Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Seminar Layanan Prima di UAD

oleh Dr. Muhammad Sulhan,SIP.,M.Si. dan Drs. Tedi Setiadi,M.T.

Munas di solo

Foto bareng pemateri

Kamis, 28 September 2017

LAGI-LAGI PLAGIASI

Masalah plagiasi kini muncul kembali ke permukaan dan menjadi pembicaraan umum. Plagiasi adalah tindakan menjiplak ide, gagasan, atau karya orang lain untuk diakui sebagai karya sendiri atau menggunakan karya orang lain tanpa menyebutkan sumbernya. Dengan tindakan ini dapat menimbulkan asumsi yang salah mengenai asal muasal dari suatu ide, gagasan, atau karya (Soelistyo, 2011: 17).

Plagiasi merupakan kejahatan akademik. Sebab pelaku plagiasi melakukan ketidakjujuran dalam pengutipan atau mengaku karya orang lain sebagai karyanya. Kejahatan akademik ini justru terjadi di kalangan akademik. Salah satu efek plagiasi ini akan menurunkan kredibilitas seseorang dan bisa  mengurangi citra suatu lembaga

Perilaku yang tak terpuji ini terjadi ada kemungkinan disebabkan adanya budaya pintas dalam kehidupan kita, memenuhi angka kredit, pengejaran jabatan setelah lulus (anggota dewan, walikota/bupati, gubernur), dan mengejar tunjangan yang tinggi

Dalam rangka mencegah pelanggaran etika akademik ini, Menteri Pendidikan Nasional RI mengeluarkan Keputusan Nomor: 17 Tahun 2010. Pada pasal 1 ayat 1 peraturan tersebut dijelaskan bahwa   plagiat adalah perbuatan sengaja atau tidak sengaja dalam memeroleh atau mencoba memeroleh kredit atau nilai untuk suatu karya ilmiah pihak lain yang diakui sebagai karya ilmiahnya, tanpa menyatakan sumber secara tepat dan memadai. Nah, saking hati-hatinya terhadap plagiasi ini, banyak para ilmuwan yang takut menulis buku dan takut menulis artikel ilmiah

Memang dalam peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI tersebut pasal 12 dijelaskan bahwa apabila dosen/peneliti/tenaga kependidikan terbukti melakukan plagiasi, maka akan dikenakan sanksi secara berurutan ;

a). teguran;
b). peringatan tertulis;
c). penundaan pemberian hak dosen/peneliti/tenaga kependidikan;
d). penurunan pangkat dan jabatan akademik/fungsional;
e). pencabutan hak untuk diusulkan sebagai guru besar/profesor/ahli peneliti utama bagi
     yang memenuhi syarat;
f). pemberhentian dengan hormat dari status sebagai dosen/peneliti/tenaga kependidikan;
g). pemberhentian tidak dengan hormat dari status dosen/peneliti/tenaga kependidikan;
h). pembatalan ijazah yang diperoleh dari perguruan tinggi yang bersangkutan.

Di era keterbukaan ini sudah saatnya kita share informasi ilmiah seperti repositori. Dengan keterbukaan ini akan mudah dan cepat diketahui siapa yang melakukan plagiasi, karya siapa yang diplagiat, kualitas karya akademik, dan siapa yang membimbing karya akademik yang tidak cermat, bahkan asal-asalan. Kemudian untuk mengantisipasi perilaku plagiasi, sebaiknya dicek dulu sebelum dishare secara terbuka/full text. Kini sudah banyak aplikasi deteksi plagiasi. Hal ini tergantung pada kebijakan masing-masing lembaga. Namun yang perlu kita sadari adalah apalah artinya hasil pemikiran, penelitian, dan penemuan yang konon menghabiskan sekian milyar itu kalau hanya menghasilkan kredit dan uang untuk membayar kredit. Dimana letak kemanfaatan karya akademik yang katanya bernilai suma cumlaude itu
Lasa
Perpustakaan
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.  

Selasa, 26 September 2017

Kunci Bahagia

Kunci bahagia yang sederhana adalah bersyukur. Semua orang mampu dalam sekedar  mengucapkan syukur, baik untuk mengingatkan sesama manusia maupun berusaha menanamkan pada diri sendiri. Namun belum banyak orang yang mengetahui bagaimana cara mengungkapkan rasa syukur secara “penuh”. Syukur merupakan rasa ungkapan rasa terima kasih kita kepada Allah SWT atas semua kenikmatan yang telah diberikan kepada kita yang dapat diungkapkan melalui tiga hal, yaitu lisan, anggota badan, dan hati.
1)    Melalui lisan. Wujud rasa syukur yang diungkapkan melalui lisan yaitu dengan cara kita memuji Allah dengan berdzikir kepada-Nya. Mengucap tahmid (Alhamdulillah) ketika kita diberi sesuatu oleh-Nya, mengucap istighfar (Astaghfirullah) ketika kita mendapatkan sesuatu yang tidak kita inginkan, mengucapkan takbir (Allahuakbar) ketika kita melihat atau merasakan kebesaran Allah, dan lain sebagainya.
2)   Melalui anggota badan. Wujud syukur kita melalui anggota badan yaitu dengan cara kita mempergunakan rejeki yang diberikan Allah untuk membantu antar sesama manusia dan digunakan di jalan Allah seperti infaq, shodaqoh, zakat, dan lain sebagainya. Selain itu, wujud syukur melalui anggota badan dengan cara kita senantiasa menggunakan anggota badan untuk meningkatkan ibadah kita lebih baik seperti meningkatkan ibadah solat kita, mengaji, menghadiri pengajian/majelis taklim, dan lain sebagainya. Dari yang semula belum pernah menjadi pernah, jarang menjadi sering, dan sering menjadi selalu.  
3)   Melalui hati. Wujud syukur kita melalui hati yaitu dengan cara kita meyakini dalam hati bahwa semua yang kita terima adalah semata-mata dari Allah SWT. Dengan begitu kita bisa meningkatkan keimanan, ketaqwaan, keyakinan, dan kecintaan kita kepada Allah SWT. 
Sesungguhnya syukur hakiki harus mencakup tiga hal yang telah dijelaskan di atas, yakni syukur yang diwujudkan melalui lisan, anggota badan, dan hati. Al-Junaid mengatakan, “Syukur adalah jika engkau menyadari bahwa dirimu tidak layak mendapatkan nikmat yang amat berharga.”. Sesungguhnya pandangan ini lebih mengarah kepada syukur dengan hati secara khusus.

Lalu apa saja manfaatnya bersyukur? Salah satunya adalah dengan kita bersyukur kepada Allah, maka Allah akan menambah kenikmatan kepada hambaNya seperti dalam Q.S. Ibrahim ayat 7 : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”. Seperti yang dijelaskan dalam surat tersebut, ketika kita selalu bersyukur atas apapun ukuran dan bentuk nikmat pemberian dari-Nya, maka Allah akan melebihkan dan menambahkan nikmatnya kepada kita, serta kita tidak akan mendapat siksaan atas azab yang diberikan oleh-Nya.


Aidilla Qurotianti
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Senin, 25 September 2017

BEKERJA KERAS MENGGAPAI KESUKSESAN

Setiap orang pasti ingin maju daan berhasil dalam kehidupan mereka. Hari ini diusahakan lebih baik dari kemarin. Besok harus lebih maju dari sekarang. Sedangkan untuk mencapai keberhasilan orang harus bekerja keras, ulet, rajin, dan sabar. Artinya harus berusaha dan tidak malas.
            Kemajuan dan keberhasilan seseorang akan tercapai antara lain karena memahami makna hidup. Hidup adalah anugerah Allah yang sangat berharga. Anugerah itu harus disyukuri antara lain dengan melakukan dan menghaslkan sesuatu yang positif. Salah satu pilihan untuk menghasilkan yang positif adalah bekerja. Bekerja memiliki banyak makna dan bukan sekedar mencari uang. Bekerja dapat dinilai sebagai bentuk syukur dan ibadah kepada Allah. Sebab dengan melakukan suatu pekerjaan berarti kita memanfaatan potensi diri untuk orang lain.  
Putaran otak, gerakan tangan,dan langkah kaki untuk menggapai kemanfaatan itu sebenarnya merupakan langkah positif meskipun belum menghasilkan. Agama apapun tidak mengajarkan pengikut-pengikutnya untuk bermalas-malasan.Pada umumnya agama-agama dunia menganjurkan umatnya untuk berusaha dan bekerja. Sebab dengan melakukan pekerjaan atau bekerja akan menaikkan status seseorang dan tidak menjadi beban orang lain.
Suatu ketika Rasulullah Saw kedatangan seorang laki-laki yang mengadukan kefakirannya. Mendengar keluhan itu, lalu Rasulullah Saw memberikan 2 (dua) dirham dan bersabda :”Apakah kamu memiliki sesuatu ?. “Tidak wahai Rasulullah Saw”, jawab orang itu. Lalu orang itu diberi uang sebanyak 2 (dua) dirham lagi oleh Rasulullah Saw dan beliau sambil bersabda:”Terimalah uang ini. Belilah makanan sekedarnya untuk kamu dan keluargamu. Sisanya cobalah belikan kampak. Dengan kampak itu engkau mencari kayu di hutan lalu juallah kayu itu untuk memenuhi kebutuhanmu yang lain “. Setelah 15 (lima belas) hari dari pertemuan itu, lelaki itu sowan kepada Nabi Muhammad Saw dan matur :”Wahai Rasulullah, Alhamdulillah sungguh Allah telah memberikan berkah kepada kami sekeluarga sebagaimana Rasul perintahkan kepada kami. Alhamdulillah kini kami telah mengumpulkan uang sebanyak 10 (sepuluh) dirham dari penjualan kayu yang kami peroleh dari hutan. Uang yang 5 (lima) dirham saya gunakan untuk membeli makanan untuk anak isteri saya, dan yang 5 (lima) dirham saya gunakan untuk membeli pakaian mereka:. Mendengar cerita ini, Rasulullah Saw nampak berkenan lalu bersabda :”Hal itu lebih baik kamu lakukan daripada kamu meminta-minta kepada orang lain”.
Orang-orang yang bekerja dalam bidangnya dengan baik akan memberikan makna dalam kehidupan dan namanya akan dikenang sepanjang masa. Sekecil apapun pekerjaan seseorang asal dilakukaan dengan tekun dan baik, maka akan memberikan makna tersendiri. Dalam hal ini Martin Luther Jr.pernah mengatakan :” Kalau anda terpanggil menjadi tukang sapu jalan, maka sapulah jalan secara baik seperti Michelangelo melukis atau Bethoven mengubah musik. Bahkan seperti Shakespeare menulis sajak. Sapulah jalan itu sehingga semua penghuni surga dan bumi akan berhenti sejenak untuk mengatakan :”Di sini pernah hidup seorang tukang sapu yang hebat yang sangat baik kerjanya”.
Keberhasilan tidak saja datang dari langit dan tidak otomatis tumbuh dari bumi. Keberuntungan tidak bisa dicari di Gunung Kawi atau menunggu tokek berbunyi. Orang sukses adalah orang yang berusaha, mampu mengatasi kendala, dan memeroleh sesuatu yang diinginkan. Pemalas adalah orang yang enggan bekerja, takut gagal, dan sedikit-sedikit mana uangnya.
Orang yang berusaha adalah orang yang mampu memaknai hidup. Mereka yang malas tidak paham apa itu makna hidup. Bekerja itu merupakan salah satu upaya memberikan makna dalam kehidupan.
Apabila orang memahami bahwa bekerja itu merupakaan makna hidup, maka dia akan merasa bahagia dalam melaksanakan pekerjaan/tugas. Sekecil apapun pekerjaan seseorang asal dilaksanakan dengan baik dan senang, maka akan mendatangkan keberhasilan dan kebahagiaan.
Untuk memeroleh hasil yang diharapkan, orang harus berani berkompetisi dalam berebut kesempatan secara elegan. Bukan sekedar kasak kusuk, kalau cuma begitu aku pasti lebih baik. Oleh karena itu bangun pagi lalu melakukan aktivitas  merupakan salah satu sikap siap untuk berkompetisi. Sebab bangun siang hari, rizkinya sudah dipatuk ayam.
Berkaitan dengan kompetisi dan berebut kesempatan ini, Rasulllah Saw memerintahkan umatnya untuk bangun pagi. Kemudian segera melakukan shalat fajar sebanyak 2 (dua) rekaat yang tentunya dilanjutkan melakukan shalat shubuh.Berkaitan dengan shalat fajar inilah, beliau menyatakan bahwa kebaikan shalat fajar itu lebih baik daripada dunia seisinya. Artinya dengan shalat fajar itu orang akan bangun pagi lalu melakukan kegiatan yang produktif. Pengertian ini bukan berarti bahwa setelah selesai melaksanakan shalat shubuh lalu tidur lagi yang berarti malas-malasan. Nah, berkaitan dengan bermalas-malas inilah suatu ketika Rasulullah Saw menghampiri putrinya Fatimah yang sedang malas-malasan setelah selesai melaksanakan shalat shubuh.Melihat putrinya yang sedang bermalas-malasan itu, beliau menghampirinya sambil menggoyang-goyang tubuh putrinya itu pelahan dan bersabda :” Wahai putriku, bangunlah dan sambutlah rizki Allah dan jangan lalai. Sebab Allah itu membagi-bagi rizki kepada manusia antara terbit fajar sampai matahari terbit” (H.R. Baihaqi).
Kemalasan akan melahirkan penyesalan. Kemalasan membuat orang enggan beranjak, tangan malas bergerak, kaki berat melangkah, pikiran terbelenggu, dan kemauan beku. Kemalasan membuat hidup menjadi redup, langkah mundur, mata tertidur pulas mendengkur. Sikap inilah yang membuat orang atau komunitas ketinggalan dari yang lain. Untuk itu Rasulullah Saw pernah bersabda :”Beberapa hal yang sangat aku khawatirkan akan menimpa umatku yakni besar perut (serakah, tamak, suka makan), terus menerus tidur, dan lemah keyakinan”. (H.R,Daruquthni). Disamping itu, Rasulullah Saw juga mengajarkan do’a yang tentunya harus disertasi usaha. Do’a itu berbunyi :Allahumma inni a’udzu bika minal hammi wal huzni, wa’audzu bika minal ‘ajzi wal kasali, wa’audzu bika minal jubni wal bukhli wa’audzu bika min ghalabatid daini waqahri rijaali”(artinya, Ya Allah, aku berlindung kepadaMU dari kesusahan dan kegelisahan hati, dan aku berlindung kepadaMu dari kelemahan dan kemalasan, dan aku berlindung kepadaMu dari sifat penakut dan kikir. Dan aku berlindung kepadaMu dari lilitan hutang dan kesewenang-wenangan orang-orang yang jahat.

Lasa Hs.

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. 

PERLUNYA PENGEMBANGAN SISTEM KLASIFIKASI ISLAM

Pada dasarnya sistem klasifikasi menyediakan sederetan daftar nomer kelas atau bisa disebut dengan notasi disertai subjeknya serta berbagai ketentuan yang menyangkut mekanisme pembentukan notasi dan penelusurannya. Daftar notasi dalam sistem klasifikasi disebut dengan bagan klasifikasi. Beberapa bagan klasifikasi yang baik yang pernah berkembang adalah Dewey Decimal Classification, Universal Decimal Classification dan Library of Congress Classification (Eryono, 2002: 5.22).
DDC termasuk sistem klasifikasi yang baik karena memenuhi kriteria dan ciri-ciri sebagai bagan klasifikasi yang universal, terperinci dalam pembagian kelas, fleksibel dalam pengembangan kelas, mempunyai susunan yang sistematik dengan notasi yang sederhana, mudah diingat, mempunyai indeks relatif dan mempunyai badan pengawas (Eryono, 2002: 6.1).
Namun demikian sistem ini tidak sepenuhnya mengadopsi kenyataan-kenyataan di Timur dan cenderung mementingkan peradaban dan perkembangan di Barat terutama Amerika dan Kristen. Pada DDC, kelas untuk agama lain misalnya agama Yahudi, Budha, Hindu menempati posisi yang sempit. Terbukti dengan adanya penempatan kelas agama pada kelas 200, sedangkan dalam pembagian kelas yang lain adalah kelas untuk beberapa hal yang berkaitan dengan Kristen, misalnya 220 untuk Alkitab, 230 untuk Teologi Kristen, 240 Moral Kiristen, 250 untuk Gereja Kristen, 260 untuk Teologi Sosial, 270 untuk Sejarah Gereja dan 280 untuk Sekte-Sekte Kristiani. Kelemahan DDC dalam bidang keislaman yaitu adanya keterbatasan dalam subjek keislaman dan hanya menempatkan subjek keislaman pada kelas 297, sedangkan utuk agama lain ditempatkan pada kelas 290 (Lasa Hs, 2009: 163).
Arianto (2006) menjelaskan bahwa kekurangan yang ada pada sistem klasifikasi DDC mendapat tanggapan dari berbagai pihak, baik itu sarjana muslim maupun non-muslim (Barat). Tanggapan non-muslim mengenai hal ini dijelaskan bahwa DDC masih cenderung terhadap Kristiani dan Anglo-Saxon, selain itu meskipun DDC telah digunakan secara luas namun masih belum memenuhi kebutuhan berbagai budaya dan negara lain. Begitupun tanggapan dari sarjana muslim yang menjelaskan bahwa sistem klasifikasi DDC didominasi oleh Barat dalam bidang manajemen informasi sehingga tidak kondusif untuk kelanjutan sudut pandang Muslim. Klasifikasi tersebut hanya berorientasi pada barat baik itu literatur, agama, budaya, adat dan lain sebagainya, sehingga tidak memadai untuk subjek keislaman.
Kelemahan tersebut tentunya sangat berpengaruh terhadap koleksi keislaman yang ada di berbagai perpustakaan karena dalam DDC porsi agama Islam terlampau kecil kelas nya dikarenakan tidak adanya kelas utama dan divisi hanya ada seksi yaitu 297. Oleh karena itu dalam mengatasi kelemahan mengenai klasifikasi Islam ini lembaga pemerintah telah melakukan upaya pengembangan dengan mengadakan perluasan pada notasi 297.
Banyak diantaranya yang telah berusaha mengembangkan klasifikasi Islam ini diantaranya adalah Badan Wakaf Perpustakaan Islam Yogyakarta, Panitia Tahun buku Internasional Indonesia, The Indian Institute of Islamic Studies, Institut Pendidikan Darussalam Gontor, Pusat Perpustakaan Islam Indonesia, Mc Gill University dan terakhir pengembangan ini dilakukan oleh Departemen Agama Republik Indonesia yang sekarang menjadi Departemen Agama dengan mengganti notasi 297 menjadi 2X dengan ringkasan bagan klasifikasi nya seperti: 2X0 Islam (Umum)
2X1 Alquran dan Ilmu yang berkaitan
 2X2 Hadits dan Ilmu yang berkaitan
2X3 Aqaid dan Ilmu Kalam
2X4 Fiqih
2X5 Akhlak dan Tasawuf
2X6 Sosial dan Budaya
2X7 Filsafat dan Perkembangan
2X8 Aliran dan Sekte 2X9 Sejarah Islam dan Biografi
Secara sistematika ringkasan klasifikasi Islam ini sudah mencakup subjek keilmuan secara rinci, namun pada setiap seksinya ditemukan pembagian subjek yang kurang rinci, sehingga ada beberapa bahan perpustakaan dengan subjek tertentu tidak bisa ditempatkan pada subjek manapun. Oleh karena itu perlunya kembali pengembangan sistem klasifikasi islam, agar keseluruhan subjek yang terdapat dalam notasi keislaman dapat lebih terperinci.

Referensi:
Arianto, M Solihin. 2006. “Islamic Knowledge classification Scheme in Islamic Countries’             Libraries” volume 44, no 2. Uin Sunan Kalijaga.
Eryono, Kailani. 1999. Daftar Tajuk Subyek dan Sistem Klasifikasi Islam Adaptasi dan             Perluasan DDC Seksi Islam. Jakarta: Departemen Agama RI.

Lasa Hs.2009. Kamus Kepustakawanan. Yogyakarta: Pustaka Publisher.






Nita Siti Mudawamah
Pustakawan UMY

Minggu, 24 September 2017

KREATIFKAH ANDA ?


Dalam pengembangan diri, profesi, dan kepustakawanan diperlukan kreatifitas. Yakni usaha menciptakan sesuatu yang baru dan belum pernah terjadi atau belum pernah ada. Sesuatu ini bisa berupa barang, kegiatan, keadaan, atau jasa. Oleh karena itu dalam pengembangan perpustakaan diperlukan orang-orang yang kreatif. Adapun ciri-ciri orang kreatif antara lain:
1.Berinisiatif
             Orang-orang yang berinisiatif  selalu mencari peluang, berusaha memanfaatkan peluang, mengembangkan peluang, bahkan mampu menciptakan peluang. Orang-orang yang berinisiatif biasanya memiliki karakteristik:
a.Siap memanfaatkan peluang
b. Mampu melampaui batas, persyaratan, dan standar yang telah ditetapkan. Dengan kata lain, orang ini mampu melebihi  rata-rata orang lain.
c.Dalam kondisi tertentu berani melawan arus dan sudah diperhitungkan tidak akan terbawa arus
d. Berani melakukan petualangan dan berkorban untuk orang lain
e. Mengajak orang lain untuk memperbaiki langkah-langkah yang selama ini dianggap lemah, kurang,dan  jelek
f. Siap menghadapi celoteh, kritikan, cemoohan orang lain
             Orang yang memiliki inisiatif  biasanya berani menanggung resiko. Orang-orang seperti ini akan memeroleh keberhasilan tersendiri. Sementara itu, orang yang tidak punya inisiatif cenderung mudah menyerah, pasrah, dan kalah sebelum bersaing.
             Suatu ketika Rasulullah Saw berkumpul dengan para sahabat. Beliau berkisah tentanga tiga orang yang masuk masjid untuk mengikuti shalat jama’ah. Kebetulan tiga orang ini datang terlambat dan masjid sudah penuh jama’ah. Melihat masjid sudah penuh jama’ah , maka orang pertama pulang dan shalat sendirian/munfarid. Orang kedua langsung masuk dan mendapat tempat shalat jama’ah di serambi. Sementara  itu, orang ketiga menerobos shaf-shaf jama’ah yang masih menunggu iqomah. Orang yang berinisiatif ini mendapatkan tempat di shaf paling depan. Memperhatikan kejadian ini, Rasulullah Saw memberikan komentar bahwa orang pertama adalah gambaran orang yang putus asa.Orang kedua merupakan gambaran tipe orang yang malu-malu/tidak berani. Kemudian orang ketiga dikatakannya sebagai tipe orang yang berinisiatif, penuh harapan, bersemangat, dan pantang menyerah. Maka tipe orang ke tiga inilah akan memeroleh apa yang diinginkan.
2.Terdorong untuk berprestasi
             Mereka yang kreatif  biasanya memiliki motivasi tinggi. Mereka ini selalu memacu dirinya untuk berkompetisi, menjadi orang pertama/terdepan dalam bidang tertentu. Upaya pencapaian prestasi ini disebut achievment motivation. Motif berprestasi ini merupakan dorongan untuk menyelesaikan kesukaran, mengatasi kesulitan, dan berusaha untuk melebihi prestasi orang lain. Oleh karena itu motif   berprestasi ini dapat dipahami sebagai motif yang mendorong individu untuk mencapai keberhasilan. Keberhasilan tidak harus diukur dengan materi, kedudukan, maupun jabatan. Keberhasilan dapat diukur dengan keberhasilan kompetisi itu sendiri sebagai ukuran keunggulan (standard of excelence
3.Optimis berhasil
             Kata Teddy Rooselevelt (mantan Presiden Amerika Serikat) “ Seluruh sumber daya yang anda perlukan itu sebenarnya telah ada pada diri anda. Anda telah memiliki segala yang diperlukan untuk menjadi pemenang”. Pesan ini mendorong orang untuk selalu optimis dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Sebab dalam diri manusia telah disiapkan penangkal kegagalan.
             Optimis adalah kegigihan memperjuangkan sasaran. Orang yang optimis tidak akan gentar menghadapi kegagalan dan tantangan. Sebab dalam pikirannya telah tertanam keyakinan bahwa dalam setiap kegiatan hanya ada dua pilihan.Yakni keberhasilan atau kegagalan. Apabila gagal, dia siap untuk menerima kegagalan dan berusaha untuk bangkit kembali. Kemudian apabila usaha itu berhasil, inilah yang diharapkan dan berusaha untuk mempertahankannya.
Orang-orang yang memiliki optimisme tinggi biasanya memiliki kecakapan tekun dalam mencapai tujuan, berusaha dengan harapan sukses, dan berpandangan bahwa segala sesuatu itu pasti ada solusinya.
4.Mandiri
             Sikap mandiri merupakan kemampuan seseorang untuk tidak tergantung pada orang lain dan bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Orang yang kemandiriaannya kuat, dia akan memiliki inisiatif, mampu mengatasi kesulitan, dan percaya diri.
             Kemandirian seseorang dapat dilihat dari aspek emosi,aspek ekonomi, aspek intelektual, dan aspek sosial (T.Havighurst, 1972). Dari aspek emosi, orang dikatakan mandiri apabila mampu mengontrol emosi diri dan tidak terpancing oleh emosi maupun kemarahan orang lain. Dia tidak cepat gembira apabila mendapatkan kegembiraan. Orang ini juga tidak cepat sedih apabila menerima penderitaan. Semua itu disikapi wajar-wajar saja. Dari segi ekonomi, orang dapat dikatakan mandiri apabila tidak lagi menggantungkan kebutuhan ekonominya kepada orang lain. Orang ini tidak mau merepotkan orang lain termasuk pada anak-anaknya sendiri. Kemudian orang dikatakan mandiri secara intelektual apabila betul-betul mampu mengatasi masalah yang dihadapinya. Dia yakin bahwa setiap persoalan pasti ada jalan keluar dan setiap masalah ada solusinya. Secara sosial, orang dikatakan mandiri apabila orang itu mampu mengadakan interaksi dengan orang lain tanpa menunggu reaksi dari orang lain.
             Orang yang mandiri akan percaya diri dan mudah bergaul dengan siapapun. Dengan modal ini, orang akan dikenal masyarakat secara luas. Dari sinillah dia bisa mengekspresikan diri dan mengembangkan diri, serta berani bersaing secara terbuka.
5.Berani menghadapi kegagalan
             Seperti yang pernah dikatakan oleh Abraham Lincoln bahwa yang penting bukan kegagalan itu yang ditangisi, tetapi bagaimana orang itu bangkit dan bangkit setelah mengalami kegagalan. Kata-kata ini dilontarkan oleh anak manusia yang berulang kali mengalami kegagalan. Di usianya yang ke 7 tahun, Lincoln dan keluarganya diusir dari rumahnya. Pada umur 22 tahun ia bekerja dan tidak begitu lama ia keluar . Pada usianya yang ke 34 dan 39 dia mencalonkan diri sebagaai anggota Kongress tetapi gagal . Penderitaan ini masih dicoba dengan meninggalnya tiga orang anaknya.
             Semangat yang membara tetap menyala meskipun berulang kali mengalami kegagalan. Di usianya yang ke 45 tahun ia mencalonkan diri sebagai anggota Senat Amerika Serikat. Ia kemudian mencalonkan diri sebagai calon Presiden Amerika pada usianya yang ke 47, dan baru berhasil menjadi Presiden negara adikuasa itu di usianya yang ke 51.
.
Lasa Hs. UMY

Kamis, 21 September 2017

(Resensi) Biblioterapi untuk Pengasuhan

Biblioterapi sebenarnya juga merupakan bagian layanan perpustakaan. Yakni upaya pencegahan atau mengurangi sakit rohani seseorang melalui bacaan, media (music, lagu, suara) kisah agar penderita menemukan jati dirinya dan bangkit untuk menjadi lebih baik lagi. Biblioterapi ini merupakan langkah terapi yang menyenangkan dalam membentuk perilaku positif pada seseorang.

Dalam buku yang ditulis oleh Susanti Agustina seorang dosen Prodi Ilmu Perpustakaan UPI itu dikatakan bahwa menurut Monroe dalam Rubin (1979) bahwa biblioterapi adalah bagian dari rangkaian kesatuan layanan perpustakaan. Referensi, bimbingan membaca, dan biblioterapi semuanya memiliki kesamaan fungsi. Seluruhnya merupakan layanan bersifat informasi, instruksional, dan/atau kebutuhan bimbingan (halaman 52). 

Buku ini merupakan kumpuan pengalaman beliau yang telah 15 tahun lebih menekuni bidang biblioterapi ini. Beliaulah orang yang pertama kali mempopulerkan biblioterapi di Indonesia. Pengalaman dan pengetahuan beliau telah dibagi ke berbagai kota se Nusantara ini. Disamping juga telah ditulis dalam berbagai buku.Dalam upaya memajukan layanan perpustakaan dan meningkatkan diri pustakawan, maka buku yang langka ini layak dipahami oleh pustakawan dan pemerhati literasi informasi. 

Judul               : Biblioterapi untuk Pengasuhan
Penulis            : Susanti
Penerbit          : PT Mizan Publika Jakarta, 2017
ISBN              : 978-602-385-342
Tebal              : 345 hlm

Pengembangan Perpustakaan yang Signifikan

Perpustakaan akan berkembang secara signifikan apabila didukung oleh lembaga induk/masyarakat, dikelola dengan manajemen/kepemiminan yang efektif, sumber daya manusia yang memiliki kompeteni, dan anggaran yang memadai. Demikian disampaikan Lasa Hs selaku narasumber pada Seminar Efektifitas SDM Perpustakaan Khusus tanggal 20 September 2017 di R. Arjuna Gedung Perijinan Kota Yogyakarta. Diakatakan selanjutnya bahwa sumber daya manusia merupakan sumber utama dalam memajukan perpustakaan. Sebab sumber daya ini mamu menggerakkan sumber daya lain seperti anggaran, keleksi, sarana prasarana, dan lainnya. Sedangkan sumber daya lain, akan berdaya guna apabila digerakkan oleh sumber daya manusia.

Agar sumber daya manusia perpustakaan mampu berperan dalam pengembangan, maka perlu dilakukan langkah-langkah; perekrutan tenaga yang selektif, pendidikan lanjut, pelatihan, mutasi, magang, promoso, dan rotasi. Melalui peningkatan keahlan dan ketrampilan ini diharapkan petugas perpustakaan mampu bekerja optimal dengan kraetivitas dan motivasi kerja yang tinggi.



Seminar tersebut diikuti 79 peserta dari 116 perpustakaan khusus di DIY. Temu ilmiah yang diselenggarakan oleh Kantor Perpustakaan & Kearsipan Kota Yogyakarta ini juga menampilkan narasumber Moch, Mursyid dari Perpustakaan Ainun Najib.


Lasa Hs.

Pustakawan FPPTMA Eksis dalam CFP

September 2017 merupakan bulan call for paper, karena dalam bulan ini banyak organisasi maupun instansi yang mengadakan kegiatan tersebut. Diantaranya yaitu Prodi Ilmu Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Malang, FPPTI Pusat, FPPTI DIY, IKOM UNY, Program vokasi d3 kearsipan, kementrian pertanian, dan IPI.

Berkat kerjasama antar perpustakaan, serta bimbingan dari pengurus FPPTMA, alhamdulilah banyak pustakawan FPPTMA yang eksis menjadi peserta maupun pemakalah. Daiantararanya yaitu :


CFP Prodi Ilmu Perpustakaan Malang
  1. Maria husnun nisa dari UMS
  2. Arda putri winata dari UMY
  3. Yuliana ramawati dari UMY
  4. Eko Kurniawan dari UMY
  5. Ediansyah CA dari UMY
  6. Greta P. dari UAD
  7. Ana dari UAD
  8. Nanik Arkiyah dari UAD
  9. Nur ishma dari UM Malang
  10. Atin istiarni dar UM Mg


CFP IKOM UNY
1      Irkhamiyati dari UNISA



CFP FPPTI Pusat (semiloka kepustakawanan 2017)
  1. Ayu Wulansari dari UM Ponorogo
  2. Mufieda Nur dari UM Jember
  3. Cahya Kumbul W. dari UMS
  4. Novy Diana F, dari UMY
  5. Eko Kurniawan dari UMY
  6. M. Nur Dear dari UMY

CFP Program vokasi d3 kearsipan
  1. Arda Putri W. dari UMY
  2. Yuliana Ramawati dari UMY


CFP IPI
  1. Aidila Qurotianti dari UMY


CFP Kementrian Pertanian
  1. Gretha P. dari UAD
  2. Cahya Kumbul W. dari UNS
  3. Esti dari UMS
  4. Eko Kurniawan dari UMY


*mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam penulisan nama


Senin, 18 September 2017

Istiqamah

 Secara etimologis, istiqamah berasal dari kata istiqama-yastaqimu, yang berarti tegak lurus. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, istiqamah diartikan sebagai sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen. Dalam terminologi Akhlaq, istiqamah adalah sikap teguh dalam mempertahankan keimanan dan keislaman sekalipun menghadapi berbagai macam tantangan dan godaan. Seorang yang istiqamah adalah laksana batu karang ditengah-tengah lautan yang tidak bergeser sedikitpun walaupun dipikul oleh gelombang yang bergulung-gulung.
            Perintah supaya beristiqamah dinyatakan dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Allah berfirman:
“Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka istiqamahlah menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang bersekutukan-Nya.” (QS. Fushshilat 41:6)
“ Katakanlah: Saya beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah!” (HR. Muslim)
            Iman yang sempurna adalah iman yang mencakup 3 dimensi: hati, lisan, dan amal perbuatan. Seorang yang beriman haruslah istiqamah dalam tiga dimensi tersebut. Dia akan selalu menjaga kesucian hatinya, kebenaran perkataannya dan kesesuaian perbuatannya dengan ajaran Islam. Ibarat orang yang berjalan, seorang yang istiqamah akan selalu mengikuti jalan yang lurus, jalan yang paling cepat mengantarkannya ketujuan.
            Setiap orang yang mengaku beriman pasti akan menghadapi ujian, didalam Al-Qur’an Allah berfirman:
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al-Ankabut 29:4)
Ujian keimanan itu tidak selamanya dalam bentuk yang tidak menyenangkan, tapi juga dalam bentuk yang menyenangkan. Keberhasilan bisnis juga ujian seperti kebangkrutannya. Pujian juga ujian seperti celaan. Seorang mukmin yang istiqamah tentu akan tetap teguh dengan keimanannya menghadapi dua macam ujian tersebut. Dia tidak mundur oleh ancaman, siksaan dan segala macam hambatan lainnya. Tidak terbujuk oleh harta, pangkat, kemegahan, pujian dan segala macam kesenangan semu lainnya. Itulah yang dipesan oleh Rasulullah saw. Beriman dan beristiqamah.
            Rasulullah saw adalah contoh teladan utama dalam istiqamah. Baik dengan siksaan, ancaman dan celaan, maupun dengan bujukan, beliau tidak bergeser sedikitpun dari jalan Allah. Ingatlah betapa tegasnya jawaban Nabi terhadap bujukan pemuka Quraisy: “Paman demi Allah, kalaupun mereka meletakkan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, dengan maksud supaya aku meninggalkan tugas dakwah ini, sungguh tidak akan aku tinggalkan. Biar nanti Allah yang akan membuktikan kemenangan itu di tanganku, atau aku binasa karenanya”.
            Keteguhan hati itu pulalah yang diperlihatkan oleh Bilal ibn Rabbah tatkala disiksa oleh majikannya. Tidak sedikitpun imannya goyah:”Ahad, ahad”, bisiknya dengan penuh keyakinan. Yasser dan Sumayyah, sepasang suami istri syuhada’ awal islam rela mengorbankan nyawanya demi mempertahankan keimanannya. 
            Beberapa buah yang dapat dipetik oleh orang yang beristiqamah, baik didunia maupun diakhirat. Seperti firman Allah :
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Jangan kamu merasa takut dan janganlah kamu mearasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan memperoleh sorga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan didunia dan diakhirat; didalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh pula didalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS. Fushshilat 41: 30-32)
            Dalam empat ayat di atas dijelaskan bahwa orang yang istiqamah dijauhkan oleh Allah dari rasa takut dan sedih yang negatif. Dia tidak takut menghadapi masa depan dan tidak sedih dengan apa yang telah terjadi pada masa lalu. Dia dapat menguasai rasa sedih karena musibah yang menimpanya sehingga tidak hanyut dibawa arus kesedihan. Dan tidak pula dia gentar dan was-was menghadapi kehidupan masa yang akan datang sekalipun dia pernah mengalami kegagalan pada masa yang lalu.
            Orang yang beristiqamah akan mendapatkan kesuksesanya dalam kehidupannya di dunia, karena dia dilindungi oleh Allah SWT. Begitu juga di akhirat dia akan berbahagia menikmati karunia Allah didalam sorga.
            Dalam empat ayat diatas dijelaskan bahwa orang yang istiqamah dijauhkan oleh Allah dari rasa takut dan sedih.   Tentu rasa takut dan sedih ayat diatas dalah rasa takut dan sedih yang tidak pada tempatnya, atau takut dan sedih yng negatif. Miasalnya takut menyampaikan kebenaran, takut menghadapi masa depan, takut mengalami kegagalan. Ketakutan seperti itu akan menghambat kemajuan dan bahkan menyebabkan kemunduran. Seorang tidak akan berbuat apa-apa apabila dipenuhi rasa takut.
            Demikianlah juga rasa sedih. Yang dimaksud di sini bukanlah rasa sedih yang manusiawi, misalnya rasa sedih tatkalaorang tua, anak atau oranr-orang yang dikasihi meninggal dunia. Atau tatkala mengalami kegagalan dalam usaha. Tetapi rasa sedih yang mesti dihindari adalah rasa sedih yang berlarut-larut yang menyebabkan rasa kehilangan semangat dan selalu diliputi penyesalan. Setiap orang yang mengalami musibah atau kegagalan tentu akan sedih. Tapi ada yang dapat segera menguasai kesedihannya dan ada yang kemudian larut dengan kesedihan ini. Ibarat orang hanyut, yang pertama segera berenang ke pinggir untuk mencari pegangan, sedang yang kedua hanyut dibawa arus. Orang yang istiqamah tidak akan hanyut dengan kesedihan.
            Dalam ayat di atas juga dijanjikan oleh Allah SWT perlindungan-Nya bagi orang-orang yang beristiqamah. Lindungan Allah itu berarti jaminan untuk medapatkan kesuksesan dalam hidup dan perjuangan di dunia. Sahabat-sahabat yang berjuang dalam Perang Badar, sekalipu jumlahnya hanya kurang dari sepertiga musuh, tapi mereka tidak gentar dan tidak mundur. Mereka maju terus ke medan perang dengan gagah berani sehingga akhirnya Allah memberi kemenangan(Baca QS. Al-Anfal 8: 45) . Dan di akhirat nanti Allah SWT juga berjani akan melindungi orang-orang yang beristiqamah, dan itu berarti mereka akan dibalasi dengan sorga tempat segala kenikmatan dan kebahagiaan.
            Demikianlah, sikap istiqamah memang sangat diperlukan dalam kehidupan ini. Karena tanpa sikap seperti itu seseorang akan cepat lupa diri, dan mudah terombang ambing oleh berbagai macam arus. Orang yang tidak beristiqamah ibarat baling-baling diatas bukit yang berputar menuruni arah angin yang berhembus.  

Penulis : Saifudin Z. ,  Sumber : Kuliah Akhlaq (Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Lc., MA.)

Minggu, 17 September 2017

(live report) Semiloka Kepustakawanan Indonesia 2017

Kamis 18 September 2017, FPPTI bekerja sama dengan ISIPII dan IPC Corporate University mengadakan kegiatan Semiloka Nasional kepustakawanan Indonesia 2017 dan Musyawarah Nasional FPPTI. Kegiatan ini diikuti sekitar 100 peserta, yang meliputi pustakawan, arsiparis, mahasiswa, dosen, kepala perpustakaan, serta pemerharti perpustakaan.

Imam Budi selaku kepala FPPTI menjelaskan bahwa FPPTI lahir pada tanggal 12 Oktober 2000 di Ciawi, sehingga sampai dengan saat ini FPPTI sudah berumur 17 tahun. Ia berharap bahwa dengan hadirnya FPPTI dapat menjadi motor penggerak kemajuan di masing masing perguruan tinggi.

Pada hari kedua, acara semiloka juga diisi dengan kegiatan presentasi cfp. Ada 20 peserta yang diterima papernya. 15 paper berhak dipresentasikan, dan 5 paper lagi berhak dipresentasikan dan terbit di Jodis, salah satunya yaitu pustakawan FPPTMA.


Tidak hanya itu saja,  pada acara ini juga akan dipilih satu juara dalam seleksi INDONESIAN ACADEMIC LIBRARIAN AWARD (IALA) 2017. Salah satu pustakawan yang masuk seleksi tsb adalah Mufiedah Nur dari Perpustakan Um Jember.


Bersambung....

Perpustakaan UNISA Yogyakarta Sampaikan Literasi Informasi untuk Mahasiswa Baru

Selasa, 12 September 2017 bertempat di Kampus Terpadu Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta telah disampaikan Literasi Informasi bagi Mahasiswa Baru TA.2017-2018 oleh UPT Perpustakaan. Peserta Literasi Informasi adalah seluruh Mahasiswa Baru yang dibagi menjadi enam kelompok sesuai dengan program studi dan fakultasnya. Irkhamiyati, M.IP, pemateri sekaligus Kepala UPT Perpustakaan UNSA Yogyakarta menyampaikan beberapa materi di dalamnya. Materi yang disampaiakan antara lain tentang pengenalan perpustakaan, konsep literasi informasi, dan berbagai sumber informasi yang disediakan oleh perpustakaan dan di luar perpustakaan, baik tercetak dan digital.



Acara ini sangat penting diadakan sebagai bentuk sosialisasi perpustakaan kepada mahasiswa agar mereka nantinya tidak asing dengan perpustakaan dan mau serta mampu memanfaatkan layanan perpustakaan. Pemateri juga berpesan agar mahasiswa baru tidak asing dengan berbagai koleksi digital yang dimiliki Perpustakaan UNISA Yogyakarta. Tujuannya adalah agar biaya tinggi yang dikeluarkan perpustakaan dalam mengadakan berbagai sumber informasi digital tersebut, seimbang dengan tingkat pemanfaatannya. Selain itu pemateri juga berpesan agar mahasiswa baru sebagai kaum akademisi, nantinya menjadi kaum yang melek informasi, sebagai bekal mereka menjadi  pembelajar sepanjang hayat. (Irkhamiyati, September 2017).

Selasa, 12 September 2017

Pustakawan UNISA Yogya Satu-Satunya Pustakawan PTMA dalam CFP Literasi Digital UNY

Selasa, 12 September 2017 bertempat di Ruang Ki Hajar Dewantara Fakultas Ilmu Sosial UNY, diadakan Konferensi Nasional Literasi Digital.  Konferensi dimulai dengan  sesi pertama yang menghadirkan pembicara dari pendiri literos.org dengan judul “Industri Digital Indonesia” oleh Nukman Luthfie. Pembicara kedua adalah Kepala Dinas Pendidikan DIY, Drs. R.Kadarmanta Baskara Aji dengan judul “Kebijakan Digital Indonesia”. Pembicara ketiGa Dyna Herlina Suwarto, dosen Ilmu Komunikasi FIS UNY, dengan judul “Khalayak Media Digital”. Pembicara terakhir dengan judul “Pemetaan Literasi Digital di 8 Kota” oleh Jaringan Pegiat Literasi Digital”. Adapun materi dapat diakses melalui alamat: http://ilkom.fis.uny.ac.id/events/konferensi-nasional-literasi-digital.html.


Sesi kedua konferensi  digunakan sebagai ajang presentasi paper yang dibagi menjadi 3 kelompok sesuai dengan 3 topik. Kelompok 1 dengan topik Literasi Digital Berbsis Sekolah. Kelompok kedua dengan topik Khalayak Literasi Digital. Kelompok ketiga dengan topik Literasi Digital dan Kebijakan Publik. Irkhamiyati, M.IP, Kepala Perpustakaan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, sekaligus Pustakawan dari Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah/PTMA, menjadi satu-satunya pemakalah dalam konefrensi nasional ini. Konferensi sangat bermanfaat untuk pengembangan perpustakaan dan bersinergi dengan subyek ilmu lain, yaitu komunikasi. 


(Irkhamiyati)

(live report) Rapat Kerja Nasional FPPTMA

pertemuan ini merupakan ajang silaturahim antarperpustakaan PTMA. Hal ini disampaikan Prof Dyah Roswitasari Kep.Perp UM Malang dalam RAPIMNAS FPPTMA tg 13 Sept 2017 di Perp.UM Malang.Selanjutnya Prof Syamsul Arifin MA selaku Wakil Rektor I menyatakan bahwa peran perpustakaan PTMA.Hal itu disampaikannya dalam membuka acara tersebut.Dengan pengelolaan perpustakaan yg profesional diharapkan mampu menarik mahasiswa untuk memanfaatkan fasilitas perpustakaan.Raker ini dihadiri pengurus pusat dan korwil korwil.Korwil yg hadir antara lain dari korwil DIY Jatengsel, Jateng Utara, Jawa Timur, NTN, Kalsel, Bengkulu, Sorong, dan Provinsi Banten.
Lasa Hs.

Senin, 11 September 2017

KUNJUNGAN UM SORONG KE PERPUSTAKAAN UNISA YOGYAKARTA

Suasana Yogya yang cerah pada Hari Senin, 11 September 2017 mengantarkan seorang dosen cantik nan energik dari Universitas Muhammadiyah Sorong Papua ke Perpustakaan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. Beliau bernama Irnawaty, S.Hut. MP. Selain sebagai dosen, beliau juga sebagai Kepala Perpustakaan di UM Sorong. Kunjungan diterima langsung oleh Kepala UPT Perpustakaan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, Irkhamiyati M.IP, didampingi oleh Staff Perpustakaan Khairun Nisak, SIP., Lilik Layyina, SIP., dan Dita Rachmawati, SIP.
Tujuan kunjungan ini sebagai bentuk silaturrahmi dan saling berdiskusi tentang pengadan koleksi perpustakaan, pengembangan SDM Perpustakaan, dan pengelolaan perpustakaan PTMA. Kunjungan akan dilanjutkan kesokan harinya dalam acara Rakerpimnas FPPTMA yang diikuti oleh Pengurus Perpustakaan Pergurua Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah seIndonesia. Rapat Kerja Pimpinan Nasional Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah akan diadakan di Universitas Malang pada hari Rabu 13 September 2017. Rakerpimnas diikuti oleh seluruh Pengurus Pusat FPPTMA dan Pengurus Koordinator Wilayah seIndonesia untuk membahas pengembangan Peprustakaan PTMA agar lebih maju dan bersinergi sesama.

 Irkhamiyati M.IP

Jumat, 08 September 2017

Fikih Kontemporer (Resensi)

Buku fikih ini berbeda dengan buku-buku fikih yang lain. Buku ini mengupas masalah-masalah up to date yang terjadi dalam masyarakat. Masalah yang dibahas seputar nikah mut’ah,, bid’ah, zakat profesi,  bunga bank, abortus, lesbian, komoseks, bayi tabung, cangkok ginjal, dan lainnya.
Pembahasan buku ini cukup mendalam dan komprehensif. Pembaca akan mendapat wawasan yang luas dengan memahami ayat-ayat Alquran maupun hadis sebagi landasan pembahasan. Pada akhir bab selalu ditulis daftar pustaka. Dengan membaca daftar pustaka ini, pembaca dapat memperdalam buku-buku yang dirujuk apabila ingin lebih jauh mendalami tema-tema yang diangkat. 
            Nikah mut’ah menurutYusuf Qardhawi adalah seorang laki-laki mengikat (menikahi) seorang perempuan untuk waktu yang ditentukan dengan imbalan uang yang tertentu pula. Nikah mut’ah juga dkenal dengan kawin kontrak. Dalam catatan sejarah, nikah mut’ah pada Zaman Nabi Muhammad SAW dibolehkan dan tidak berlaku untuk semua orang. Hanya untuk orang-orang tertentu saja. Itupun karena terdapat kondisi yang sangat mendesak. Dalam buku ini dikupas tuntas tentang kawin kontrak ini dengan mengemukakan dalil naqli dan aqli.
            Bid’ah yang kadang diartikan secara gampang dan sembarangan itu, dalam buku ini juga dijelaskan pengertian bid’ah dari segi bahasa, syar’i, maupun pendapat para fuqoha. Salah satu pendapat yang merujuk pendapat Imam Malik yang ditahqiq oleh Asy Syatiby menyatakan bahwa bid’ah adalah: Jalan yang ditempuh yang diada-adakan dalam agama, yang dipandang menyamai syariat dengan tujuan ingin berlebihan dalam ibadah kepada Allah SWT. Dalam buku ini juga diuraikan macam-macam bid’ah dan pengertiannya seperti bid’ah wajibah, bid’ah mandubah, bid’ah mubahah, bid’ah muharamah, dan bid’ah makruhah.
             Di era pergaulan yang bebas dan maraknya media online ini, kini sering terjadi pengguguran. Hal ini mungkin untuk menutupi aib seseorang, kelahiran yang belum/tidak diinginkan, alasan ekonomi, bahkan mungkin alasan medis. Dalam buku ini dijelaskan bahwa para ahli fikih sepakat bahwa pengguguran kandungan yang telah berusia empat bulan (120 hari) diharamkan. Karena pada usia kandungan ini sudah ditiupkan roh. Namun para fuqoha berbeda pendapat tentang hukum pengguguran kandungan yang usianya kurang dari empat bulan.
            Buku yang ditulis oleh dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini mengangkat 34 persoalan kontemporer yang perlu diketahui oleh masyarakat. Masalah-masalah yang diangkat secara garis besar dapat dibagi menjadi 4 yakni; 1) Persoalan keluarga (nikah beda agama, poligami, anak angkat; 2) persoalan zakat (zakat profesi, pajak, dll); 3) persoalan ekonomi (bunga bank, koperasi, asuransi, saham, dll); 4) persoalan sosial (homoseks, lesbian,  khitan bagi wanita, bedah mayat, bayi tabung, dan lainnya).

                                    FIKIH KONTEMPORER
                                    Judul : Fikih Kontemporer
                                    Penulis : H. Sapiudin Shidiq
                                    Penerbit: Prenadamedia Group, Jakarta
                                    ISBN :978 6020895 99 4





Lasa Hs
Perpustakaan UMY  


Rabu, 06 September 2017

Rekonstruksi peran putakawan dan perpustakaan di era informasi

Rabu, 30 Agustus 2017 Prodi Ilmu perpustakaan UM (Universitas Negeri Malang) mengadakan seminar nasional dan call for paper dengan tema : “Rekonstruksi peran putakawan dan perpustakaan di era informasi". Seminar tersebut diisi oleh 3 pemateri yaitu Dr. Rahma sugihartati, M.Si. Drs. Darmono, M.Si, dan Dr. Agus Rusmana, MA.

Dalam kesempatan Dr. Rahma Sugihartati, M.Si. memberikan pemaparan tentang Dekonstruksi serta Rekonstruksi Pustakawan dan Perpustakaan. Narasumber mengajak para pustakawan untuk mencoba berfikir kritis tentang tatanan yang ada dalam perpustakaan yang di anggap sudah waktunya di rubah. Dalam hal ini menyangkut aturan-aturan perpustakaan yang dianggap kaku. Hal tersebut perlu dibenahi agar perspektif tentang perpustakaan terkesan kaku dan membosankan berubah dibenak pikiran pemustaka. Dalam hal ini peran dekonstruksi yaitu membuat cara pandang baru dalam tatanan perpustakaan. Serta peran rekonstruksi sendiri yaitu melanjutkan peran dekonstruksi guna mewujudkan perpustakaan yang anti mainstream dan fleksibel seiring perubahan sosial masyarakat.
Drs. Darmono sebagai narasumber kedua menguatkan materi dari narasumber yang pertama yaitu pustakawan harus siap dalam menghadapi perkembangan era informasi dan pengetahuan sekarang. Adalah pustakawan dituntut untuk selalu siap sebagai SDM yang unggul dalam melayani informasi-informasi yang up to date kepada pemustaka. Dengan tujuan membangun citra perpustakaan dan citra pustakawan sebagai pelaku jasa informasi.

Narasumber ketiga Dr. Agus Rusmana dalam kesempatannya memberikan beberapa poin tentang komunikasi pustakawan dan akademisi yang merujuk pada perpustakaan perguruan tinggi. Narasumber menekankan bahwa sering terjadi perbedaan persepsi tentang perpustakaan antara pustakawan dan akademisi. Hal ini ditenggarai karena adanya intensifitas komunikasi antara pustakawan dan akademisi yang kurang lancar. Perlu bagi pustakawan mengambil inisiatif untuk berkomunikasi dengan memanfaatkan teknologi komunikasi berbasis internet. Hal tersebut bertujuan agar persepsi antara kedua belah pihak tidak berseberangan.


Pemaparan dari ketiga narasumber tersebut dapat disimpulkan bahwa pustakawan dalam era sekarang dituntut berfikir kritis dan memiliki pandangan luas agar tidak terbelenggu terhadap arus yang sudah dianggap usang. Dalam pelayanannya perlu ditekankan bahwa pustakawan harus dinamis dan mengikuti perkembangan jaman. Serta pustakawan harus mengutamakan komunikasi kuat terhadap akademisi agar dari pihak akademisi memiliki persepsi sama dengan pustakawan terhadap perpustakaan yang sering dikatakan sebagai jantung perguruan tinggi.

Muhammad Erdiansyah Cholid Anjali

Minggu, 03 September 2017

Pustakawan PTMA Unggul di Kopertis V

Dunia kepustakawanan PTMA menunjukkan kemajuan yang signifikan. Indikatornya antara lain telah memiliki standar, terbentuknya jaringan, terakreditasinya 12 perpustakaan PTMA dan prestasi pustakawan dalam berbagai konpetisi. 
Beberapa hari lalu,  12 pustakawan PTMA lolos call for paper di Univ.Negeri Malang. Mereka adalah 4 orang dari UMY, 3 orang dari UAD, 2 orang dari UM Malang. Sedangkan dari UM Magelang, UM Jember dan UM Surakarta masing masing satu orang.


Kemajuan itu ditambah dengan terpilihnya Arda Putri Winata (UMY) sebagai juara I pustakawan berprestasi Kopertis V dan Nanik Arkiyati (UAD) juara II pustakawan berprestasi.Semoga unggul di tingkat nasional versi Kemristekdikti.


AWAL DARI MENULIS ADALAH MEMBACA

Menulis merupakan suatu kegiatan dimana kita bisa menuangkan semua  gagasan ide dan pemikiran kita ke dalam bentuk susunan kalimat yang baik dan benar. Menurut Wiji Suwarno dalam acara workshop yang diadakan di Perpustakaan UNS dengan tema “Membudayakan Membaca dan Menulis Melalui Karya Inspiratif” (29/08/2017), menyatakan bahwa dengan menulis, kita mendapatkan berbagai macam manfaat antara lain; 1) nama kita akan sering muncul di google scholar; 2) dapat mempengaruhi banyak kepala dan pemikiran seseorang; 3) dapat ikut serta dalam memberikan masa depan kepada orang lain; dan 4) dapat menyampaikan pemikiran dan ide kita kepada masyarakat luas. Selain itu beliau juga memaparkan tentang prinsip penulis, antara lain:

  • Writing is art, artinya menulis adalah seni. Dengan kita bisa menulis, maka kita memberikan sebuah karya seni kepada setiap orang yang membacanya karena setiap orang menyukai keindahan
  • Writing need audience, artinya menulis membutuhkan audience. Apabila ingin menulis, maka  tentukan terlebih dahulu berapa lama kita bisa menuliskan tulisan tersebut, sehingga kita memiliki target. Setelah itu kita tentukan kira-kira siapa yang akan membaca tulisan tersebut sehingga kita dapat menyesuaikan bahasa dan alur tulisan kita kepada pembaca dengan baik  dan tepat sasaran
  • Writing is easy, artinya menulis itu mudah. Sebenarnya menulis itu merupakan kegiatan yang mudah apabila kita sering membaca buku.
  • Writing is word of heart, artinya menulis adalah sebuah kata hati. Kita dapat menuangkan seluruh emosi yang ada pada diri kita untuk dituangkan ke dalam sebuah bentuk tulisan karena sesungguhnya menulis itu merupakan sebuah kata hati. Ketika kita menulis dengan melibatkan kata hati, maka kandungan dari tulisan tersebut akan sampai kepada pembacanya.
  • Writing is expectation, artinya menulis merupakan sebuah harapan. Ada beberapa orang yang menjadikan menulis sebagai ladang dalam memenuhi kebutuhan  mereka, contohnya: JK Rowling, seorang novelis yang mendapatkan pundi-pundi uang yang didapatkan dari hasil karya tulisannya.


Tidak sedikit orang yang merasakan kesulitan dalam menulis karena berbagai faktor seperti malas, tidak memiliki topik/bahasan, kebiasaan menunda-nunda, atau bahkan takut salah. Hal tersebut perlu dihilangkan dari kebiasaan masyarakat kita yang sudah harus menyesuaikan diri dengan era literasi informasi. Dalam acara tersebut Wiji Suwarno memberikan trik dalam menulis, yaitu: 1) Luangkan waktu, 2) Fokus pada satu ide, 3) Atur konsep, 4) Tulis dan tuangkan apa saja ide pemikiran kita dan hindari untuk mengoreksi, 5) Berhenti pada saat sudah jenuh, 6) Ajak teman untuk berdiskusi, dan 7) Edit setelah semuanya sudah selesai.
Faktor dalam menulis juga dapat dikarenakan kurangnya bahan referensi atau bahan bacaan. Menurut Restu Sukesti dalam acara yang sama menuturkan bahwa awal dari menulis adalah membaca, sehingga orang yang pandai menulis pasti memiliki literasi yang tinggi. Membaca merupakan langkah awal dalam menulis, karena dari hasil membaca tersebut maka kita akan mendapatkan inspirasi, mengetahui susunan dan alur dalam menulis, serta mengetahui bahasa-bahasa tulisan yang baik dan benar sehingga dapat memudahkan kita untuk menulis sebuah tulisan.
Namun berdasarkan studi "Most Littered Nation In the World" yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60. Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa tingkat minat baca orang Indonesia masih tergolong rendah dibanding dengan negara-negara di dunia dan hal itu sangat mempengaruhi peran serta masyarakat dalam membuat sebuah tulisan. Maka dari itu proses dalam membangkitkan minat baca masyarakat, yaitu dimulai dari keterpaksaan. Keterpaksaan tersebut nantinya akan menjadi kebiasaan yang harus selalu diulang-ulang, setelah itu kita akan merasa bahwa membaca itu adalah sebuah kewajiban yang harus kita lakukan sebagai sebuah rutinitas, hingga pada akhirnya kita akan selalu merasa membutuhkan sebuah buku untuk dibaca setiap harinya. Dari situlah akan muncul stimulus dan mendapatkan inspirasi serta ide dalam membuat sebuah tulisan yang kita inginkan.

Aidilla Qurotianti.  

(Perpustakaan UMY)