Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Seminar Layanan Prima di UAD

oleh Dr. Muhammad Sulhan,SIP.,M.Si. dan Drs. Tedi Setiadi,M.T.

Munas di solo

Foto bareng pemateri

Rabu, 31 Oktober 2018

Silaturahim, Rapat Koordinasi, dan Sharing Session FPPTMA Korwil DIY- Jateng Selatan

Rabu (24/10) Pengurus Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah Korwil (FPPTMA) DIY-Jateng Selatan melaksanakan kegiatan rutin rapat koordinasi di STIKES Muhammadiyah Gombong. Sebelumnya, para peserta rapat melakukan kunjungan sebagai upaya mempererat silaturahim  ke Sekolah Tinggi Teknologi Muhammadiyah (STTM) Kebumen.
Dalam kesempatan tersebut, Lasa HS selaku ketua umum FPPTMA menyampaikan beberapa hal berkaitan dengan pengelolaan perpustakaan kepada Ketua STT Muhammadiyah Kebumen. Selain itu, para peserta rapat yang terdiri dari perpustakaan UMY, UNISA, UM Magelang, UM Purwokerto, UM Purworejo, dan Stikes Muhammadiyah Gombong memberikan bantuan buku sebagai tambahan koleksi perpustakaan STT Muhammadiyah Gombong. 
Seusai melaksanakan kunjungan, rombongan kemudian bertolak menuju STIKES Muhammadiyah Gombong untuk melaksanakan agenda selanjutnya yakni Sharing Session dan rapat koordinasi. Rombongan disambut oleh Wakil Ketua II STIKES Muhammadiyah Gombong. Dalam sambutannya, Wakil Ketua II menyampaikan beberapa hal tentang pengelolaan perpustakaan STIKES Muhammadiyah Gombong yang telah memberikan layanan dalam bentuk digital library. Beliau juga memberikan apresiasi kepada FPPTMA yang telah bersedia memberikan dukungan moril maupun materiil berupa bantuan buku ke perpustakaan STIKES Muhammadiyah Gombong. Selain itu, Wakil Ketua II juga mengharapkan melalui silaturahim dapat dijadikan ajang berbagi para pengelola perpustakaan Muhammadiyah ‘Aisyiyah untuk memajukan perpustakaan di masing-masing instansinya.
Acara selanjutnya yaitu Sharing Session yang membahas tentang “Strategi Presentasi dan Pemilihan Seminar untuk Mempresentasikan Karya Ilmiah” dengan pemateri Arda Putri Winata, SIP., M.A yang juga merupakan pustakawan UMY. Arda memaparkan beberapa hal penting yang perlu dicermati oleh penulis pemula untuk Call for Paper baik lokal, nasional, maupun internasional. Pustakawan harus menulis agar dirinya lebih bermanfaat bagi banyak orang dan menjadi inpirasi bagi yang lainnya untuk ikut menulis. Selain itu, memilih konferensi yang akan diikuti juga harus dicermati. Daftar konferensi dapat dilihat melalui www.conferencealert.com.
“Bapak/ibu yang ingin menulis, jangan takut untuk ditolak. Karena saya pun juga tidak selalu lolos ketika submit paper. Yang pasti kita telah berani mencoba”

Sharing session berlangsung selama satu jam dengan berbagai diskusi dari narasumber dan peserta. “Melalui sharing session diharapkan pustakawan yang sudah berpengalaman dalam konferensi seperti Arda  dapat ditularkan kepada pustakawan FPPTMA lain sehingga pustakawan dapat mengembangkan diri melalui tulisan”, begitu pungkas Lasa HS saat menutup sesi Sharing Session tersebut.
Sesi selanjutnya yaitu Rapat Koordinasi yang dipimpin oleh ketua FPPTMA Korwil DIY-Jateng Selatan yaitu Jamzanah Wahyu Widayati, S.I.Pust., M.A. (kepala perpustakaan UMMagelang). Rapat tersebut membahas rencana anggota FPPTMA Korwil DIY-Jateng Selatan dalam membantu STTM Kebumen dalam hal pengadaan perangkat pendukung seperti komputer untuk memperlancar pengelolaan perpustakaan. Pengelola perpustakaan STTM Kebumen juga diharapkan dapat melakukan magang ke STIKES Gombong untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana pengelolaan perpustakaan agar lebih terstruktur. Rapat juga membahas tentang agenda selanjutnya yaitu kegiatan April 2019 di UM Purwokerto dan silaturahim ke STIE Muhammadiyah Cilacap.

Atin Istiarni

Minggu, 28 Oktober 2018

DISIPLIN KERJA


Disiplin kerja sangat memengaruhi produktivitas dan kinerja lembaga (perpustakaan). Di satu sisi, disiplin kerja merupakan kekuatan yang berkembang di kalangan pegawai sehingga mereka berusaha untuk menyesuaikan diri dengan kesadaran yang tinggi karena adanya peraturan, kebijakan, keputusan, dan nilai-nilai lembaga.
Sikap dan kesediaan pegawai untuk mentaati norma, kultur, dan peraturan lembaga akan memperlancar pelaksanaan tugas, kewajiban, dan tanggung jawab masing-masing pegawai. Dengan adanya disiplin kerja yang tinggi, akan diperoleh efisiensi dan efektivitas lembaga.
Untuk memahami kedisiplinan kerja, kiranya dapat dipelajari dan dipahami kedisiplinan kerja lebah. Lebah memiliki sistem kerja yang baik. Dalam hal ini, Allah berfirman dalam Q.S. An Nahl: 68 – 69 yang artinya :”Dan Tuhanmu  mewahyukan kepada lebah :”Buatlah  sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat oleh manusia”. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya bagi yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang memikirkan”.
          Meskipun lebah sebagai makhluk tak berakal, namun apabila kita perhatikan, lebah memiliki sistem kerja yang baik. Mereka punya perencanaan, pembagian kerja yang teratur, dan disiplin kerja yang tinggi. Dalam hal ini, Djalaludin (2014) menjelaskan bahwa rata-rata sekitar 60 – 70 ribu lebah hidup dalam sebuah sarang. Meskipun populasi yang begitu besar, serangga ini mampu melakukan pekerjaan masing-masing secara terencana dan teratur. Satu koloni lebah biasanya terdiri dari empat kelompok, yakni lebah ratu, lebah jantan, lebah betina, dan lebah pekerja. Mereka memiliki tugas masing-masing secara teratur sesuai job description mereka, sehingga tidak terjadi overlapping.
Lebah ratu adalah lebah yang bertanggung jawab dalam proses reproduksi dalam koloni lebah madu. Lebah ratu ini biasanya merupakan satu-satunya lebah yang melakukan proses perkawinan. Umumnya memiliki ukuran yang lebih besar dari lebah biasanya.
Setiap kelompok lebah memiliki tugas masing-masing. Lebah ratu hanya satu ekor dalam setiap koloni dan bertugas mengawal seluruh kegiatan lebah betina dan lebah jantan. Adapun komposisi kromosomnya diploid sehingga dapat menghasilkan keturunan. Badan lebah ratu ini lebih besar karena sejak dalam bentuk larva ini diberi makan royal jelly yang kaya akan khasiat. Tugas utama lebah ratu ini adalah kawin dan bertelur. Lebah ratu yang aktif, konon mampu bertelur kira-kira 2.000 (dua ribu) butir sehari. Sedangkan harapan hidupnya, seekor lebah ratu sampai 3 (tiga) tahun.
Lebah jantan mendapat tugas untuk mengawini lebah ratu, dan anehnya lebah ini mati setelah melakukan tugasnya. Lebah jantan ini merupakan lebah hasil perkawinan (sehingga diploid) yang diberi makan nektar dan madu biasa (bukan royal jelly).
          Lebah betina bertugas mengumpulkan serbuk-serbuk sari dari nektar. Kemudian madu merupakan produk dari hasil pengolahan makanan ini dan disimpan dalam sarang lebah untuk makanan, termasuk untuk larva dan pupa. Ada juga lebah betina yang bertugas membersihkan sarang  dan menjaga anak-anak lebah. Harapan hidup lebah betina yang melakukan pekerjaan tersebut sekitar 3 (tiga) bulan.
          Lebah pekerja bertugas untuk melaksanakan seluruh kegiatan yang berhubungan dengan sarang. Mereka melakukan berbagai tugas secara bergantian. Selama 3 (tiga) hari pertama dalam hidup mereka digunakan untuk membersihkan sarang. Mereka bertanggung jawab untuk memeriksa sel-sel yang akan digunakan oleh lebah ratu untuk meletakkan telurnya. Mereka juga bertugas mengumpulkan kotoran yang ada dalam sel-sel yang telah ditinggalkan oleh larva yang telah lahir. Lebah-lebah itu juga mengatur kelembapan dan temperatur di dalam sarang. Apabila dibutuhkan, untuk menjaga kelembapan dan temperatur ini, mereka mengepakkan sayap-sayap pada pintu masuk sarang untuk membuat angin.
Pelajaran bagus bagi kita, bahwa dalam suatu lembaga (perpustakaan) diperlukan pembagian tugas yang tegas secara tertulis. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga jangan sampai terjadi tumpang tindih dalam pelaksanaan pekerjaan. Untuk itu diperlukan standar kerja yang jelas. Dengan adanya standar kerja ini diharapkan mampu mewujudkan kedisplinan kerja yang baik. Dengan adanya kedisiplinan kerja yang tinggi diharapkan mampu meningkatkan produktivitas (barang & jasa).
          Untuk menegakkan dan meningkatkan kedisiplinan kerja, kiranya perlu dilakukan berbagai pendekatan. Pendekatan itu antara lain berupa pendekatan kedisiplinan preventif, kedisiplinan korektif, dan kedisiplinan progresif (Haiandja, 2002).
Kedisiplinan preventif adalah tindakan yang mendorong pegawai untuk mentaati peraturan, kebijakan, dan nilai-nilai suatu lembga tempat mereka bekerja. Tindakan ini sekaligus mencegah adanya pelanggaran terhadap peraturan maupun norma-norma yang berlaku dalam suatu komunitas/lembaga. Oleh karena itu kepada mereka perlu ditanamkan kesadaran berdisiplin kerja dan bukannya pemaksaan.
Kemudian yang dimaksud dengan kedisiplinan korektif adalah tindakan yang dilakukan untuk mencegah adanya pelanggaran. Tindakan ini dilakukan untuk memperbaiki perilaku, sistem kerja, dan memertahankan standar lembaga (perpustakaan). Dengan adanya standar yang baku suatu lembaga, berarti lembaga itu mampu mempertahanan mutu.
Kedisiplinan progresif adalah tindakan yang berupa peringatan atas pelanggaran agak berat atau adanya pelanggaran yang berulang-ulang. Tindakan ini dapat diekspresikan dengan perilaku:
1.   Memberi teguran lisan;
2.   Memberi peringatan tertulis 3 (tiga) kali;
3.   Dilakukan skorsing dalam waktu tertentu (seminggu, sebulan, dua bulan dll) tergantung tingkat pelanggarannya;
4.   Dilakukan pemberhentian dengan hormat atau tidak hormat sesuai tingkat pelanggarannya.

 Lasa Hs

Jumat, 26 Oktober 2018

KETEGUHAN SEORANG HAMKA



Judul           : Jalan Cinta Buya
Penulis: Haidar Musyafa
Penerbit: Tangerang Selatan: Imania, 2017
ISBN : 98-602-7926-32-5
Tebal: 524 halaman
Umat Islam Indonesia bangga pernah memiliki ulama kharismatik, multitalenta, toleran, dan teguh pendirian. Adalah Buya Hamka  yang memiliki prinsip, keteguhan, keuletan, dan ketawakalan yang tinggi. Beliau merupakan putra terbaik yang pernah dimiliki Indonesia, bahkan Asean dan muslim Jepang.
Dalam perjalanan hidupnya beliau menunjukkan sikap toleran kepada kawan yang beda pendapat. Beliau sangat dekat dengan K.H.Idham Khalid seorang tokoh NU. Apabila keduanya bertugas dakwah berbarengan di suatu daerah, dan Buya menjadi imam shalat Shubuh, maka beliau mengunakan do’a qunut. Hal ini untuk menghormati rekannya (KH Idham Khalid) yang biasa shalat shubuh dengan membaca qunut. Sebaliknya apabila KH Idham Khalid menjadi imam shalat Shubuh, maka beliau tidak membaca do’a qunut. Sikap ini untuk menghormati Buya Hamka yang biasanya shalat Shubuh tidak menggunakan do’a qunut.
Meski beda pendapat bahkan pernah hidup di penjara pada rezim Soekarno, Hamkapun tidak dendam dan tetap baik kepada mereka yang tak sepaham. Buktinya ketika Bung Karno wafat dalam usia 69 tahun. Hamkalah yang menjadi imam shalat jenazah di Wisma Yaso. Seusai melaksanakan shalat jenazah, Hamka bergabung dengan para tokoh penting yang sudah hadir lebih dulu. Banyak orang memuji dan menyanjungnya atas sikap kepada orang yang pernah memenjarakannya selama 2 tahun 6 bulan. Namun ada juga seseorang yang menanyakan sikap Hamka ini, katanya :” Apakah Hamka tidak dendam atau sakit hati dengan Bung Karno?. Padahal dia yang memerintahkan untuk menangkap dan memasukkan Buya Hamka ke dalam tahanan ?. Orang itupun masih mlanjutkan protesnya “Bung Karno itu adalah seorang munafik, karena menginkari ajaran agamanya sendiri dan membela kepentingan orang-orang komunis. Mengapa Buya Hamka yang seorang ulama alim dan pernah didzalimi oleh Bung Karno bersedia menjadi imam shalat jenazahnya?. (halaman 432). Mendengar klaim seperti ini, ulama tersohor ini memberikan penjelasan dengan tenang, katanya:” Sungguh, hanya Allah Ta’ala yang Mengetahui, apakah seseorang itu munafik atau tidak. Yang Jelas, sampai Bung Karno meninggal dunia, aku melihat beliau masih tetap sebagai seorang Muslim. Oleh karena itu, kita sebagai sesama Muslim berkewajiban untuk menyempurnakan jenazah beliau dengan cara yang sebaik-baiknya, termasuk menshalatkan jenazahnya sesuai dengan tuntunan dan ajaran Islam. Selain itu, Bung Karno adalah orang yang memiliki jasa besar untuk rakyat negeri ini, khususnya umat Islam di Indonesia. Berkat usaha dan kerja keras Bung Karnolah dua masjid megah berdiri di negeri ini. Satu masjid Baiturrahim yang ada di kompleks Istana Negara Jakarta dan satunya lagi adalah Masjid Istiqlal yang merupakan masjid terbesar dan termegah di seluruh Asia Tenggara. Sebagai rakyat biasa, aku hanya bisa berdo’a, semoga dengan adanya dua masjid itu Allah Ta’ala mencatat Bung Karno sebagai seorang yang memiliki tabungan amal jariyah, sehingga ruhnya mendapat tempat terbaik di sisiNya” (halaman: 433).  
Selayaknya tak perlu saling manyalahkan masalah furu’iyah. Saatnya kita toleran terhadap perbedaan, dan bukannya membesar-besarkan perbedaan, apalagi mencari-cari kelemahan pihak lain hanya untuk kepentingan sesaat.  
            Dalam buku berbentuk novel biografi ini dijelaskan betapa teguhnya seorang Buya Hamka dalam memegang prinsip yang tidak larut oleh kepentingan sesaat (jabatan, politik, popularitas, dll) . Suatu ketika dr. Tarmizi Tahir (saat itu sebagai Menteri Agama RI) menanyakan kepada beliau mengapa beliau mundur dari jabatan  Ketua  Majelis Ulama Indonesia/MUI (Hamka sebagai ketua MUI pertama kali). Buya pun menyatakan :”Tarmizi, Ulama itu tidak boleh dipaksa-paksa. Ulama itu yang justru dengan ilmu dan ijtihadnya yang harus memaksa umat yang salah agar bersedia mengakui kesalahannya dan kembali pada jalan yang benar” (halaman:: xx).
            Penulis Tafsir Al Azhar itu sejak 1942 telah bersahabat akrab dengan Bung Karno dan Haji  Karim Oei (nama lengkap  Oei Tjen Hien), saat itu Bung  Karno sebagai tahanan politik Belanda. Sedangkan Hamka sebagai aktivis Muhammadiyah dan penulis muda yang sangat produktif. Kecuali berjuang dengan pena, beliau juga bergabung dalam Barisan Pertahanan Nasional (BPN) dan Front Pertahanan Nasional (FTN). Ketika berjuang di medan perang itu, beliau juga harus membahagiakan isteri dan putra-putranya yang masih kecil.
Sebagai seorang manusia, kadang muncul keraguan dalam hatinya. Mana yang harus dipilih antara berjuang membela negara atau menghidupi isteri dan anak-anak yang masih sangat membutuhkan kasih sayang orang tua. Dalam kebimbangan ini, beruntunglah Hamka memiliki istri yang shalihah, tabah, dan tawakal dan memotivasi suami untuk berjuang mengenyahkan ketidak adilan. Ketika Buya akan berangkat ke medan perang dan pamit pada Siti Raham (istri Hamka). Siti Rahampun menyatakan:”Selama ini aku selalu berusaha untuk menunaikan amanah Engku Haji dengan sebaik-baiknya. Selama Engku Haji berada di luar rumah, saya selalu membimbing anak-anak untuk belajar dan mengaji. Saya ingin anak-anak tumbuh menjadi anak yang shaleh dan berbakti pada kedua orang tua, juga berguna bagi agama dan negara seperti harapan Engku Haji selama ini “. (halaman :104)
Novel biografi ini mengisahkan perjalanan hidup seorang Hamka yang mengalami berbagai penderitaan, kesedihan, dan fitnah. Duka dan derita dirasakan sebagai seorang pejuang kemerdekaan dan kebenaran. Ketika di Maninjau (1948) beliau berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Jakarta, 1950
            Atas dorongan Bung Karno, Hamka dan keluarga diminta hijrah ke Jakarta. Di Ibu kota RI ini, Hamka memulai karir sebagai pegawai Kemenag RI, penulis, sastrawan, ulama, pemikir, dan penceramah. Hamka bukan hanya milik bangsa Indonesia, namun kiprahnya dikenal luas di mancanegara seperti Malaysia, Brunei, dan Jepang.
            Sebenarnya ketika mendapat surat dari Bung Karno agar pindah ke Jakarta, Hamkapun ragu-ragu atas tawaran itu. Beliaupun minta pendapat kepada kakak iparnya yakni Kiyai Haji Sutan Mansyur. Tokoh Muhammadiyah ini menyatakan :” Sebaiknya kamu turuti saja permintaan Presiden Soekarno, dinda Hamka. Saya yakin, jika kamu menuruti permintaan proklamator kemerdekaan Indonesia itu, maka kamu akan mendapat banyak hikmah nantinya”.(halaman 107)
            Buku kisah ulama besar yang ditulis dalam bentuk novel oleh Haidar Musyafa ini sangat menginspirasi pembaca tentang semangat berjuang, nilai-nilai istiqomah, kesabaran, katawakalan, dan sabar menghadapi perbedaan pendapat. Memang karya penulis muda berbakat ini merupakan karya yang memikat, ditulis dengan bahasa yang apik, menarik, sehingga seorang pembaca seolah-oleh menyimak penuturan seorang tokoh yang ditulisnya.

Lasa Hs


Kamis, 25 Oktober 2018

KEBOHONGAN ITU KEJAHATAN Tulisan -3 Khianat


Perilaku khianat sangat membahayakan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Sejarah hitam telah tertoreh pada bangsa ini antara lain akibat pengkhiaatan PKI. Pembunuhan yang keji dan kejam itu merupakan bentuk pengkhianatan terhadap negara.  Dengan G 30 S (Gerakan 30 September) itu,  orang-orang komunis akan mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi komunis. Hal ini merupakan bentuk pengkhianatan terhadap apa yang telah dirumuskan dan disepakati  oleh para pejuang dan founding fathers bangsa.
Demikian pula dengan tertangkapnya beberapa pejabat dalam OTT dalam tindak korupsi, manipulasi, dan suap. Mereka telah mengkhianati dan mencederai kepercayaan masyarakat dengan memenuhi syahwat duniawiyah. Mereka tega inkar janji atas sumpah jabatan yang pernah diucapkan . Mereka selalu membela diri bahwa mereka tetap amanah sampai berani sumpah demi Allah.
Selama ini mereka mengaku bahwa mereka melaksanakan kegiatan itu untuk melakukan perbaikan sistem. Namun sebenarnya yang terjadi adalah justru mereka
itu  merusak sistem . Firman Allah dalam Q.S.Al Baqarah: 11  12 :”Dan, apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi.” Mereka menjawab, “tidak lain kerja kami hayalah melakukan perbaikan”. Keahuilah bahwa sesungguhnya mereka itu adalah perusak-perusak, namun mereka itu tidak menyadarinya”.
          Peristiwa perang Uhud juga merupakan pelajaran bagi kita tentang bahaya dan akibat pengkhianatan. Menjelang peperangan , Rasulullah saw telah memberikan instruksi pada pasukan pemanah agar mereka tetap memposisikan diri di lokasi yang strategis yang telah ditentukan oleh  Rasulullah saw. Apapun yang terjadi, pasukan itu tidak boleh beranjak dari lokasi itu.Namun karena tergiur dan tergoda jebakan musuh, mereka meninggalkan pos itu untuk mengambil harta rampasan perang yang  merupakan  pancingan musuh. Tipu daya ini agar pasukan  pemanah itu  meninggalkan pos strategis tersebut. Mereka tidak mengikuti perintah (alias khianat pada ) Nabi saw,maka dalam perang tersebut umat Islam menderita kekalahan. Tidak sedikit para sahabat yang gugur sebagai syuhada’ Perang Uhud. Mereka dimakamkan di Jabal Uhud itu, termasuk paman Beliau bernama Hamzah.


Lasa Hs

Minggu, 21 Oktober 2018

PEMENANG LOMBA POHON PUSTAKA PERPUSTAKAAN UNISA YOGYA



Dalam rangka menyambut bulan gemar membaca dan hari sumpah pemuda, Perpustakaan UNISA Yogyakarta menyelenggarakan Lomba Pohon Pustaka. Pemenang lombanya sebagai berikut. Juara 1 Andi Siswanto, Prodi Ilmu Komunikasi. Juara 2 dan 3 adalah  Fitri Nur Indah dan Nuria Zakiatus S dari Prodi D4 Program Sarjana Terapan Kebidanan. Juara harapan 1 Sholih Fauzan Prodi Ilmu Keperawatan. Juara harapan 2 Lisa Ayu Listari Prodi Anastesi D4, dan juara favoritnya Linda Yulyani Prodi S2 Kebidanan. Jutaan hadiah, sertifikat dan FD 32 GB diserahkan kepada pemenang pada hari Sabtu 20 Oktoberr 2018 bertempat di masjid kampus terpadu Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. Penyerahan hadiah dilakukan oleh Wakil Rektor I UNISA Yogya, Bapak Taufiqur Rahman, S.I.P., M.A., Ph.D. didampimngi oleh Kepala Perpustakaan UNISA Yogyakarta.
Waktu pengumpulan naskah lomba yang hanya satu bulan,  berhasil diikuti oleh 28 peserta,  berasal dari berbagai program studi di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. Semua peserta lomba mendapatkan sertifikat dan kenang-kenangan berupa Flas Disck 32 GB. Dalam penyerahan hadiah, Wakil Rektor I Unisa berpesan kepada para juara agar lebih rajin memanfaatkan perpustakaan. Irkhamiyati, SIP., M. IP, selaku ketua panitia sekaligus Kepala UPT Perpustakaan menyampaikan bahwa tujuan diadakannya lomba ini adalah sebagai ajang promosi perpustakaan, untuk lebih menarik mahasiswa dalam meningkatkan layanan perpustakaan yang ada, serta promosi Unisa di dunia maya. Content lomba berupa testimoni dan usulan untuk pengembangan Perpustakaan UNISA Yogyakarta ini sangat bermanfaat yang selanjutnya akan tetap dipasang di pohon hiasan yang ada di perpustakaan. Hal ini akan menjadi daya tarik dan salah satu spot menarik di UNISA Yogyakarta, sebagai gerbang untuk memanfaatkan perpustakaan. Selamat kepada para pemenang, dan terima kasih kepada peserta yang telah berperan aktif dalam lomba ini. (Irkhamiyati-2018)





Jumat, 19 Oktober 2018

Antisipasi Konflik : Tulisan ke 4



Terjadinya konflik dapat diantisipasi sedini mungkin. Antisipasi ini dapat dilakukan antara lain dengan cara memahami ekspresi seseorang. Ekspresi konflk dapat diketahui secara jelas, tersembunyi, pasif, dan agresif (Lasa Hs., 2016)
1.Jelas
Konflik ini disebut juga dengan konflik terbuka. Ekspresi konflik terbuka ini bisa dalam bentuk sikap yang agresif seperti ejekan, olok-olokan, kritik yang tidak jelas atau WTS (waton suloyo), teriakan, maupun tindakan kekerasan.
Konflik semacam ini  dapat disaksikan pada pertandingan sepak bola atau pertarungan tinju. Para bebotoh kadang saling mengejek, melempar batu, mencegat sebelum, saat , atau sesudah bertanding.
2. Agresif
Konflik ini diekspresikan dalam bentuk sopan santun yang dibuat-buat, pura-pura taat, tidak mau bicara, bahkan diajak makan pun tidak mau. Kalau dibiarkan konflik ini akan berkembang, karena mereka di belakang suka kasak kusuk.
3.Pasif
Konflik ini diekspresikan dalam perilaku diam, tidak mau bekerjasama, tidak mau membantu, datang terlambat, sering membolos dengan alasan yang tidak jelas. Kalau rapat mesti pamit. Pagi datang, siang pergi tak jelas menurus apa. Nanti menjelang pulang datang lagi untuk presensi.
4.Tersembunyi
Sebenarnya konflik ini merupakan lanjutan konflik agresif. Namun dalam ekspresinya tidak terus terang. Ekspresi konflik ini dapat dikenali dari bentuk komentar yang sekedar cari-cari masalah, kritikan asal-asalan, mencela, dan terus menerus mencari kesalahan pihak-pihak yang tidak sependapat. Mereka yang tidak sependapat cenderung dianggap sebagai kompetitor, penghalang, bahkan dianggap musuh   
Bersambung

Lasa Hs


SEPUTAR  KONFLIK
Tulisan - 5
        Solusi Konflik


Perbedaan pendapat, salah paham, dan beda keinginan dalam suatu lembaga/perpustakaan merupakan hal lumrah terjadi, dan kewajaran dalam kehidupan ini. Namun konflik ini apabila tidak diantisipasi dan dicari solusinya, maka bisa menimbulkan perpecahan bahkan permusuhan yang berlarut-larut. Dalam hal ini Lubatoruan dalam Ensiklopedi Nasional Indonesia jilid 8 (1990: 98) memberikan saran penyelesaian konflik antara lain  dengan:
1.     Mengidentifikasi tingkat konflik;
2.     Mencegah pengaruh negatif yang dapat ditimbulkan;
3.     Memelajari kemungkinan perlunya penetapan sanksi kepada pihak yang terlibat;
4.     Berusaha memadukan persepsi kedua pihak agar masing-masing memahami dasar pemikiran pihak lain;
5.     Mencari jalan keluar dengan meminta toleransi kedua belah pihak demi kepentingan organisasi (perpustakaan);
6.     Memberi umpan balik kepada kedua belah pihak agar masing-masing menyadari kekurangannya dan dapat mencegah timbulnya konflik yang bisa menimbulkan keadaan negatif di masa mendatang.
Memang banyak teori yang dikemukakan beberapa penulis dan pakar untuk mengantisipasi dan sebagai solusi suatu konflik. Dalam teori lain disebutkan bahwa konflik dapat diatasi dengan cara negoisasi, kompetisi, akomodasi,smoothing, menghindar, dan kolaborasi.
1.     Negoisasi
Negoisasi ini bisa disebut pula dengan kompromi. Kompromi merupakan penyelesaian konflik ketika semua pihak yang terlibat saling menyadari dan sepakat pada keinginan bersama. Penyelesaian dengan strategi ini sering diartikan dengan lose-lose situation. Yakni kedua belah pihak yang terlibat saling menyerah dan menyepakati yang yang telah diperbuat.
2.     Kompetisi
Strategi kompetisi ini bisa disebut cara penyelesaian konflik dengan win-lose situation. Dalam penyelesaian konfik ini menekankan hanya ada satu orang, pihak, atau kelompok yang menang tanpa mempertimbangkan pihak yang kalah. Akibat negatif dari strategi ini adalah timbulnya kemarahan, putus asa, bahkan kerusuhan di kemudian hari;
3.     Akomodasi
Teori akomodasi ini bisa disebut dengan penyelesaian konflik dengan cooperative situation. Pada strategi ini seseorang berusaha  mengakomodasi permasalahan dan memberi kesempatan pihak lain untuk menang. Pad cara ini, masalah utama yang terjadi sebenarnya tidak terselesaikan. Strategi ini biasanya digunakan oleh partai politik atau kelompok-kelompok yang berebut kekuasaan dengan segala cara dan konskuensinnya;
4.     Smoothing
Teknik ini merupakan cara penyelesaian konflik dengan cara mengurangi komponen emosional dalam konflik. Pada strategi ini, individu yang terlibat dalam konflik berupaya mencapai kebersamaan dari perbedaan dengan penuh kesadaran dan introspeksi diri. Strategi ini biasanya diterapkan pada konfik yang ringan.
5.     Menghindar
Pada strategi ini, semua pihak yang terlibat dalam konflik menyadari tentang masalah yang dihadapi. Namun mereka memilih menghindar atau sengaja tidak menyelesaikan masalah. Strategi ini kalau tidak hati-hati sewaktu-waktu dapat muncul kembali
6.     Kolaborasi
Strategi ini sering disebut cara penyelesaian konflik dengan istilah win-win solution. Dalam strategi ini, kedua belah pihak yang terlibat menentukan tujuan bersama dan bekerjasama dalam mencapai suatu tujuan. Keduanya yakin akan bisa mencapai tujuan bersama itu. Strategi kolaborasi tidak akan bisa berjalan apabila kompetisi insentif sebagai bagian dari situasi tersebut, kelompok yang terlibat tidak mempunyai kemampuan dalam menyelesaikan masalah, dan tidak adanya kepercayaan dari kelompok (Bodwdtich dan Buono, 1994 dalam Nursalam, 2015).

          Selesai
         
Lasa Hs


Selasa, 16 Oktober 2018

SEPUTAR KONFLIK Tulisan - 3 Ekspresi konflik


Konflik yang terjadi dalam suatu organisasi, lembaga, maupun perpustakaan dapat terdiri dari konflik dalam diri sendiri, konflik antarindividu, konflik individu dengan kelompok, konflik antarkelompok, maupun konflik antarunit kerja.
  1. Konflik dalam diri sendiri
Setiap individu memiliki sikap yang berbeda dalam menghadapi tugas dan kewajiban, baik tugas baru maupun tugas lama. Konflik dapat terjadi dalam diri seseorang apabila menghadapi ketidakpastian tugas, mendapat tugas di luar kemampuannya, dan banyaknya tuntutan dan tugas yang harus diselesaikan
  1. Konflik antarindividu
Perbedaan peran dan perbedaan kepribadian antarindividu dapat menyebabkan konflik. Maka konflik dalam perpustakaan dapat terjadi antara atasan dan bawahan, antara bawahan dan bawahan, atau antarunit kerja. Konfik semacam ini mungkin terjadi sebagai akibat adanya indvidu yang malas, egois, iri, dengki, suka memfitnah, dan lainnya. Mereka ini perlu diberi pengarahan dan pembinaan
  1. Konflik individu dengan kelompok
Seseorang dapat saja diasingkan, dikucilkan bahkan dikeluarkan dari kelompok kerja atau komunitasnya. Mereka dianggap tidak bisa menyesuaikan diri, melanggar aturan, tidak disiplin, dan lainnya. Mereka yang diasingkan itu akan mengalami konflik yang dapat membuat suasana kaku bahkan bisa menjadi ketegangan tersendiri.
  1. Konflik antarkelompok
Terjadinya pertentangan antarbagian di suatu perpustakaan memungkinkan terjadinya konflik antarkelompok. Misalnya saja bagian pelayanan berkeinginan agar buku-buku baru segera dipajang. Namun bagian pengolahan tidak bisa memenuhi keinginan ini seara cepat. Sebab dalam proses pengolahan memerlukan beberapa tahapan atau proses, misalnya proses klasifikasi, katalogisasi, penyampulan, pelabelan dan lainnya.
  1. Konflik antarpaham, antaraliran
Kepentingan politik, suku, jabatan, persaingan karir, dan perbedaan kultur bisa menimbulkan konflik dalam suatu lembaga/perpustakaan. Konflik semacam inilah yang kadang berakhir dengan pengasingan, penculikan, pengeroyokan, bahkan pembunuhan.
            Konflik dalam suatu perpustakaan merupakan dinamika tersendiri  apabila pihak-pihak yang terlibat mampu menyikapinya dengan arif. Adanya konflik itu akan membuat semua pihak memahami kekurangan dan menghargai sifat masing-masing. Namun apabila masalah konflik dan perbedaan ini tidak disadari, maka konflik justru akan menjadi awal perpecahan.
Bersambung
Lasa Hs 

PUSTAKAWAN YANG KREATIF


Judul : Kreatvitas Pustakawan & Pengembangan Kualitas SDM
Penulis: Pustakawn Unversitas Muhammadiyah Surakarta
Penerbit : Perpustakaan UMS 150 hlm
ISBN : 978-602-19931-4-9

            Kumpulan tulisan Pustakawan UMS ini merupakan bukti bahwa pustakwan memiliki kompetensi dalam bidangnya. Dengan keberanian menulis ini menunjukkan adanya semangat berkemajuan kepustakawanan di kalangan Muhammadiyah. Buku ini merupakan bentuk rekaman kreativitas, ide, dan pemikiran para pustakawan sebagai bentuk kesadaran perlunya merekam, mendokumentasikan, dan mensosialisasikan ilmu dan pengalaman. Jangan sampai ilmu dan pengalaman  kita terkubur bersama jasad kita. Otak kita yang berisi jutaan informasi itu, kalau tidak diekspresikan sejak kini, maka nanti akan terjadi penyesalan. Otak kita itu nanti munkin hanya menjadi santapan cacing di kubur nanti. Oleh karena itu kandungan otak kita perlu ditinggalkan di dunia ini biar dibaca dan dimanfaatkan generasi mendatang.
Menulis merupakan salah satu bentuk pengembangan ilmu dan pengbadian diri dan sebagai amal jariyah. Ilmu yang tidak ditulis akan hilag ditelan masa. Nama yang “tidak ditulis” akan dilupakan sejarah. Oleh karena itu, kesadaran menulis perlu digalakkan terus menerus, disamping nembaca.
            Orang akan menulis dengan hasil baik, kalau membacanya juga baik. Maka dapat dikatakan bahwa penulis yang baik past juga pembaca yang baik. Tetapi pembaca yang baik belum tentu menjadi penulis yang baik.
            Semoga langkah penulisan bersama dalam bentuk buku ini diikuti pustakawan lain.

Lasa Hs


Jumat, 12 Oktober 2018

SEPUTAR KONFLIK Tulisan - 2 Penyebab konflik


Konflik tidak sekonyong-konyong terjadi begitu saja, tetapi dipicu dari berbagai sebab yang  terjadi sebelumnya. Konflik dalam suatu organisasi (perpustakaan misalnya) bisa terjadi karena beberapa hal. Dalam hal ini Fisher, (2000, dalam Lasa Hs 2009: 39) menyatakan bahwa penyebab konflik dalam organisasi adalah sebagai berikut:
1.     Saluran dialog yang ada, tidak berfungsi dengan baik
Konflik bisa terjadi lantaran komunikasi dua arah kurang lancar bahkan cenderung macet. Maka dialog nyaris hilang. Hal ini bisa saja disebabkan oleh kepemimpinan yang otoriter, tertutup, tidak mau menerima masukan dari anak buah. Bisa juga hal ini terjadi karena bawahan dianggap bodoh dan dianggap tidak memiliki hak berbicara.
2.     Keluhan-keluhan yang tidak direspon.
Beberapa keluhan, ketidaksetujuan, bahkan masukan dari bawahan maupun pihak lain tidak mendapatkan tanggapan, bahkan disepelekan. Keadaan seperti ini lama- kelamaan bisa meledak dan bisa membahayakan eksistensi organisasi. Anak buah nampaknya diam, tetapi bisa saja diam mereka itu justru menyusun kekuatan untuk melawan. Keadaan ini apabila tidak bisa diantisipasi sebelumnya, maka bisa menjadi bom waktu bagi suatu lembaga (perpustakaan)
3.     Terjadi keadaan yang tidak stabil, tidak adil
Perlakuan yang tidak adil, mementingkan kelompok tertentu dan menekan kelompok yang lain akan menimbulkan konflik besar dalam suatu organisasi. Untuk itu, pimpinan harus adil kepada seluruh kelompok kerja organisasi (perpustakaan). Pimpinan perlu menghargai karyawan yang berprestasi dan memberikan peringatan kepada mereka yang melakukan pelanggaran. 
4.     Struktur organisasi
Penyusunan struktur organisasi sebenarnya dimaksudkan untuk melancarkan tugas, kewajiban, tanggung jawab, dan wewenang. Namun demikian, dalam pelaksanaannya, sering terjadi kesalahpahaman. Bahkan ada beberapa kelompok kerja yang tidak mau mengikuti struktur, berlawanan dengan angaran dasar dan anggaran rumah tangga organisasi. Mereka kadang menempuh jalan pintas untuk mencari kekuasaan sendiri bersama kelompoknya. Kejadian ini bisa menimbulkan konflik berkepanjangan dan akan memunculkan kepemimpinan tandingan.

Bersambung

Lasa Hs


Kamis, 11 Oktober 2018

KEBOHONGAN ITU KEJAHATAN Tulisan – 2 Efek Kebohongan


Kebohongan bisa menghancurkan sendi-sendi kehidupan masyarakat, etika politik, dan tatanan negara. Korupsi, penggelapan, manipulasi, penyuapan, make up anggaran, fitnah, dan memutarbalikkan fakta merupakan bentuk kebohongan yang meresahkan masyarakat dan merusak citra diri.
Munafiq
          Apa yang dikatakan itu berbeda dengan kenyataan dan bertentangan dengan hati nurani itu namanya kebohongan. Inilah kebohongan dan dapat dikategorikan sikap nifaq  dan orang yang melakukannya disebut munafiq. 
          Dalam Tafsir at-Tanwir ( 2016) Juz 1 : 121 dijelaskan bahwa kata munafiq  merupakan kata benda (pelaku) dari sebuah perbuatan nifaq  (kemunafikan). Kata munafiq  berasal dari kata nafaqa yang secara umum berarti lewat dan lepas. Dalam bahasa Arab, sesuatu yang “lewat dan lepas” seperti yang diungkapkan dengan kata nafaqa  berhubungan dengan persoalan jual beli (al ba’i), atau kemusnahan  (al-fana’) , dan kematian (al-maut). (lihat al –Mufradat  fi Gharib al – Qur’an: 502). Penggunaan kata ini menunjukkan bahwa makna “lewat dan lepas” itu terjadi setelah adanya kemeriahan, eksistensi, dan kehidupan. Pengertian ini dapat dilihat penggunaan ungkapan nafaq al-qaum  yang berarti pasar mereka telah mati. Begitu juga pada ungkapan afaqat  ad-darahim yang berarti uang telah habis. Dari beberapa pegertian ini, maka munafiq  adalah orang yang telah kehilangan kemeriahan, eksistensi dan kehidupannya, baik dari sisi akidah maupun amaliyahnya. Maka menurut pendapat Ibnu Katsir, nifaq itu ada nifaq i’tiqadi (nifaq dalam akidah dan nifaq ‘amali (nifaq dalam perbuatan).
Agar kita terhindar dari kebohongan dan  nifaq  kiranya perlu dipahami  
indikator orang-orang munafik. Untuk itu Rasulullah Saw memberikan penjelasan tentang indikator orang-orang munafiq dalam sabdanya:” Empat sifat apabila terdapat pada seseorang maka dapat disebut munafik sejati, apabila memiliki salah satunya maka ia menyandang satu sifat munafik sampai ia meninggalkannya; 1) apabila dipercaya/diberi kepercayaan (jabatan, kedudukan, kepemimpinan) maka dia berkhianat; 2) apabila berbicara (memberikan pernyataan,statemen) dia berdusta/bohong; 3) apabila berjanji, dia menginkari; 4) apabila bermusuhan (konflik , beda pendapat, beda pilihan) dia berbuat fajir (memutarbalikkan fakta, membuat fitnah “ (HR Bukhari nomor 34, dan HR Muslim nomor 58)

Melakukan kebohongan
Ketika mereka itu berbicara, membuat pernyataan,  gertak sambal, maka hal itu berbeda dengan yang sesungguhnya/fakta atau berbeda dengan hati nurani yang bersih. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam Q.S. al-Baqarah: 14 yang artinya:”Dan apabila mereka bertemu orang-orang beriman. Mereka mengatakan/menyatakan : “Kami telah beriman”, dan apabila mereka itu kembali kepada syetan-syetan (kroni-kroni)  mereka, mereka mengatakan :” Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu,kami hanyalah berolok-olok”. 
          Dalam salah satu riwayat  disebutkan bahwa suatu ketika ‘Abdullah bin Ubay (tokoh munafiq dan pembuat hoaks) bertemu Abu Bakr ash-shiddiqi berjabat tangan dan mengatakan :”Selamat wahai Penghulu Bani Taim dan Syaikhul Islam, orang kedua beserta Rasulullah di Gua Tsur, dan yang mengorbankan jiwa dan harta bendanya untuk Rasulullah”. Kemudian dia bertemu ‘Umar bin Khattab r.a. berjabat tangan dan berkata :” Selamat Penghulu Bani ‘Adi bin Ka’ab, yang mendapat gelar “al Faruq”, yang kuat memegang agama Allah, yang mengorbankan jiwa dan hartanya untuk Rasulullah”. Setelah itu Abdullah bin Ubay si tokoh pembohong itu bertemu ‘Ali bin Abi Thalib r.a. dan besalaman lalu menyatakan :”Selamat saudara sepupu Rasulullah, menantunya, dan Penghulu  Bani Hasyim sesudah Rasulullah:. Setelah bertemu dengan 3 orang sahabat utama Rasulullah itu, lalu Abdullah bin Ubay bertemu teman-temannya yang munafiq lalu mengatakan :”Sebagaimana kalian lihat tadi akan perbuatanku. Maka bila ketemu mereka, berbuatlah seperti yang baru saja saya lakukan”. Lalu kroni-kroninya itu memuji-muji perilaku si munafiq ini. Di satu pihak,maka ketiga sahabat (Abu Bakar, ‘Umar bin Khathab, dan’Ali bin Abi Thalib) sowan kepada Rasulullah s.a.w. memberitahukan perihal pertemuannya dengan ‘Abdullah binUbay. Kemudian turunlah Q.S. al –Baqarah ayat 14 yang membeberkan kebohongan dan kepalsuan orang-orang munafiq dalam menghadapi kaum Muslimin.    (Asbabun Nuzul, 2000: 13-14).
Kebohongan adalah bentuk penipuan, baik secara lisan maupun perbuatan. Maka perlu kita jaga lisan, perkataan, SMS, WA, dan statemen kita. Hal ini sebagaimana diingatkan oleh Rasulullah S.a.w. dalam sabdanya:”Siapa yang mampu menjaga lisannya, maka Allah akan menutupi ‘aibnya, siapa yang mampu mengendalikan amarahnya, maka Allah akan melindunginya dari siksaan, siapa yang mengakui kesalahan lalu mohon ampun, maka Allah akan mengampuninya (ditahrij Ibnu Abi ad Dunya dalam ash-shumt  dengan sanad yang hasan).  
          Penipuan dan kebohongan itu bisa berupa tindakan. Suatu ketika Rasulullah Saw pergi ke pasar. Saat itu beliau mendapatkan seorang penjual makanan. Makanan yang baik ditaruh di atas dan yang jelek ditaruh di bawah/disembunyikan. Melihat keadaan ini, lalu Rasulullah menegur “ Apa ini wahai penjual makanan ?. Penjual itu menjawab :” Terkena hujan ya Rasulullah.  Kemudian Rasulullah Saw memberikan nasihat :”Mengapa (makanan yang kena hujan) itu tidak kamu letakkan di atas agar diketahui orang (yang akan membelinya) ?.Siapa yang menipu, maka orang itu tidak termasuk  golonganku “. (HR Muslim nomor 102). 
Bersambung

Lasa Hs

SEPUTAR KONFLIK Tulisan – 1 Pengertian


Konflik merupakan bentuk pertentangan antara satu pihak (individu, kelompok) dengan pihak lain. Konflik dalam organisasi, lembaga, perpustakaan  bisa terjadi karena adanya ketidak sesuaian antara dua orang atau lebih anggota, atau kelompok-kelompok organisasi yang timbul karena pemanfaatan sumber daya, perbedaan status,perbedaan nilai, maupun persepsi (Lasa Hs, 2009: 180)
          Lebih jauh Lasa Hs dalam Kamus Kepustakawanan Indonesia (2017: 345) menjelaskan bahwa konflik merupakan suatu benturan, pergulatan, pertarungan, bahkan pertentangan berbagai kepentingan, opini, maupun tujuan yang terjadi dalam diri, kelompok, lembaga, masyarakat, bahkan bangsa, dan negara. Konflik dapat diekspresikan secara jelas, pasif, agresif, dan tersembunyi.
          Ekspresi konflik secara jelas diwujudkan dalam bentuk teriak-teriak, unjuk rasa, pengerahan masa, pemboikotan, ejekan, tindakan kekerasan, saling menyindir melalui media sosial, dan lainnya. Ekspresi konflik secara pasif ditunjukkan dalam sikap tidak mau bekerja, mankir, suka membolos, datang sering terlambat, maupun sering tidak masuk dengan alasan yang tidak jelas. Ekspresi konflik secara agresif antara lain ditunjukkan dengan sopan santun yang dibuat-buat, mengabaikan, maupun selalu tidak setuju, dan ingin tampil beda. Sedangkan konflik tersembunyi antara lain diekspresikan dengan adanya komentar yang bernada merendahkan, melecehkan, menghina, mencari-cari kesalahan pihak lain, dan lainnya.   
Konflik sebenarnya ada dalam benak orang-orang yang terlibat yang perwujudannya bisa dalam bentuk kesedihan, perdebatan, saling diam, saling serang, saling fitnah, saling mengolok-olok, perkelaihan, pengerahan masa, bahkan pemboikotan.
          Perpustakaan sebagai organisasi, dapat saja terjadi konflik di dalamnya. Konflik dalam organisasi dapat terjadi antara lain adanya konflik diri individu, antar individu, individu dengan kelompok, antarkelompok, dan antarunit kerja. Untuk mengatasi konflik harus memiliki empati, memahami perbedaan kultur, perbedaan pendapat, perbedaan keinginan, dan perbedaan lain, serta berusaha merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.
          Banyak faktor yang menyebabkan konflik. Secara umum dapat dikatakan bahwa konflik bisa disebabkan oleh kesalahan komunikasi (miscommunication), perbedaan tingkat pendidikan, perbedaan agama, perbedaan paham, perbedaan ras, perbedaan bahasa, perbedaan penafsiran kebijakan, bahkan sangat mungkin konflik itu terjadi karena olah pihak ketiga. Sedangkan koflik dalam suatu organisasi (perpustakaan) dimungkinkan karena saluran dialog yang ada tidak berfungsi secara baik, suara-suara ketidak setujuan maupun keluhan tidak direspon, terjadi keadaan yang tidak stabil, dan masalah struktur organisasi.
          Konflik dapat diantisipasi dan dapat dicari solusi. Diantara teori solusi konflik itu adalah;  kolaborasi, menghindar, smoothing, akomodasi, kompetisi, dan kompromi/negoisasi.
Bersambung

Lasa Hs