Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Seminar Layanan Prima di UAD

oleh Dr. Muhammad Sulhan,SIP.,M.Si. dan Drs. Tedi Setiadi,M.T.

Munas di solo

Foto bareng pemateri

Rabu, 27 November 2019

Kunjungan Setjen dan Badan Keahlian DPR RI di Perpustkaaan UMY

Selasa, 26 November 2019 Setjen dan Badan Keahlian DPR RI berkunjung ke Perpustkaaan UMY. Kunjungan tersebut dalam rangka untuk melakukan Focus Group Discussion (FGD dengan Pustakawan UMY . FGD tersebut fokus pada pembahasan Pengembangan Desain dan Konten Website Pusat Penelitian Setjen dan Badan Keahlian DPR RI. Moderator Setjen dan Badan Keahlian DPR RI Rizki Roza, S.Ip., M.Si., menjelaskan salah satu alasan mereka memilih Perpustakaan UMY dikarenakan UMY memberikan hak akses full text pada website repository, sehingga mereka penarasan apa yang melatarbelakangi hal tersebut. 
Novy Diana F. selaku Ka.Ur. Sistem Informasi dan Manajemen Pengetahuan menjelaskan bahwa UMY memberikan hak akses full text dimulai dari tahun 2016. Ada beberapa hal yang melatarbelakangi hal tersebut, yaitu :
  1. Perpustakaan UMY rutin mengadakan pelatihan literasi informasi, salah satu materinya yaitu penelusuran referensi dan teknik penulisan. Sehingga skripsi, tesis, maupun disertasi mahasiswa UMY terbebas dari plagiasi
  2. Sebelum skripsi, tesis, dan disertasi diujikan terlebih dulu diawali dengan cek similarity, sehingga hal tersebut dapat meminimalisir terjadinya plagiasi.
  3. Jika skripsi, tesis, dan disertasi mahasiswa UMY ditayangkan secara full text, maka semua orang dapat mengkontrolnya, sehingga jika terdapat plagiasi maka semua orang dapat melaporkannya. Diharapkan dengan adanya kebijakan tersebut mahasiswa UMY semakin berhati-hati dalam mengerjakan karya ilmiahnya masing-masing
Dalam kesempatan itu juga dibahas mengenai bagaimana para dosen mengunggah karya ilmiah masing-masing di repository UMY, hal tersebut menjadi salah satu hal yang menarik dan diharapkan dapat diterapkan pada Website Pusat Penelitian Setjen dan Badan Keahlian DPR RI. 

Selasa, 26 November 2019

PERPUSTAKAAN SEBAGAI ORGANISASI INFORMASI : Tulisan – 2



          Komunikasi merupakan interaksi dari unsur-unsur pengirim, penerima, pesan, saluran komunikasi, dan tujuan komunikasi (Lasa Hs, 2009: 186). Kemudian komunikasi organisasi dapat diartikan sebagai pengiriman dan penerimaan pesan dalam suatu organisasi (perpustakaan misalnya) yang kompak (Redding dan Sandborn dalam Arni 2001: 65).Sedangkan yang dimaksud komunikasi dalam hal ini adalah komunikasi internal (perpustakaan). Yakni hubungan antar orang, hubungan sesama level, dan elemen lain dalam organisasi. Kemudian dalam komunikasi organisasi ini meliputi sikap, tujuan, arah, dan media komunikasi. Elemen-elemen ini besar pengaruhnya dalam proses komunikasi internal perpustakaan.
a.Hubungan antar orang
          Dalam sistem perpustakaan terjadi hubungan antar orang, baik antara petugas, petugas dengan pemustaka, pemustaka dengan pemustaka, petugas dengan pialang (salesman), dan lainnya. Hubungan antar orang ini akan menimbulkan interaksi, gesekan kepentingan, dan saling memengaruhi. Untuk mengatur hubungan antar petugas dengan petugas, maka disusunlah standar operasional prosedur (SOP) dan intruksi kerja. Maka bila perpustakaan tidak punya SOP dan instruksi kerja, akan terjadi tumpang tindih pekerjaan atau bahkan saling melempar tanggung jawab karena tugas-tugas tertentu bukan menjadi tanggung jawab mereka. Kemudian untuk mengatur hubungan petugas dan pemustaka, maka disusunlah peraturan dan tata tertib pemustaka dalam peminjaman, penggunaan internet, pengunaan ruang baca, dan lainnya.
b. Hubungan antar unit kerja
        Perpustakaan sebagai organisasi memiliki unit kerja yang berfungsi sebagai subsistem organisasi yang dalam kegiatannya memerlukan komunikasi dan informasi. Komunikasi antar unit kerja (pengolahan, pelayanan, teknologi informasi misalnya) dapat berlangsung secara vertikal dan horizontal.
c. Hubungan dengan lembaga lain
          Dalam melaksanakan kegiatannya, perpustakaan memerlukan bantuan lembaga/perpustakaan lain terutama dalam pemenuhan kebutuan informasi pemustaka. Dari upaya pemenuhan kebutuhan inilah lalu menimbulkan kerjasama antarperpustakaan dan biasanya akan berlanjut dengan pembentukan jaringan informasi. Yakni sistem terpadu  dari lembaga yang bergerak di bidang pengelolaan informasi untuk memasukkan data yang relevan tanpa memerhatikan asal maupun bentuk data untuk kepentingan pemustaka (:asa Hs., 2009: 129).
          Memang dengan adanya jaringan-jaringan ini akan membentuk sinergi dan saling membantu dalam layanan informasi. Namun dalam pelaksanaannya kadang terdapat kendala antara lain: 1) beban kerja bertambah; 2) belum adanya aturan baku tentang kerjasama; 3) persoalan anggaran; 4) keterbatasan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia; dan komplelsitas kebutuhan informasi masyarakat pemustaka.
Bersambung


Lasa Hs



Senin, 25 November 2019

Perpustakaan sebagai Organisasi Informasi : Tulisan 1




Perpustakaan dapat dipandang sebagai suatu organisasi yang disana terdapat sekelompok orang yang telah sepakat (sikap, tertulis, atau lisan) untuk menyelenggarakan kegiatan dalam rangka mencapai tujuan bersama. Aktivitas yang dilakukan perpustakaan berkaitan erat dengan informasi yang diperlukan oleh masyarakat.
            Sebagai organisasi, perpustakaan dapat dipandang sebagai organisasi pelayanan  lingkungan (environmental serving organization), sebagai organisasi nirlaba, sebagai organisasi kewirausahaan, dan sebagai organisasi informasi.
Organisasi lingkungan
            Sebagai organisasi, perpustakaan dapat dipandang sebagai organisasi pelayanan lingkungan lantaran memberikan layanan informasi pada lingkungan sendiri dan sekitar sesuai tugas pokok dan fungsinya. Perpustakaan sekolah memberikan layanan informasi kepada siswa, guru, dan tenaga kependidikan, maupun orang tua/wali murid seagai tugas pokoknya. Perpustakaan perguruan tinggi memiliki tugas pokok memberikan layanan informasi kepada sivitas akademika. Demikian pula dengan perpustakaan desa, kecamatan, kabupaten/kota,  provinsi, dan nasional.
Organisasi nirlaba
            Perpustakaan disebut sebagai organisasi nirlaba, karena dalam kegiatannya tidak mementingkan keuntungan secara materi. Perpustakaan memberikan jasa yang tidak harus diganti dengan materi. Pemberian jasa informasi ini untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai cita-cita bersama. Apabila masyarakat maju, maka negara akan kokoh.
Organisasi kewirausahaan
            Untuk mendukung kegiatan perpustakaan dapat dilakukan aktivitas kewirausahaan seperti menyediakan jasa foto kopi, terjemahan, kafetaria, kursus bahasa asing, pendidikan ketrampilan. Usaha ini sekedar untuk membantu biaya operasional dan sebagai layanan tambahan kepada pemustaka.
Organisasi informasi
Diakui sebagai organisasi informasi karena dalam kegiatannya sangat erat dengan bidang informasi dan informasi itu untuk menggerakkan organisasi. Oleh karena itu informasi yang diterima perpustakaan harus dimenej dengan baik agar dapat diakses dengan mudah, cepat, dan tepat.
            Perpustakaan sebagai organisasi yang mengelola sumber-sumber informasi sebenarnya juga memerlukan informasi dan media komunikasi untuk melaksanakan tugas-tugas sebagai organisasi. Pada prinsipnya, perpustakaan memerlukan informasi karena organisasi yang baik adalah organisasi yang dinamis, komunikatif, aspiratif, dan informatif.
a.Dinamis
        Perpustakaan sebagai organisasi akan selalu tumbuh dan berkembang. Perkembangan ini mengikuti perkembangan kebutuhan informasi masyarakat. Sebab masyarakat yang maju akan selalu memerlukan informasi yang akurat untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.
          Untuk pemenuhan kebutuhan kualitas informasi ini, perpustakaan memerlukan berbagai informasi, jenis koleksi, maupun tataletak gedung/ruang yang memadai.
b. Komunikatif
          Perjalanan organisasi akan lebih lancar apabila di dalam organisasi itu terjadi proses komunikasi yang lancar, transparan, tepat, dan benar. Kelancaran komunikasi antara pimpinan dan anak buah maupun sesama, besar pengaruhnya dalam peningkatan kinerja organisasi. Sebab dengan kelancaran komunikasi ini akan mengurangi kesalahpahaman dan kecil kemungkinan terjadi tumpang tindihnya pelaksanaan tugas dan kewajiban masing-masing.
c. Aspiratif
          Suatu organisasi akan lebih solid apabila didukung oleh sebagian besar masyarakatnya. Semakin banyak komunitas pendukung, maka kedudukan perpustakaan semakin kokoh. Maka disinilah perlunya perpustakaan memiliki kemampuan mengakomodir aspirasi mereka (mahasiswa, dosen misalnya). Apabila perpustakaan tidak mampu memperhatikan aspirasi mereka, maka lama kelamaan akan ditinggalkan masyarakatnya. Oleh karena itu pimpinan perpustakaan tidak perlu ambisi mementingkan kemajuan diri sendiri dengan mengabaikan pengembangan anak buah, dan pengelolaan perpustakaannya stagnan. Kepmimpinan yang kurang aspiratif ini akan mengaburkan layanan perpustakaan.
d. Informatif
          Bahan informasi yang diterima perpustakaan perlu diseleksi lebih dulu agar memiliki nilai dan betul-betul bermanfaat kepada pemustaka. Maka bahan informasi yang diterima dan disajikan itu harus memenuhi syarat ketersediaan, mudah dipahami, keandalan, manfaat, relevan, dan akurat.

Bersambung...


Lasa Hs.

Bung Karno : Demokrasi Terpimpin Milik Rakyat Indonesia

Sinopsis :
Judul buku : Bung Karno : Demokrasi Terpimpin Milik Rakyat Indonesia
Penyunting : Wawan Tunggul Alam
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


Untuk menjadi bangsa yang besar, kita harus mengenal pemikiran orang-orang besar. Tidak diragukan, kita memiliki orang besar yang reputasinya diakui oleh dunia pada zamannya. Dialah Soekarno, Presiden RI Pertama.

Karena keterbukaan pikirannya, ia tidak ragu menyerap ide-ide besar yang bergulir pada zamannya, sekalígus mengenali dan berusaha menghidupi tradisi pemikiran dan budaya bangsanya sendiri. Ide-ide itu bergolak dalam benaknya dan muncul sebagaí semacam sintesis, yang akan tercermin dalam ucapan dan tulisannya.

Sebagai salah seorang Founding Fathers negeri ini, ia telah meletakkan dasar-dasar kehidupan sosial politik kita. Karena itu, mempelajari pemikirannya, berarti menyelami akar-akar keberadaan kita sebagai bangsa ini. Dalam konteks itulah, buku ini membahas tentang Kumpulan Pidato Bung Karno di sekitar Demokrasi Terpimpin. Ide Ide itu sepantasnya kita bedah, kita olah kembali, kita revitalisasi, dan bahkan mungkin harus kita kritik, untuk memunculkan ide baru yang lebih baik bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Rabu, 20 November 2019

LANGKAH-LANGKAH PENGAJUAN AKREDITASI PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI

Bagi pustakawan PTMA yang ingin mengajukan akreditasi Perpustakaan, berikut langkah-langkah yang harus dilakukan telah disusun Oleh Bp. Lasa Hs. silakan download pada link berikut

Manajemen Dakwah Muhammadiyah

Mendekati usia satu abad Muhammadiyah, tugas dakwah Muhammadiyah sangatiah berat, terlebih lagi menghadapi kompleksitas permasalahan dalam era globalisasi. Muhammadiyah dituntut melakukan upaya-upaya pemodeman dan profesionalisme pengelola dakwah. Tentu saja hal ini bukan merupakan tugas ringan, karena kalau berbicara profesionalisme pengelolaan dakwah mau tidak mau Muhammadiyah harus menjalankan prinsip manajerial dalam pengelolaan dakwah.

Bagi Muhammadiyah dengan predikat organisasi modern tentu saja prinsip-prinsip manajerial bukanlah hal yang asing. karena diakui atau tidak atribut organisasi dimana prinsip atau logika modemitas sudah begitu kuat melekat. Sehingga yang harus dilakukan oleh Muhammadiyah di masa mendatang adalah bagaimana mentajdidkan kembali prinsip-prinsip pengelolaan persyarikatan dan peningkatan kualitas pengelolaan dakwah. Tanpa bemaksud memberikan resep jitu, buku ini paling tidak memberikan gambaran bagaimana pengelolaan dakwah persyarikatan harus dilakukan dan bagaimana modelimplementasi prinsip manajerial di dalam pengelolaanorganisasi, pengelolaan program, dan pengelolaan kegiatan- kegiatan dapat diterapkan

Sinopsi
Judul : Manajemen Dakwah Muhammadiyah
Penulis : H.A Rosyad Sholeh
Penerbit : Suara Muhammadiyah

Minggu, 17 November 2019

REKOMENDASI KONFERENSI PERPUSTAKAAN DIGITAL INDONESIA (KPDI) 12 Banda Aceh, 12-13 November 2019

REKOMENDASI KONFERENSI PERPUSTAKAAN DIGITAL INDONESIA (KPDI) 12
Banda Aceh, 12-13 November 2019


Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) 12 yang berlangsung di Banda
Aceh, 12-13 November 2019 merekomendasikan hal-hal berikut:

  1. Pembangunan Bidang Perpustakaan di Indonesia telah masuk dalam arusutama Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024, melalui Prioritas Nasional Revolusi Mental dan Pembangunan Kebudayaan, yang diturunkan dalam Program Prioritas Meningkatkan Literasi, Inovasi dan Kreatifitas, melalui Kegiatan Prioritas Nasional (a). Peningkatan BudayaLiterasi dan; (b). Penguatan institusi Sosial Penggerak Literasi dan Inovasi.
  2. Sesuai dengan Arah Kebijakan dan Strategi Pembangunan BidangPerpustakaan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional2020-2024 tersebut, pembangunan perpustakaan digital di Indonesia kedepan harus disinkronisasikan melalui Rencana Strategis PembangunanPerpustakaan Digital Nasional 2020-2024, yang akan disusun oleh ForumPerpustakaan Digital Indonesia (FPDI) dan dimasukkan dalam rencana kerjaFPDI 2020.
  3. Pembangunan Perpustakaan Digital Indonesia akan diorientasikan untukmenunjang pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang unggul danberdaya saing, melalui (a). peningkatan konektifitas masyarakat terhadap berbagai sumber informasi dan pengetahuan; (b). peningkatan akses danketersediaan sumber informasi dan pengetahuan terbuka dan; (c).penguatan konteks sumber daya informasi dan pengetahuan sesuaikebutuhan informasi bagi setiap warga negara Indonesia
  4. Pembangunan Perpustakaan Digital Indonesia akan dilaksanakan secarainklusif untuk meningkatkan daya guna perpustakaan dalam meningkatkankesejahteraan masyarakat.
  5. Sesuai dengan mekanisme baku organisasi, untuk menjaminkeberlangsungan organisasi secara sehat, perlu dilaksanakan alihkepengurusan FPDI Periode 2015-2019 ke periode berikutnya. Untuk ituRapat FPDI yang berlangsung pada 12-13 November 2019 menetapkan Saudara Jonner Hasugian sebagai Ketua Forum Perpustakaan DigitalIndonesia Periode 2019-2023, dan diberikan waktu 1 bulan setelah ini untukmembentuk kepengurusan lengkap.
  6. Tema Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) 13 adalah:"Revitalisasi perpustakaan digital dalam percepatan transformasi"masyarakat informasi" menuju "masyarakat sejahtera".
  7. Tuan Rumah PenyelengaraanKonferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) 13 adalah UNS Surakarta


    Banda Aceh, 13 November 2019
    Forum Perpustakaan Digital Indonesia



    Prof. Zainal Hasibuan, Ph.D.

Jumat, 15 November 2019

Prof. K.H. Abdoel Kahar Mudzakir – Pahlawan Nasional


Perjuangan di Indonesia.

Setelah lulus dari Universitas Darul ‘Ulum pada tahun 1936, Kahar Mudzakir kembali ke Indonesia. Beliau aktif di Muhammadiyah, dan diangkat sebagai Direktur Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah. Disamping itu, beliau juga aktif dalam bidang politik.
            Pada mulanya, beliau diminta memberikan ceramah kepada para anggota Parindra di Yogyakarta. Maka sesuai dengan asas hidupnya, kemudian beliau ikut berperan serta dalam Partai Islam Indonesia (PII) yang berpusat di Yogyakarta. Saat itu, PII diketuai oleh Dr. H. Sukiman Wiryosanjoyo dan Wiwoho Purbohadijoyo dengan Sekretaris Jendral Mr.R.H.A. Kasmat.
            Di masa pendudukan Jepang, Kahar Mudzakir dipercaya sebagai Wakil Kepala Kantor Urusan Agama (Gunseikanbu Syumbu Zicho). Mulai saat itulah, beliau memiliki hubungan dengan pemimpin-pemimpin nasional Indonesia seperti Bung Karno, Bung Hatta, dan lainnya. Maka dalam kedudukannya sebagai tokoh Islam, beliau dipercaya duduk dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) bersama dengan tokoh-tokoh lainnya. Dalam perjalanannya, beliau termasuk salah seorang penanandatangan Piagam Jakarta (Jakarta Charter) pada tanggal 22 Juni 1945. Penandatangan lain adalah; Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, K.H.Wahid Hasyim, Abikusno Cokrosuyoso, Mr. A.Subardjo, Mr. Maramis, Mr. Mohammad Yamin, dan Kahar Mudzakir. Tim ini kemudian dikenal dengan Tim Sembilan.
            Pada detik-detik menjelang kemerdekaan, para tokoh umat Islam telah memikirkan pentingnya umat Islam memiliki perguruan tinggi Islam. Maka para tokoh Islam saat itu menyelenggarakan pertemuan yang membahas berdirinya perguruan tinggi Islam. Petemuan yang diketuai oleh Bung Hatta itu membentuk pengurus pendirian perguruan tinggi Islam dengan Mr. Suwandi sebagai Wakil Ketua, Dr. Ahmad Ramali sebagai Sekretaris, dan para anggota terdiri dari; K.H. Farid Ma’ruf, K.H. Fathurrahman Kafrawi, Kartosudarmo, dan Kahar Mudzakir. Dalam pertemuan itu disepakati untuk mendirikan Sekolah Tinggi Islam yang mulai dibuka pada tanggal 8 Juli 1945 berlokasi di Gedung Kantor Imigrasi Pusat Gondangdia Jakarta. Dalam hal ini, Kahar Mudzakir dipercaya sebagai Rektor STI, sedangkan Bung Hatta sebagai Ketua Dewan Kurator. Perguruan tinggi ini, setelah kemerdekaan pindah ke Yogyakarta.
            Dalam perkembangan selanjutnya, STI ini berubah menjadi Universitas Islam Indonesis (UII). Sedangkan Fakulas Agama diambil alih oleh Departemen Agama dijadikan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAIN) yang di kemudian hari ada yang berkembang menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) atau Universitas Islam Negeri.
            Jabatan Prof. Kahar Mudzakir di UII, selain sebagai Rektor, juga pernah dipercaya sebagai Dewan Kurator, Dekan Fakultas Hukum, dan Ketua Panitia pencari dana perlengkapan Universitas Islam Indonesia itu.
            Kiprahnya di Muhammadiyah, kecuali pernah menjadi Direktur Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yoyakarta, pada tahun 1958 beliau memelopori berdirinya Akademi Tabligh Muhammadiyah dan belia sebagai Deknnya. Dalam perkembangannya, akademi ini berkembang menjadi FIAD Muhammadiyah.
            Dalam perjuangan Kemerdekaan Indonesia, Kahar Mudzakir menjadi salah seorang pemimpin Angkatan Perang Sabil (APS) di Yogyakarta. Sebagaimana diketahui bahwa pasukan ini dikenal keberaniannya melawan tentara Belanda, Untuk itu, APS ini pernah mendapat peghargaan dari Panglima Besar Jendral Soedirman dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX.
            Dalam bidang politik, Kahar Mudzakir pernah menjadi anggota KNIP, dan menjadi Ketua Umum Masyumi DIY, bahkan mewakili Masyumi menjadi anggota Konstituante. Dalam kehidupan kemasyarakatan keagamaan, beliau pernah menjadi anggota Pengurus Yasma (Yayasan Asrama dan Masjid) yang mengyrusi Masjid Syuhada Yogyakarta. Juga pernah menjadi Ketua Umum Pusat Persaudaraan Jamaah Haji Indonesia DIY dan pernah menjadi Penasehat PITI DIY. Juga pernah menjadi Penasehat Panitia Pembantu Kurban Perang Pembebasan Palestina  dan Masjidil Aqsha Yogyakarta.
            Karya tulis beliau yang berupa terjemahan; 1) Pengantar Untuk Memelajari Syariah Islamiyah (terjemahan dari Al Mad khal  Li Dirasatil Fiqhil Islamy) karangan Prof. Dr.Yusuf Musa; 2) Piagam Persatuan Bangsa-Bangsa dalam Islam  (terjemahan dari Mitsaqatul Umam Wasy Syu’ub) karya Dr. Abdul Fatah Hasan , Wakil Hakim Tinggi Majelis Daulah Kairo; 3)  
Rektor UII pertama kali itu (8 Juli 1945 – 1960) itu wafat 2 Desember 1973 dalam usia 66 tahun. Beliau meninggalkan suri tauladan perjuangan dalam politik, Islam, pendidikan, dan berMuhammadiah. Presiden RI. Ir. Joko Widodo menganugerahkan Gelar Pahlawan Nasional kepada Prof. K.H. Abdoel Kahar Mudzakir pada peringatan Hari Pahlawan Nasional 10 Nopember 2019. Tokoh lain yang mendapat Gelar Pahlawan Nasional tahun ini adalah; Prof. Dr. M. Sardjito, Ruhana Kuddus, Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi,  dan DR (HC) MR. AA.Maramis, dan K.H.Masjkur.
Selesai

(Sumber : 100 Tokoh Muhammadiyah Yang Mengispirari, 2014 dan Kedaulatan Rakyat 10-11-2019, ditulis kembali oleh Lasa  Hs).



Minggu, 10 November 2019

PERPUSTAKAAN dan PENELITIAN Tulisan – 3 Peran Perpustakaan




b. Penyedia jasa penelusuran
            Perpustakaan sebagai lembaga informasi menyelenggarakan bermacam-macam pelayanan informasi seperti sirkulasi, referensi, terjemahan, literasi informasi, dan penelusuran literatur. Melalui jasa ini, peneliti dapat memperoleh berbagai informasi, data, maupun literatur terkait dengan tema penelitian mereka. Untuk itu mereka perlu melakukan studi literatur primer, dan literatur sekunder. Dari literatur primer  ini, para penelitian  memroleh data asli serta pemikiran awal dari ilmuwan lain.
c. Pendokumentasi hasil penelitian
            Setelah selesai proses penelitian, biasanya peneliti diwajibkan untuk menulis laporan penelitian. Laporan ini biasanya diserahkan kepada penyandang dana sebagai bentuk tanggung jawab atas dana yang diberikan. Mereka jarang menyerahkan hasil laporan ini ke perpustakaan terkait.
            Sebenarnya perpustakaan bisa menampung, mengolah, mendokumentasikan, bahkan mensosialisasikan hasil penelitian tersebut kepada masyarakat. Dengan demikian hasil penelitian ini akan memiliki makna lebih luas.
d. Penyebar hasil penelitian
            Andaikata para peneliti menyadari pentingnya hasil penelitian itu diketahui masyarakat luas, maka mereka akan menyerahkan hasil penelitian mereka ke perpustakaan. Pada umumnya para peneliti kurang menyadari betapa besar peran perpustakaan dalam ikut serta mensosialisasikan hasil penelitian itu.
            Apabila semua hasil penelitian diserahkan ke perpustakaan terkait, maka perpustakaan itu akan mengelolanya secara profesional. Maka akan terjadi sistem transformasi keilmuan yang baik. Dengan adanya kerjasama yang baik antara perpustakaan dan lembaga penelitian dan masyarakat pemustaka, maka akan terjadi harmonisasi antar fungsional yang fungsional peneliti, fungsional peneliti, guru, maupun dosen.
            Perpustakaan akan mampu berperan aktif sebagai pengumpul, pengolah, pendokumentasian, dan penyebar hasil-hasil penelitian apabila:
1).Memiliki sistem kelola hasil-hasil penelitian yang standar;
2).Memiliki sumberdaya manusia yang kompeten;
3).Memiliki sarana teknologi informasi yang memadai
4) Terdapat ketentuan penyerahan hasil-hasil penelitian ke perpustakaan terkait.
            Penelitian merupakan salah satu kegiatan yang penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Dalam proses penelitian ini, belum optimal pemanfaatan perpustakaan oleh para peneliti. Padahal antara kegiatan    penelitian dan kegiatan penelitian terdapat unsur timbal balik yang saling membutuhkan.
            Proses penelitian akan berjalan baik apabila ditunjang dengan proses kajian pustaka dan jasa perpustakaan. Setelah selesai penelitian, maka hasil-hasil penelitian itu akan diolah,  didokumentasikan,  dan disosialisasikan oleh perpustakaan agar memiliki nilai tambah.
Habis

Lasa Hs.

Prof. K.H. Abdoel Kahar Mudzakir – Pahlawan Nasional


                                              

            Putra Kotagede Yogyakarta ini lahir 16 April 1907 di Gading Playen Gunung Kidul Yogyakarta. Beliau adalah  putra H. Mudzakir, seorang pedagang dan tokoh Muhammadiyah di Kotagede. Beliau adalah cicit dari Kiyai  Hasan Busyairi seorang pemimpin suatu tarikat dan seorang komandan Lasykar Pangeran Diponegoro. Kiyai Hasan Busyairi ikut dibuang bersama Pangeran Diponegoro dan wafat di Tondano (Minahasa) yang meninggalkan keluarga Islam di Kampung Jawa Tondano. Kakeknya adalah Kiyai Abdullah Rasyad, seorang guru agama di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, demikian pula ayahnya Kiyai Haji Mudzakir.
            Abdoel Kahar Mudzakir memeroleh pelajaran agama Islam  pertama kali  dari ayahnya sendiri. Kemudian beliau belajar di Manba’ul ‘Ulum Surakarta dan menjadi santri di Ponpes Jamsaren Surakarta dibawah asuhan K.H.Idrus, dan kemudian juga menjadi santri di Ponpes Termas Pacitan.
            Pada tahun 1924, beliau menunaikan ibadah haji, dan mukim di sana untuk memelajari agama Islam lebih mendalam. Namun situasi saat itu kurang kondusif lantaran adanya Revolusi Arab, maka beliau pindah ke Mesir tahun 1925. Dia diterima sebagai mahasiswa Universitas Al Azhar Kairo. Kemudian pada tahun 1927, beliau pindah ke Universitas Darul ‘Ulum di Kairo sampai lulus tahun 1936. Beliau mahir bahasa Arab, bahasa Assirian dan bahasa Ibrani.

Perjuangan di Luar Negeri
            Semasa di Mesir selama 13 tahun, beliau aktif berjuang bagi upaya kemerdekaan Indonesia dan bagi kebangkitan kembali dunia Islam. Beliau tampil gigih dalam perjuangan untuk Palestina yang ketika itu berada dalam mandat Inggris. Beliau menjadi salah satu tokoh mahasiswa Indonesia di Mesir memimpin “Perhimpunan Indonesia Raya” yakni organisasi gerakan mahasiswa seperti “Perhimpunan Indonesia” di negeri Belanda. Beliau juga sebagai sekjen organisasi Al Jami’ah Khairiyah.      
            Pada tahun 1930, beliau menghadiri Kongres Islam se dunia di Baitul Maqdis Palestina sebagai wakil umat Islam Indonesia. Ketika itulah nama beliau banyak dikenal di dunia Arab dan dunia Islam sebagai seorang pejuang pemuda Islam Indonesia. Sebagai anggota Kongres termuda, Kahar Mudzakir diangkat sebagai Sekretaris Kongres. Sebagai Ketua Kongres adalah H. Amin Al Hussainy Mufti Besar Palestina.
            Ketika Kahar Mudzakir di Mesir sudah mulai senang menulis di koran-koran yang terbit di negeri Arab maupun surat kabar yang terbit di Indnesia. Beliau juga pernah mendirikan kantor berita “Indonesia Raya” yang memberikan berita-berita bagi surat kabar yang terbit di dunia Arab dan Indonesia.
            Hubungan yang dimulai sejak di Mesir itu dengan dunia Arab, maka hubungan dengan dunia Arab dan dunia Islam terus berlanjut sampai akhir hayatnya. Beliau menjadi anggota Muktamar Alam Islamy dan Ketua Perwakilan Muktamar itu di Indonesia.
Bersambung


Lasa Hs

Rabu, 06 November 2019

Penelitian Sebagai Proses Keilmuan


Dalam perkembangan bangsa untuk jangka panjang diperlukan pengembangan sumberdaya manusia yang berkualitas. Kualitas sumberdaya ini dapat ditingkatkan terus menerus atara lain melalui pendidikan dan pelatihan. Proses pendidikan dan pelatihan ini sebenarnya merupakan upaya penguasaan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi/IPTEK.. Dengan perkembangan IPTEK diharapkan mampu mendorong tercapainya kesejahteraan manusia.
            Proses pengembangan ilmu pengetahuan ini dapat dilakukan melalui tatap muka, penulisan, maupun peelitian. Penelitian pada hakikatnya adalah metode studi yang dilakukan melalui penyelidikan dengan hati-hati tentang suatu masalah. Dari hasil penelitian ini akan diketahui fenomena-fenomena yang selanjutnya akan berkembang menjadi gagasan, ide, rumusan, dan konsep. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penelitian senenarnya merupakan proses pencarian ilmu pengetahuan terhadap suatu bidang yang berlangsung terus menerus.
            Proses penelitian sangat penting dalam pengembangan kehidupan intelektual bangsa. Sebab dengan adanya peningkatan hasil-hasil penelitian ini akan semakin pesat pengembangan ilmu pengetahuan. Maka tidak heran bila akhir-akhir ini mulai menjamur lembaga-lembaga penelitian yang muncul. Sedangkan Pemerintah juga meningkatkan anggaran penelitian dari tahun ke tahun.
            Penelitian memang memegang peran penting dalam rangka memberikan dasar maupun fondasi dalam pengambilan keputusan segala aspek pembangunan. Kiranya sulit dibayangkan bagaimana suatu rencana    pembangunan akan dapat berjalan dengan baik apabila tidak didukung oleh penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan.
            Seorang peneliti sebelum melakukan penelitian, semestinya mereka itu melakukan persiapan awal. Sekurang-kurangnya mereka akan menyusun suatu rencana kerja yag dituangkan dalam bentuk proposal. Yakni suatu rencana tertulis yang akan diikuti dengan kegiatan nyata. Kemudian apabila dilihat dari segi lain, maka proposal ini masih dapat dianggap sebagai suatu rencana yang bersifat tentatif.
            Dalam penyiapan proposal ini, seorang calon peneliti harus melakukan kajian teori, merumuskan masalah, mengemukakan hipotesis, dan penyusunan penelitian. Disamping itu, perlu diperhatikan bahwa penelitian dapat ditinjau dari segi keilmuan, metode keilmuan, dan kepentingan penelitian (Sudjana, 2003: 21 – 22). Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut harus dilakukan penelusuran literatur dan informasi dari sumber cetak maupun digital.
Peran Perpustakaan
            Untuk menunjang kepentingan penelitian dan mengembangkan ilmu pengetahuan, maka perpustakaan (terutama perpustakaan perguruan tinggi dan perpustakaan khusus) perlu melakukan antisipasi. Sebab perpustakaan ini merupakan sumber informasi utama bagi para peneliti. Dengan dukungan sumber dana dan sumber daya manusia, kedua jenis perpustakaan ini dapat difungsikan sebagai perpustakaan penelitian. Apalagi di beberapa perpustakaan khusus kini sudah memiliki subject specialist. Mereka memiliki kompetensi yang diperlukan peneliti seperti penelusuran informasi e-resources, reference tools, pengetahuan tentang antisipasi plagiasi, sitasi, gramarly, zotero, mendely dan lainnya.
            Kedudukan perpustakaan dalam proses penelitian memiliki peran strategis antara lain sebagai penyedia sumber rujukan, penyelenggara jasa penelusuran, pendomentasi hasil penelitian, dan penyebar hasil-hasil penelitian.
a.Penyedia Sumber Rujukan
            Perpustakaan sebagai lembaga keilmuan yang dalam aktivitasnya menyelenggarakan kegiatan pengumpulan, pengolahan, pendokumentasian, dan penyebaran sumber-sumber ilmu pengetahuan dan informasi. Sumber informasi ilmiah ini disediakan bagi para peminat informasi khusus seperti pendidik, peneliti, pengamat, maupun peserta didik dalam berbagai bidang
            Sumber informasi itu akan lebih berdaya guna apabila dimanfaatkan pemustaka. Oleh karena itu perpustakaan harus proaktif dalam mendorong masyarakat untuk memanfaatkan fasilitas perpustakaan secara optimal.
            Para peneliti sebelum melakukan penelitian, lebih dulu melakukan survey dan kajian pustaka. Yakni suatu langkah studi terhadap sejumlah literatur untuk memeroleh informasi dari penelitian-penelitian sebelumnya, tanpa harus terikat apakah penelitian itu menggunakan data primer maupun skunder.
            Survei terhadap data ini untuk memeroleh ide tentang masalah apa saja yang paling up to date untuk dirumuskan dalam penelitian. Dari sini juga akan diperoleh teori-teori ilmiah yang telah berkembang. Manfaat lain dengan kajian pustaka ini untuk menghindari adanya duplikasi dalam penelitian. Duplikasi ini hanya mengulang penelitian orang lain dan ini merupakan pemborosan.
            Tanpa adanya kajian literatur yang mendalam, maka kemungkinan besar akan melahirkan penelitian asal-asalan atau sekedar uji coba (trial and error). Apabila demikian, maka akan dipertanyakan validitas penelitian dan kemampuan intelektual peneliti itu sendiri.
Bersambung

Lasa Hs

Minggu, 03 November 2019

Pelantikan HIMPUSMA Sleman dan Seminar Nasional oleh Perpustakaan UNISA Yogya




Selasa, 22 Oktober 2019 bertempat di Ruang Hj Baroroh Baried, Kampus UNISA Yogyakarta, telah berlangsung Seminar Nasional yang diadakah oleh Perpustakaan UNISA Yogya. Sebelum acara seminar, terlebih dahulu dilakukan pelantikan pengurus Himpunan Pengelola Perpustakaan Sekolah Muhammadiyah (HIMPUSMA) Sleman. Pelantikan dilakukan oleh Ketua PDM Sleman yang diwakili oleh Hj. Sudarto, S.Pd, dengan saksi oleh Sekretaris PDM Sleman, Rektor UNISA Yogya, Kepala Perpustakaan UNISA Yogyakarta, dan sejumlah pejabat PDM Sleman. Setelah pelantikan dilanjutkan dengan penyerahan hibah buku sebagai aplikasi program wakaf pustaka yang sudah dicanangkan oleh FPPTMA (Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah).
Seminar Nasional kali ini mengangkat tema tentang Pengembangan Perpustakaan Kraetif dan Inovatif di Era Library 4.0. Seminar menghadirkan pembicara hebat, yaitu para pustakawan berprestasi. Pembicara pertama Arda Putri Winata, SIP, MA menyampaikan tentang bagaimana mewujudkan perpustakaan yang menarik di era 4.0 ini. Sedangkan pembicara kedua Anna Nurhayati, SIP, MA. Lebih menyampaikan tentang best practice atau aplikasi perpustakaan yang kreatif dan inovatif agar kita bisa menyesuaikan dengan perkembangan era Library 4.0. Seminar terasa sangat menarik audiens, yang dimoderatori oleh Subhi Waltono, S.I.Pust, Pustakawan SMP Muhammadiyah 7 Yogyakarta.
Peserta seminar berasal dari berbagai daerah. Sebagian besar peserta dari Perpustakaan Sekolah Muhammadiyah di wilayah Sleman dan Kabupaten/Kota di DIY. Selain itu banyak juga peserta dari Perpustakaan khusus, Perguruan Tinggi, mahasiswa Magister Ilmu Perpustakaan UGM, dan sebagainya. Hadir pula dalam seminar beberapa unsur organisasi profesi, seperti Ketua Pengurus Daerah Ikatan Pustakawan Indonesia (PD IPI) DIY,  perwakilan dari Perpustakaan Daerah Kabupaten Sleman, beberapa pejabat PDM Sleman, pengurus HIMPUSMA Kota Yogyakarta, dan pengurus ATPUSI (Asosiasi tenaga Perpustakaan Sekolah ) Yogyakarta. Ketua panitia sekaligus Kepala Perpustakaan, Irkhamiyati, M.IP, menjelaskan bahwa adanya acara ini sebagai wujud penguatan sinergi lintas sektor. Tujuannya agar perpustakaan sekolah di wilayah Sleman dan perpustakaan lainnya saling menguatkan untuk mewujudkan kemajuan bersama.

Perpustakaan UNISA Yogya Sampaikan Hibah Buku untuk Sekolah Muhammadiyah Wilayah Sleman



Dalam menjalankan amanah FPPTMA (Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah), Perpustakaan UNISA Yogya sampaikan hibah buku/wakaf pustaka untuk beberapa sekolah. Hibah buku sebagai salah satu wujud pembinaan terhadap Sekolah Muhammadiyah di wilayah Sleman. Tujuannya untuk meningkatkan pengelolaan dan layanan perpustakannya, sehingga mendorong minat guru dan siswa untuk datang dan memanfaatkan perpustakaan sekolah.


Hibah dilaksanakan pada hari Selasa, 22 Oktober 2019 di Ruang Hj Baroroh Baried, Kampus UNISA Yogyakarta. Hibah disampaikan oleh Rektor UNISA, Ibu Warsiti, M.kep., Sp.Mat, yang disaksikan oleh Kepala Perpustakaan Ibu Irkhamiyati, M.IP, dan sejumlah pejabat Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Sleman. Banyak manfaat yang dirasakan oleh penerima hibah buku ini. Harapan para pengelola Himpunan Pengelola Perpustakaan Sekolah Muhammadiyah (HIMPUSMA) Sleman agar hibah serupa sering dilakukan dan jumlahnya lebih banyak lagi, agar kemajuan Perpustakaan Sekolah Muhammadiyah di wilayah Sleman semakin merata.