti inilah yang kadang menghantui para ilmuwan yang takut untuk pensiun. Setelah pensiun mau mengerjakan apa ?.
          Ilmuwan yang meninggal dengan meninggalkan rekaman ilmunya, maka ini berarti bahwa mereka hidup (pemikiran) dalam kematian (jasad). Dengan demikian orang lain masih bisa berguru, memelajari, bahkan mengembangkan pemikirannya. Hal ini tentunya berbeda dengan ilmuwan yang tidak meninggalkan karya, jejak langkah yang monumental. Mungkin nama mereka lama kelamaan hilang dari percaturan bidangnya bersamaan dengan pisahnya roh dari jasad.
          Mengenai pengabadian nama, ada yang berpesan kepada keluarganya agar nama . gelar, dan keahliannya ditulis di batu nisan apabila dia teah meninggal. Hal ini dimaksudkan agar orang yang membacanya masih mengagumi kehebatannya dan menghormatinya.Ada pula yang berpesan agar besok kalau sudah mati supaya dibuatkan patung besar sebagai potret dirinya.
          Agar manusia tidak mati dalam hidup ini, kiranya perlu adanya produktivitas sesuai potesi masing-masing. Produktivitas inilah  nantinya yang akan memberikan manfaat setelah seseorang meningga dunia. Betapa banyak orang yang sudah meninggal dunia, tetapi mereka itu seolah-olah masih hidup di antara kita. Pemikiran, teori, dan ajaran-ajaran mereka masih bisa kita pelajari melalui rekaman dan tulisan yang mereka tinggalkan. Firman Allah swt dalam Al Quran S. Al Baqarah: 154 :” Dan janganlah kamu mengatakan bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah , mereka itu telah mati. Sebenarnya (mereka) itu hidup (di aam lain yang bukan alam kita), tetapi kamu tidak menyadarinya”.
          Umur merupakan masa hidup orang yang bisa memiliki nilai positif atau negatif yang bertalian dengan tingkat produktivitas seseorang. Oleh karena itulah, maka untuk memeroleh kualitas produk, kita dituntut untuk bekerja keras (hard work), bekerja efektif, dan bekerja cerdas (smart work). Konsep bekerja keras ini kiranya dianjurkan oleh agama-agama besar dunia dan para tokoh peradaban.
Habis

Lasa Hs.

Jumat, 01 Mei 2020

IKHLAS BERPUASA


        

Ibadah puasa merupakan bentuk ibadah yang tersembunyi. Artinya pelaksanaan ibadah yang satu ini tidak bisa diketahui orang lain.  Hal ini berbeda dengan ibadah shalat, ibadah haji, umrah, zakat, dan lainnya yang pelaksanaannya diketahui banyak orang. Maka ada kemungkinan dalam pelaksanaan ibadah ini dicampuri hawa nafsu; pamer, riya’, sum’ah, kepentingan jabatan, dan lainnya. Sedangkan dalam ibadah puasa betul-betul suatu ibadah yang menuntut pengendalian hawa nafsu dan berdimensi rohaniah yang tinggi.
Ibadah sembunyi ini dapat ditinjau dari berbagai dimensi, seperti pengendalian hawa nafsu, kesehatan, sosial, ekonomi, dan segi niat/motivasi. Motivasi ibadah akan memengaruhi kualitas ibadah itu sendiri dan pengaruh terhadap kepribadian seseorang. Ibadah mahdhah (seperti puasa) maupun amal shaleh yang dilaksanakan dengan ikhlas akan membentuk pribadi yang betul-betul muttaqin  dan akan memberikan kedamaian dalam kehidupan ini. 
Kata ikhlas  berasal dari bahasa Arab khalasha bentuk akar katanya adalah khulushon atau khalashon  yang berarti jernih dan bersih dari pencemaran. Misalnya ada kata khalashus saminu berarti samin yang murni. Kata khalasha bisa juga diartikan dengan selesai, misalnya kata khalashtu berarti aku telah selesai (mengerjakan sesuatu). Maka kata ikhlash menunjukkan pengertian bersih, jernih, dan suci dari campuran dan pencemaran. Sesuatu yang murni itu berarti bersih tanpa campuran, baik bersifat materi maupun non materi. Hal ini berarti bahwa perbuatan ikhlas itu adalah perbuatan yang betul-betul mengharap ridha Allah dan bersih dari berbagai kepentingan.Semua kegiatan itu bukan sekedar kepuasan hawa nafsu, tetapi dilakukan semata-mata demi Allah. “Katakanlah, sesunguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah semata, yakni Tuhan Semesta Alam”.(Q.S. Al An’am: 162).
Kata ikhlas memang mudah diucapkan tetapi sulit dilaksanakan. Namun demikian bukan berarti bahwa yang sulit itu tidak bisa dilaksanakan. Sebab sering terjadi bahwa apa yang sulit bagi orang lain, maka belum tentu sulit bagi kita. Sebaliknya, ada sesuatu yang sulit bagi kita, tetapi ternyata sangat mudah bagi orang lain.
Jiwa yang ikhlas sebenarnya merupakan implementasi dari buah iman yang kokoh. Adanya iman yang kokoh akan mendorong seseorang untuk melakukan kegiatan yang manfaat pada dirinya dan pada pihak lain. Perbuatan yang ikhlas merupakan perbuatan yang digerakkan oleh hati sanubari yang bersih dan tidak dicampuri oleh nafsu yang buruk (sayyiah).
          Niat berbuat ikhlas ini memang tersembunyi sebagaimana tersembunyi perbuatan buruk pada diri seseorang. Sebab memang sebagian besar manusia itu suka menutupi kekurangan diri. Maka menutupi atau tidak menampakkan amal baik inilah termasuk tanda-tanda ikhlas. Dalam hal ini Yahya bin Mu’adz menyatakan bahwa ikhlas itu memisahkan amal saleh dengan aib sebagaimana perbedaan susu dan darah (Ihya’ Ulumuddin jaz 4: 366).
Dengan demikian, maka pribadi yang ikhlas itu dapat diumpamakan orang yang membersihkan beras dari kerikil-kerikil kecil. Beras yang telah dibersihkan dari kerikil-kerikil itu apabila dimasak tentunya rasanya enak. Demikian halnya dengan perbuatan ikhlas, tentunya akibat perbuatan itu akan dirasakan enak oleh orang lain dan yang berbuat. Sebab apa yang diperbuat itu dilakukan dengan lilo legowo.
        Apabila ibadah puasa dilaksanakan dengan keihklasan, maka efek kepribadian dan rewardnya sangat tinggi. Sebab tinggi rendahnya reward itu tergantung pada tinggi rendahnya niat/moltivasi. Dalam hal ini dapat disimak apa yang tersirat dari sabda Nabi Muhammad saw  yang artinya:” Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan hanya mengharap pahala dari Allah (ikhlas), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni”. (Muttafaq ‘alaih; al Bukhari no. 38, dan Muslim, no. 760).
Ampunan dosa merupakan nilai yang tak terhingga bagi seorang hamba yang penuh salah dan dosa ini. Namun nilai yang tinggi itu tidak begitu mudah didapat, kalau tidak didukung oleh niat/motivasi yang imanan wahtisaban.(iman dan bersungguh-sungguh).
 Kesungguhan ini akan timbul apabila didorong oleh hati yang bersih, ikhlas dan jauh dari kepentingan duniawi. Hal ini lebih jelas dan lebih tegas lagi dinyatakan dalam sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. :” Allah telah berfirman: Semua amal anak Adam (manusia) dapat dicampuri kepentingan hawa nafsu, kecuali puasa.Maka puasa itu melulu untukKu dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Puasa itu bagaikan perisai, maka apabila seseorang sedang berpuasa janganlah berkata keji dan suka menimbulkan keributan. Apabila ada orang lain mencaci makinya dan/atau mengajak berkelahi/berselisih hendaknya dikatakan kepadanya :”Aku sedang berpuasa”. Demi Allah yang jiwaku ada di tanganNya, bau mulut orang yang puasa bagi Allah lebih harum dari bau misik (kasturi). Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembiraan, yakni gembira ketika berbuka puasa dan kegembiraan yang luar biasa  ketika menghadap kepada Tuhannya lantaran menerima pahala/reward puasanya”. (H.R. Bukhari dan Muslim).    
Tidak mudah memang untuk menegakkan keiklasan, sebab manusia itu pada dasarnya adalah makhluk yang lemah. Syetan selalu mengintai manusia. Syetan mengetahui gerak gerik manusia, sedangkan manusia tidak mengetahui gerak gerik syetan. Menyikapi kondisi seperti ini, Sofyan Ats Tsauri ulama terkena  pernah menyatakan :”Sesuatu yang paling sulit bagiku untuk aku luruskan adalah niatku, karena begitu seringnya berubah-rubah.
         
Lasa Hs




MANUSIA dan DERITA



Pada umumnya, orang kepingin hidup senang terus. Rata-rata mereka itu tidak mau menderita. Namun , mereka sering lupa bila suka, mengeluh bila menderita. Manusia kerap lupa bersyukur, abai membersihkan harta, dan lalai menjaga kesehatan. Bila derita menimpa, mereka lupa salah dan dosa.  
Hidup itu naik turun, kadang bahagia dan kadang menderita. Ketika menderita, kadang begitu mudah menyalahkan pihak lain. Sedangkan hidup manusia itu tidak lepas dari cobaan. Cobaan itu ada yang menyenangkan dan ada yang menyusahkan.
Allah swt berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah: 155: ”Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”.
          Dari firman tersebut dapat dipahami bahwa setelah manusia menerima coban, Allah swt menjanjikan berita gembira bagi orang mukmin yang sabar. Bisa jadi setelah cobaan dan derita itu, manusia menyadari salah dan dosanya. Kesalahan itu mungkin dalam ibadah mahdhah seperti ibadah haji/umrah sekedar selfi-selfi. Mereka puasa hanya sekedar gengsi. Mereka infak shadaqah sekedar kebanggaan misalnya. Bahkan suka pamer kekayaan di kala musim penderitaan begini. Begitu pula, bila mereka mendengar   adzan, justru pura-pura tidak mendengar, menyepelekan panggilan Allah swt.  Mereka sibuk dengan kegiatan duniawi; rapat, mengajar, bisnis., bahkan tidur.      
          Ketika manusia dirundung derita, sikap yang ditunjukkan adalah merenung, melamun, diam, sedih, dan emosi tidak stabil. Mereka justru kadang malas ibadah, malas bekerja, dan bisa putus atas.
          Derita yang menimpa manusia tentu memiliki nilai tersendiri. Hal ini tergantung apakah kita meyakini atau tidak. Lebih dari itu, kita hanyalah manusia biasa yang memiliki keterbatasan kemampuan akal dan usaha. Oleh karena itu sebagai seorang mukmin, perlu meyakini kebenaran firman Allah swt bahwa:
1.      Apapun yang diberikan Allah bukan berarti kebencian.
Kenikmatan dan kesusahan yang diberikan Allah kepada kita bukan menunjukkan kebencian. Di balik penderitaan tentu ada kebaikan asal manusia sabar dan mau menyadarinya.
Allah swt menegaskan hal ini dalam Al Quran S. Adh Dhuha: 3 – 5:”Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu. Dan sungguh, di kemudian hari (waktu) akan lebih baik bagi kamu dari permulaan. Dan sungguh kelak Tuhanmu pasti memberikan karuniaNya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas”.
2.     Di  balik kesulitan (penderitaan, kesusahan) tentu ada kemudahan (kebaikan, nilai, hikmah). Hal ini ditegaskan Allah swt dalam Q.S. Asy Syarh: 5 – 6:”Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu (tentu) ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu (tentu) ada kemudahan”.
Hikmah di balik derita itu akan diketahui oleh orang-orang diberikan hukmah kebijaksanaan, hatinya bersih, dan bersikap husnud dzan.
          Ibnul Qayyim mengatakan :”Andaikata kita bisa menggali hikmah yang terkandung dalam ciptaan Allah, maka tidak kurang dari ribuah hikmah yang bisa diambil saripatinya. Namun akal manusia terbatas dan pengetahuan kita terlalu sedikit. Ilmu semua makhluk di dunia ini bukan apa-apa bila dibanding dengan ilmu Allah. Perbandingan itu ibarat lilin di bawah sinar matahari di siang hari. Inipun masih sekedar perkiraan, Adapun keadaan sebenarnya tentu saja lebih dari itu”.
          Sungguh mulia, bila kita menyadari bahwa di balik derita, kita perlu evalusai diri tentang salah dan dosa kita. Kemudian meningkatkan ibadah mahdhah dan kesalehan sosial kita. Dengan sabar, ikhlas, dan tawakkal menerima derita. Dengan terus bangkit mencari solusi atas musibah yang menimpa. Janji Allah menunggu di ujung segala usaha itu.

Lasa Hs