Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Seminar Layanan Prima di UAD

oleh Dr. Muhammad Sulhan,SIP.,M.Si. dan Drs. Tedi Setiadi,M.T.

Munas di solo

Foto bareng pemateri

Minggu, 20 Januari 2019

Transformasi Peran Pustakawan Perguruan Tinggi dalam Mewujudkan Layanan Perpustakaan yang Humanis


Endang Fatmawat
Pustakawan UNDIP Semarang

Abstrak
Artikel ini mengemukakan bagaimana transformasi peran pustakawan dalam mewujudkan layanan perpustakaan yang humanis. Di era teknologi informasi  ini memungkinkan pemustaka menjadi asosial, karena mereka lebih senang berintegrasi dengan perangkat teknologi dalam akses informasi daripada bertanya kepada pustakawan.
Permasalahannya adalah bagaimana pustakawan mentransformasi perannya agar dapat mewujudkan layanan perpustakaan yang humanis. Humanis berarti memanusiakan manusia, sehingga pustakawan membutuhkan berbagai parameter yang diperlukan pemustaka.
Untuk mewujudkan layanan yang humanis, maka perlu adanya layanan orientasi pemustaka, dan kompetensi. Pustakawan harus memiliki daya juang yang tinggi,kreatif, dan inovasi.
Pustakawan perguruan tinggi menjadi agen perubahan perpustakaan terutama dalam memberikan layanan yang humanis. Layanan yang humanis akan memiliki dampak positif bagi pemustaka. Untuk itu diperlukan fasilitas yang humanis, sarana prasarana  yang ergonomis, dan berbagai kegiatan yang humanis.

(Bunga Rampai Layanan Perpustakaan Berbasis Humanisme, 2013: 39)





Kamis, 17 Januari 2019

Kunjungan STIkes Panti Rapih ke Perpustakaan UMY

Jum`at, 28 Januari 2018 Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mendapatkan kunjungan dari TIM STIKes Panti Rapih. Kunjungan tersebut berupa sharing informasi terkait persiapan akreditasi prodi, untuk itu ada beberapa hal yang dititik beratkan dalam diskusi :
  1. Pengembangan Koleksi
    - Cara mengukur kajian pengguna
    - Strategi seleksi bahan pustaka
    - Pengadaan bahan pustaka
  2. Pengolahan
  3. Pelayanan
    - Sistem otomasi yang digunakan
    - Literasi Informasi
    - Penjelasan sirkulasi
  4. Serta pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh Perpustakaan UMY



Rabu, 16 Januari 2019

Shalat yang Ditolak

Shalat yang Ditolak

Pada suatu hari Nabi SAW menemui para sahabat, kemudian beliau bertanya “Wahai Manusia, Jauhilah Syirik yang tersembunyi”. Kemudian para sahabat bertanya, : Ya Rasulullah, Apakah syirik yang tersembunyi itu?”
Kemudian nabi SAW menjawab, “seseorang yang berdiri mengerjakan shalat. Dia mengerjekan shalatnya dengan sungguh-sungguh karena tahu ada orang yang melihatnya. Itulah syirik yant tersembunyi”.
Dari percakapan antara rasulullah saw dengan parasahabat dapat diambil peringatan buat kita semua dalam menjalankan ibadah shalat. Yaitu jangan menjalankan shalat dengan sungguh-sungguh hanya karena ada manusia yang melihatnya melainkan bukan karena Allah swt, karena hal itu termasuk jenis perbuatan syirik yang tersembunyi.
Dan syirik merupakan salah satu dosa besar karena telah menduakan Allah swt. Sebagaimana firman Allah dalam Surat al-Kahfi ayat 110 yang berbunyi:
Artinya:”katakanlah, bahwa aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku “bahwa sesungguhnya tuhan kamu itu adalah tuhan yang esa”. Barang siapa mengharap perjumpaan dengan tuhannya, maka hendaknya ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan dengan apapun dalam beribadat kepada tuhannya”.
Oleh sebab itu, kita harus menjalankan ibadah shalat ikhlas karena Allah swt bukan karena ingin di beri ”label” baik oleh manusia. Ingatlah bahwasanya Allah mengetahui apapun yang kita kerjakan, bahkan yang kita pikirkan sekalipun.
Jadi pelajaran yang dapat diambil dalam setiap hal yang kita kerjakan kuncinya adalah ikhlas lillahi ta’ala agar segala yang kita kerjakan mendapat pahala, ridlo, dan berkah dari Allah swt dan dapat dijauhkan dari segala macam bentuk syirik, sekeceil apapun syirik itu.
Arda P.W.

Kisah-kisah Teladan Pencerah Hati


Judul Buku      : Kisah-kisah Teladan Pencerah Hati  
Penulis Buku   : Achmad Mufid A.R
Penerbit           : Gallery Ilmu  
Cetakan           : I, 2010  
Ketebalan        : 142
ISBN               : 979-1519-55-2




Cerita adalah penggalan-penggalan kisah yang biasa terjadi dalam kehidupan, cerita sering kali mengandung kisah dengan beragam makna yang luas, memberikan pelajaran yang penuh hikmah kepada para pembaca dan pendengarnya. Cerita tidak hanya menjadi gambaran hidup sehari-hari, dengan cerita seseorang bisa belajar dan memetik nasehat yang tersirat di dalamnya.

Kisah-Kisah Teladan Pencerah Hati merupakan kumpulan cerita yang memiliki beragam makna, memberikan pelajaran kepada para pembaca tentang makna kehidupan dan bagaimana besarnya rahmat Allah SWT. Buku ini menceritakan beragam kisah kehidupan para Nabi, sahabat Nabi, Raja hingga pencuri dan waria. Kearifan seorang guru dalam mendidik muridnya, hingga bagaimana bersikap memberi tanpa memberikan syarat.

Tidak sedikit cerita yang akan membuat para pembaca bersyukur dan merasa penuh dosa, sehingga ingin segera bertaubat dan memohon ampun kepada Allah SWT. Buku ini juga membuat para membaca untuk mengingat tentang rasa malu atas segala perbuatan yang telah dilakukan, serta belajar arti keikhlasan dan kebijaksanaan tanpa kata.

Achmad Mufid A.R sebagai penulis buku Kisah-kisah Teladan Pencerah hati ini menuliskan 72 cerita yang penuh hikmah, membawa kita belajar bagaimana perjuangan nabi Muhammad SAW beserta sahabatnya, serta tak lupa menceritakan bagaiamana seorang pemimpin menjaga kearifannya. Membaca buku ini akan membuat hati dan pikiran menjadi lebih tercerahkan, lebih bijak serta mengingatkan kembali para pembaca bahwa kehidupan di dunia hanyalah sementara.

Disetiap akhir cerita, terdapat banyak nasehat yang bisa dipetik oleh para pembaca, seperti halnya jangan takut untuk berpikir dan berbicara karena pemikiran dan perkataan itulah yang akan melindungi nilai-nilai kemanusian. Penulis juga mengingatkan bahwa kehidupan dengan menanggung kehinaan dan kezaliman akan lebih mulia di hadapan tuhan daripada kemuliaan yang dihasilkan dari merampas kebahagiaan sesama.
Kisah-kisah yang diceritakan tentunya menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi para pembaca, karena tidak hanya bisa di implementasikan dalam kehidupan bermasyarakat, tetapi juga bisa di implementasikan dalam kehidupan bekelurga, peran seorang ayah, pemimpin, ibu dan anak menjadi kisah yang banyak diceritakan, agar para pembaca menyadari bagaiaman peran seorang tua terhadap anaknya, dan bagaimana peran anak dalam menghormati dan mencintai orangtua. 

Selasa, 15 Januari 2019

MEWUJUDKAN SINERGI PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI MUHAMMADIYAH 'AISYIYAH BERKEMAJUAN


Oleh: Irkhamiyati, M.IP.
Kepala UPT Perpustakaan Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta
Jl.Ring Road Barat No.63, Mlangi, Nogotirto, Gamping, Sleman, DIY
081328073556/085743744165

Abstrak
Mukhlis (2006) menyampaikan bahwa kemajuan tidak dapat dicapai tanpa penguasaan ilmu pengetahuan, dimana salah satu pilar ilmu pengetahuan berupa perpustakaan. Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah/PTMA merupakan Perpustakaan Perguruan Tinggi Swasta terbanyak di Indonesia. Jumlah PTMA mencapai ratusan yang tersebar di seluruh nusantara. Jumlah yang banyak tersebut ternyata sangat beragam kondisinya. Ada kesenjangan yang terjadi di antara Perpustakaan PTMA. Hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi kesenjangan tersebut adalah dengan menjalin kerjasama untuk saling menguatkan. Tujuan tulisan ini adalah untuk mengetahui berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk mewujudkan sinergi Perpustakaan PTMA berkemajuan.  Berbagai upaya dapat dilakukan untuk mewujudkan sinergi antar Perpustakaan PTMA, mulai dari pembuatan MOU antar perpustakaan; peningkatan kualitas SDM bersama; reshourches sharing, pembuatan katalog bersama, Inter Library Loan; konsorsium, pemanfaatan  berbagai group dari kemajuan TI, dilaksanakannya diskusi dan presentasi, serta menggerakkan Forum Silaturrahmi Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah. Jalinan kerjasama yang kuat akan menghasilkan sinergi yang kuat pula, sehingga akan memberikan manfaat bersama. Saran yang penulis tuliskan adalah agar kerjasama antar Perpustakaan PTMA bisa lebih diperkuat dan direalisasikan untuk menghasilkan sinergi demi kemajuan perpustakaan bersama-sama.

Kata Kunci: kerjasama, sinergi, Perpustakaan Perguruan Tinggi, Muhammadiyah, 'Aisyiyah, FSPPTMA, berkemajuan.


Senin, 14 Januari 2019

106 Tahun Muhammadiyah: Ta’awun Untuk Negeri : BERUBAH UNTUK KEMAJUAN


Efek Samping Perubahan
Kata sebagian orang, tiada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan. Artinya dalam kehidupan manusia diperlukan adanya perubahan terus menerus. Perubahan pada diri seseorang akan memengaruhi perubahan pada lingkungan dan kinerja lembaga (perpustakaan). Kemudian dalam dimensi kepustakawanan, perubahan itu meliputi dua dimensi. Yakni dimensi berubah dengan inovasi dan dimensi dirubah oleh keadaan dan situasi. Kalau dunia kepustakawanan tidak berusaha berubah dengan kreativitas, keberanian, dan inovasi, maka dalam perjalanannya akan dirubah oleh berbagai faktor, profesi, atau orang lain.
          Perubahan kepustakawanan merupakan merupakan keniscayaan karena faktor internal dan eksternal. Tuntutan perubahan  internal didorong adanya adanya perkembangan ilmu pengetahuan, profesi, dan sistem layanan. Kemudian perubahan eksternal didorong oleh tuntutan kualitas akses informasi masyarakat, perkembangan profesi lain, dan perkembangan teknologi informasi. Apabila profesi kepustakawanan tidak berani dan tidak sinergi, maka akan diintervensi oleh profesi lain.
            Perubahan dari faktor eksternal ini perlu diantisipasi dan dicari solusinya. Apabila pengaruh luar itu tidak dicari solusinya, maka profesi kepustakawanan akan terpinggirkan. Oleh karena itu segala bentuk intervensi dan pengebirian profesi itu harus diminimalisir oleh pustakawan, kalau profesi ini tidak ingin dimarjinalkan.
            Perubahan adalah cara pustakawan mempertahankan diri sebagai tenaga profesi, tenaga fungsional, dan tenaga kependidikan di era global ini. Di era ini, pustakawan harus mau bekerja  keras bersinergi untuk tetap eksis dan mampu menunjukkan kinerja yang profesional. Para ilmuwan dan profesional kepustakawanan dalam menghadapi era global ini bukan sekedar ancaman yang dihindari. Tetapi era kesejagatan ini dijadikan tantangan  yang harus dihadapi.
            Pustakawan sebagai fungsional dan profesi merupakan bagian tak terpisahkan dari masyarakat maju. Semakin maju masyarakat, semakin banyak membutuhkan informasi, baik kualitas maupun kuantitas Di satu sisi, kita perlu memahami bahwa kini masyarakat kita tengah berubah menuju masyarakat informasi (information society).
            Usaha perubahan menuju keadaan yang lebih baik perlu ditangani secara baik. Apabila penanganan perubahan itu buruk, maka sangat mungkin justru menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Hal-hal serius ini misalnya; stress, menurunnya motivasi, rendahnya kinerja, kepailitan, bahkan resistensi terhadap perubahan itu sendiri.
1.Stress.
Stress adalah situasi ketegangan atau tekanan emosional yang dialami seseorang sebagai akibat adanya tekanan, hambatan, penderitaan, dan kesulitan. Ketegangan ini bisa memengaruhi emosi, pikiran, dan konflik fisik. Bahkan bisa menimbulkan perilaku yang aneh-aneh. Kemudian orang lain menganggapnya nyleneh.
      Stress merupakan keadaan tertekan, baik secara fisik maupun psiklogis. Kita kadang tidak bisa terhindar dari tekanan internal maupun tekanan eksternal. Bahkan stress ini kadang kurang kita pahami. Oleh karena itu, perlu dipahami gejala-gejala stress antara lain;
  1. Sesak nafas;
  2. Berkeringat dingin;
  3. Jantung berdebar-debar;
  4. Tegang;
  5. Marah
  6. Agresif/melawan.
Dalam mengantisipasi munculnya stress pada diri kita perlu adanya pencegahan. Dalam dunia kedokteran dan kesehatan sering diingatkan bahwa pencegahan itu lebih murah dan lebih mudah daripada pengobatan. Maka cara pencegahan stress antara lain;
  1. Melakukan relaksasi;
  2. Melakukan olah raga;
  3. Menjaga asupan gizi yang seimbang;
  4. Melakukan rekreasi;
  5. Berkebun, beternak;
  6. Membaca Al quran;
  7. Berdzikir;
  8. Memperbanyak shalat tahajud
Sungguh besar manfaat shalat tahajud. Hal ini dapat kita pahami dalam Q.S. Al Isra’: 79 – 80 yang artinya:”Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke posisi yang terpuji. Dan katakanlah (Muhammad) Ya Tuhanku, masukkan aku ke posisi yang benar, dan keluarkan (pula) ke posisi/solusi yang benar, dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolong (ku).
Stress dapat diantisipasi lebih dini antara lain dengan memahami gejala stress. Hariandja (2002) menyatakan bahwa gejala stress antara lain:
  1. Gejala fisik, yaitu perubahan-perubahan yang terjadi pada metabolisme organ tubuh seperti  pada denyut jantung yang meningkat, tekanan darah yang meningkat, sakit kepala dan lainnya;
  2. Gejala psikologis, yakni adanya perubahan-perubahan sikap pada seseorang,  misalnya ketegangan, kegelisahan, ketidaksenangan, kebosanan, dan lainnya;
  3. Gejala keperilakuan, yakni adanya perubahan-perubahan yang menyebabkan tingkat produktivitas menurun, minim kreativitas, dan semangat kerja berkurang. Gejala ini juga ditunjukkan dengan ketidakhadiran yang tinggi, minum minuman keras, mabuk-mabukan, sulit tidur dan lainnya.
Bersambung

Lasa Hs







Minggu, 13 Januari 2019

IMPLEMENTASI INSTITUSIONAL REPOSITORI DI PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS ‘AISYIYAH YOGYAKARTA

Oleh: Khairun Nisak
Pustakawan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta

                                                ABSTRAK

Adanya sumber informasi yang access membuat mahasiswa mendapat keuntungan. Mahasiswa dapat mengakses informasi sebanyak-banyaknya dan tanpa ada yang membatasinya. Hal tersebut kadang tidak berbanding lurus dengan ketersedian sumber informasi yang open atau geratis. Masih sedikitnya informasi yang open atau geratis ini menjadi rujukan bagi sebuah Institusi terutama perpustakaan Perguruan Tinggi untuk membuat atau memberikan layanan sumber informasi yang relevan dan dapat diakses oleh civitas akademika kapanpun dan dimanapun. Perpustakaan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta sedang mengembangkan Institusional Repositori yang nantinya dapat memudahkan mahasiswa mendapatkan sumber informasi berupa Tugas Akhir Mahasiswa yang dapat diakses dan didownload. Agar semuanya berjalan dengan lancer maka harus ada kesiapan Sumber Daya Manusia dan Sarana prasarana. Sumber Daya Manusia yang dibutuhkan antara lain adalah Pustakawan dan tenaga teknologi Informasi Awalnya ada beberapa pilihan yang di tawatkan oleh perpustakaan kepada Tenaga Teknologi Informasi untuk dipelajari. Ada e-Print, DSpace dan yang lainnya. Dengan beberapa pertimbangan yang ada maka Perpustakaan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta memutuskan untuk menggunakan e-Print. 

 Keyword: institusional repositori, perpustakaan digital, open sources

Rabu, 09 Januari 2019

106 Tahun Muhammadiyah: Ta’awun Untuk Negeri Tulisan 3


                                             BERUBAH UNTUK KEMAJUAN 

3. Berani Menghadapi Resiko
            Salah satu hal yang membedakan orang sukses dan gagal adalah keberanian menghadapi resiko. Orang yang berhasil antara lain berani memperjuangkan ide, cita-cita,  tujuan,  dan berani menghadapi resiko yang telah diperhitungkan serta berani bertindak.
Salah satu contoh orang yang berani menghadapi resiko adalah Wright bersaudara. Kakak beradik ini berani mempertaruhkan nyawa untuk membuktikan teori/gagasannya bahwa mesin yang lebih berat dari udara itu bisa terbang. Mereka berdua nekad melakukan percobaan penerbangan meskipun nyawa taruhannya. Namun berkat percaya diri dan berani menghadapi resiko, maka penemuan kakak beradik itu melahirkan pesawat terbang yang dapat kita nikmati sampai sekarang.
           
4.Mampu membaca & memanfaatkan peluang
Salah  satu indikator menuju perubahan dan pengembangan adalah mampu membaca dan memanfaakan peluang, Betapa banyak diantara para pimpinan perpustakaan yang tidak mampu membaca peluang. Kalaupun mampu membaca peluang, belum tentu mampu memanfaakan peluang. Bahkan kemungkinan kecil dapat menciptakan peluang. Peluang itu harus dicari dan dimanfaatkan sebaik-baiknya. Beberapa peluang misalnya perhatian pimpinan, adanya diklat, adanya seminar, sponsor dan kerjasama , dan lainnya.

5.Bekerja Profesional
Sekecil apapun suatu bidang atau pekerjaan, kalau dilakukan secara tekun,bersungguh-sungguh, insya Allah akan mencapai keberhasilan. Keberhasilan tidak harus diukur dengan melimpahnya uang dan tingginya jabatan. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa keberhasilan itu tidak tergantung pada profesi, tetapi pada prestasi.
Keberhasilan juga dapat diukur dari pencapaian passionnya. Sedangkan passion tidak akan jatuh dari langit dan tidak akan tumbuh dari bumi. Untuk mewujudkan passion harus bekerja keras, bekerja cerdas, bekerja ikhlas, dan bekerja tuntas.
Betapa banyak para kepala perpustakaan yang bekerja asal jalan dan dapat tunjangan. Mereka datang, duduk, dapat duit. Mereka bekerja rutin dan kurang profesional.  Maka perpustakaan yang dipimpin hanya begitu-begitu saja. Mereka kurang memahami manajemen, tidak mengerti  kepemimpinan, dan kurang paham tentang seluk beluk kepustakawanan.

6.Perubahan itu Bertahap
Untuk merubah dan mengembangkan kinerja perpustakaan perlu adanya target dan tahapan. Perubahan yang dilakukan secara mendadak dan keterpaksaan kadang menimbulkan keresahan bahkan kadang perlawanan.
Oleh karena itu, maka tiap perpustakaan (terutama perpustakaan PTMA) perlu memiliki visi,  misi, tujuan, dan program kerja yang jelas. Visi yang baik disusun memiliki jangka waktu capaian 20 – 25 tahun. Dari sini dapat disusun tahapan capaian setiap 5 tahunan. Secara bertahap, capaian 5 tahunan ini dapat dicapai melalui rencana kerja/capaian setiap  tahun. Dengan tahapan seperti ini akan terjadi perubahan dan kemajuan yang bisa diukur.
 
Bersambung

Lasa Hs

Senin, 07 Januari 2019

LION ON THE TABLE


(Kasman Singodimedjo; Pahlawan Nasional & Tokoh Muhammadiyah)

Kalimat tersebut memang pantas disematkan kepada Kasman putra Bagelen Purworejo yang lahir 25 Februari 1904. Ayahnya bernama Singodimedjo  seorang lebai/modin, dan pernah menjadi sekretaris desa (carik). Beliau pernah menjadi pegawai polisi yang dipersenjatai di Tabanan Bali, dan Gunung Sugih Lampung Tengah. Ibunya bernama Kartini yang pernah meragukan kemampuan Kasman ketika minta izin akan sekolah di MULO (Meer Uitgebereid  Lager Onderwijs) di Magelang.
Kasman  telah belajar berorganisasi, memimpin dan pidato sejak kecil. Beliau masuk perkumpulan “Darah Jawi”. Setamat dari MULO, beliau melanjutkan ke STOVIA (School tot Opleiding van Indiesche Arsten) Batavia (Jakarta). Kasman  dikenal sebagai anak yang ulet, kerja keras, rajin, disiplin, dan memiliki semangat nasionalisme yang tinggi. Menurut penuturan Mohammad Roem, bahwa selama sekolah di STOVIA di Kwitang, Kasman mencari tambahan penghasilan dengan mencucikan pakaian para mahasiswa. Upah cucian ini ditabung untuk membeayai sekolah adik-adiknya (Kasmah, Kasiyem, Sutiyati).   
STOVIA adalah  sekolah dokter untuk  bumiputra. Ketika masih berstatus sebagai mahasiswa STOVIA inilah, beliau juga menjadi pengurus Jong Islamieten Bond/JIB). Saat itu JIB telah memiliki 4.000 anggota. Ketika menjadi pengrus JIB inilah, Kasman banyak mengenal dan belajar dari para tokoh pergerakan seperti KH Agus Salim, HOS Cokroaminoto, KH Ahmad Dahlan, Syiekh Ahmad Syurkati, Natsir, Mohammad Roem, Prawoto dan Jusuf Wibisono. JIB  ini juga  menjadi wadah pengkaderan dan penggemblengan kepemimpinan untuk masa depan. Maka wajar kalau Belanda mewaspadai dan mencurigai gerak-gerik organisasi ini. 
            Gara-gara aktivitas ini dan nampak kecerdasannya inilah, Belanda mencurigai Kasman dan dianggap membahayakan. Maka beasiswa studi di STOVIA dicabut dan Kasman dikeluarkan dari sekolah tersebut. Kemudian Kasman masuk  Sekolah Tinggi Hukum (Recht Hoge School/RHS) dan disini beliau ketemu dan belajar banyak dari Mohammad Roem (tokoh Roem-Roeyen). Kasman lulus sebagai sarjana hukum (Meester de Recht/Mr) pada  26 Agustus 1939.  
Sejak muda, Kasman telah mengenal Muhammadiyah dan dekat dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah seperti KH Ahmad Dahlan dan Ki Bagus Hadikusumo. Secara formal, Kasman mengawali karir di Muhammadiyah sejak tahun 1921 sebagai anggota Cabang Muhammadiyah Batavia (Jakarta). Saat itu Cabang Muhammadiyah Jakarta dipimpin oleh Kartosoedarmo. Kemudian mulai masuk jajaran kepemimpinan Muhammadiyah pada periode 1968 – 1971. Bahkan pada periode 1974 – 1977, yakni pada masa kepemimpinan Pak AR, Pak Kasman paling rajin berkantor di PP Muhammadiyah Jl. Menteng Raya No. 62, sehingga dikenal sebagai “penjaga warung”. Saat itu Pak Kasman dipercaya sebagai Ketua II PP Muhammadiyah.
Ketika Kongres Muhammadiyah ke 30 di Yogyakarta, Buya Hamka dan Kasman Singodimedjo pernah tidur bersama di lantai di Gedung Kweek-School Muhammadiyah. Buya sebagai Konsul Daerah Muhammadiyah Sumatera Timur, dan Kasman sebagai Konsul Daerah Muhammadiyah Betawi. Pada saat itu pula tidur berdekatan Sudirman (nantinya menjadi Panglima Besar TNI) selaku Wakil Majelis Pemuda Purwokerto. Mereka tidur di lantai berhimpitan layaknya tidur di dek kapal. Mereka berbahagia. Memang begitulah berMuhammadiyah yang ditunjukkan dengan adanya kebersamaan, keikhlasan, dan kesederhanaan.
Kasman sebagai pejuang berulang kali masuk dan keluar penjara. Tahun 1940, Kasman ditangkap Belanda gara-gara pidatonya di forum Muhammadiyah Bogor. Kasman juga pernah dituduh mengadakan rapat gelap merencanakan makar dan akan menggulingkan Presiden Soekarno. Kasman tidak sendirian ditangkap, tetapi bersma Hamka, m Isa ANshary, dan Ghazali Syahlan (dari Masyumi). Mereka ditangkap dan dipenjara. Hamka selama dipenjara ini berhasil menyelesaikan Tafsir Al Azhar yang menimental itu. Sosok yang benar singa di podium ini ditangkap lagi dengan tuduhan terlibat dalam gerakan PRRI (yang dipimpin Mohamad Natsir, Sjfruddin Prawironegara, dan Burhanuddin Harahap). Beliau ditangpa gara-gara pidatotg. 31 Agustus 1958 di gedung bioskop Magelang tentang wejangan Ronggowarsito.

Bibit perjuangan melalui dunia politik, telah nampak pada kegiatannya di Jong Islamieten Bond/JIB. Pada tahun 1940, Kasman ditangkap dan ditahan karena kegiatan politiknya. Pada masa pendudukan Jepang, beliau menjadi Komandan PETA Jakarta. Dialah salah satu tokoh yang ikut berperan dalam mengamankan pelaksanaan upacara pembacaan Proklamasi 17 Agustus 1945 di lapangan IKADA.
 Pada awal kemerdekaan RI, dibentuklah PPKI yang semula beranggotakan 21 orang, maka Bung Karno menambahkan nama-nama Kasman Singodimedjo, Wiranatakoesoemah,Ki Hadjar Dewantara, Sajuti Melik, Mr. Iwa Koesoema Soemanri, dan Mr. Achmad Soebardjo. Maka jumlah anggota PPKI menjadi 27 orang.
            Pada saat menjelang pengesahan UUD 1945, terjadilah ketegangan tersendiri karena masyarakat Indonesia bagian timur akan memisahkan diri dari Indonesia. Mereka keberatan kalau kalimat :’dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluknya” kalau tetap dicantumkan pada UUD 1945 itu. Di satu sisi Ki Bagus Hadikusumo dan bberapa orang semula bersikeras agar tujuh kata itu tetap dicantumkan. Melihat situasi yang gawat itu, terbayangoleh Bung Karno jangan-jangan Indonesia bubar karena perbedaan persepsi 7 kata tersebut. Akhirnya Bung Karno minta tolong Kasman Singodimeedjo untuk melobi Ki Bagus Hadikusumo, dan alhamdulilah beliau bisa menerima argumentasi yang dikemukakan Kasman Singodimedja. Dengan diplomasi Kasman dan kesadaran Ki Bagus Hadikusumo dan tokoh lain betapa pentingnya persatuan, maka 7 (tuju) kata itu dihilangkan. Maka Indonesia tidak jadi bubar.
Berkat jasanya kepada negara, bangsa, dan juga masyarakat (terutama Muhammadiyah) beliau diangkat sebagai PahlawanNasional  RI 2018 dengan Suat Keputusan  Presiden RI No. 123/TK/2018 tanggal 6 November 2018.
(Sumber: 100 Tokoh Muhammadiyah, 2014: 152 – 153, Suara Muhammadiyah, 1-15 Januari 2019) 

Lasa Hs.



Minggu, 06 Januari 2019

Berakhlak (terpuji) sebelum Berilmu


Akhlak merupakan suatu tingkah laku yang mencerminkan diri kita. Akhlak dibagi menjadi dua yaitu terpuji dan tercela. Jika tingkah laku kita baik, sopan, maka hal itu menunjukkan budi pekerti kita baik. Hal itu termasuk dalam kelompok akhlah terpuji (Mahmudah).  Sedangkan ilmu merupakan pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara sistematis menurut metode yang ilmiah yang dapat digunakan untuk menjelaskan dan menerangkan kondisi tertentu dalam bidang pengetahuan.

Lalu, manakah yang lebih utama antara akhlaq dan ilmu?
Jawabannya adalah lebih utama akhlaq dari pada ilmu. Hal ini bukan berarti orang yang berpendidikan tinggi, berpengatahuan luas akan dipandang rendah. Namun posisi tingkatan akhaq itu lebih baik dari pada ilmu. Namun, orang yang yang berakhlaq terpuji sudah jelas dia berilmu, dia mempunyai ilmu untuk berbuat baik. Sehingga tingkah lakunya akan mampu memberikan manfaat kebaikan.

Mengapa akhlaq terpuji lebih baik dari pada ilmu?
Akhlaq yang baik akan membawa ilmu yang dimiliki seseorang menuju hal positif, kemaslahatan, kebaikan dan bersifat konstruktif.Namun sebaliknya, jika orang yang berilmu tidak memiliki akhlaq yang baik, maka ilmu itu akan membawanya menuju jalan yang salah, dan mampu menjerumuskan dirinya ke hal negative, keburukan, dan destruktif.
Maka, letakkanlah akhlaq terpuji di atas ilmu agar ilmu yang dimiliki dapat memberikan manfaat yang baik bagi diri sendiri dan sekitarnya.
di musim politik ini hendaknya kita merenungkan sudahkah ilmu kita cukup atau bagaimana akhlak kita kepada sesama???
karna sejatinya ahlak karimah dapat mempererat persaudaraan sedangkan saling menghujat tentu mencerminkan bahwa ilmu kita patut dipertanyakan. 

Arda PW

106 Tahun Muhammadiyah: Ta’awun Untuk Negeri Tulisan : 2



                             BERUBAH UNTUK KEMAJUAN  
                      PERUBAHAN ITU DARI DIRI SENDIRI
Untuk merubah sikap dan tindakan orang lain, masyarakat, atau perpustakaan perlu dimulai dari perubahan diri. Kalau ingin merubah korupsi, tentunya dirinya maupun kroninya/partainya tidak korupsi. Oleh karena itu hanya orang yang bisa menjadi teladanlah yang akan bisa memengaruhi dan merubah pihak lain. Maka bukti kepemimpinan inilah yang akan membawa perubahan, dan bukan sekedar janji.
Mereka yang bisa menjadi panutan ini telah mampu menempa dirinya dalam mengatasi berbagai persoalan dan penderitaan. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Lukman Al Hakim yang pernah kepada putranya :”Wahai anakku.Ketahuilah, apabila emas itu ditempa / diuji dengan api, maka manusia itu diuji dengan bala (al Far, 2008: 37).
Mereka yang mampu dan sukses memimpin menuju perubahan itu mengalami proses panjang. Kesuksesan merupakan buah komitmen dan proses terus menerus untuk mencapai suatu tujuan. Mereka  itu ibarat besi yang dibakar dan ditempa dengan berbagai penderitaan dan ternyata lolos dari segala percobaan (difitnah, dipenjara, dicaci maki, kena nyinyir, dibulli dll.). Maka mereka menjadi hebat.
Menjadi orang hebat, tidak harus pintar secara akademik dan tidak harus memiliki jabatan tertentu. Sebab kenyataan, bahwa justru kerusakan besar  itu dilakukan oleh orang-orang yang pintar. Korupsi milyaran rupiah itu dilakukan oleh orang pintar bukan oleh kuli bangunan. Plagiasi dilakukan oleh ilmuwan, dan bukan oleh penggali kubur.
Orang akan mampu merubah diri apabila memiliki visi (visioner), optimis, berani menghadapi resiko, mampu membaca peluang, mengedepankan negoisasi, dan bekerja profesional (kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas). 

1.Visioner
Mereka yang berhasil antara lain ditunjukkan dengan cara pandang terhadap suatu bidang yang dipimpinnya. Mereka yang mampu memanda kehidupan (bidang, pekerjaan, dan jabatan) dengan pandangan jauh ke depan/visioner adalah mereka yang berhasil.
Sebaliknya, mereka yang memandang kehidupan tersebut dengan pandangan yang pendek, maka mereka hanya akan memeroleh keberhasilan yang semu. Apabila kita memandang kehidupan ini dengan pandangan jauh ke depan/visioner, maka tujuan jangka pendek/dekat akan tercapai.

2.Optimis
            Sikap optimis adalah sikap individu yang berkeyakinan bahwa masalah yang dihadapi akan membawa keberhasilan, manfaat, dan keberuntungan dalam arti luas. Optimisme merupakan energi yang mampu mendorong manusia untuk mencapai tujuan tertentu.
Para orator dan penulis besar mampu mengubah dunia dengan kemampuan berkomunikasi (lisan dan tulis). Mereka berani menghadapi resiko dan mampu memberikan solusi lantaran optimisme yang mereka miliki jauh sebelum mereka dikenal orang.
            Optimisme atau berpikir positif (khusnudz dzan) merupakan formula atau sistem yang memandang segala sesuatu itu dari baiknya saja, meskipun orang lain memandang buruk.
Orang yang optimis selalu berharap bahwa semuanya berakhir baik. Mereka yang optimis akan mencapai keberhasilan bahkan sebelum melakukan kegiatan. Mereka menang (mengaaalahkan diri sendiri) sebelum perang (menghadapi tantangan).
Orang yang optimis akan berpikir positif dan itu menjadi kunci sukses menghadapi stress.Mereka itu akan mampu menghadapi situasi yang tidak menyenangkan dengan sikap positif dan produktif.
            Menurut Victor Frankl dalam Rafanani (2017: 37) dinyatakan bahwa sikap optimis itu dapat dimunculkan dimana saja, bahka dalam penderitaan sekalipun. Sebaliknya   mereka yang pesimis, hanya akan menjadi pecundang, selalu mengeluh, menyalahkan pihak/orang lain, ngambek, dan mati sebelum perang. Mereka beranggapan bahwa kemalangan dankegagalan itu sudah nasib dan sudah digariskan dari sononya.
            Optimisme akan menghasilkan energy positif, tetapi pesimis akan menguras energy dengan membuang-buang yang ada.Optimisme menuntuk ke depan, tetapi pesimis mendorong ke belakang, bahkan jauh tertinggal/terbelakang dan akan menjadi orang-orang yang neoric (Rafanani, 2017: 17).  
 Bersambung

Lasa Hs



106 Tahun Muhammadiyah : Ta’awun untuk Negeri Tulisan : 1



 BERUBAH UNTUK KEMAJUAN PERPUSTAKAAN
                                    Makna Perubahan

Perubahan pada hakikatnya adalah tranformasi dari keadaan lalu menuju keadaan sekarang, dari keadaan sekarang menuju keadaan yang akan datang. Kalau keadaan sekarang berubah menjadi lebih baik, berarti suatu kemajuan dan keberhasilan. Apabila keadaan sekarang sama (tidak berubah) dengan keadaan yang lalu, maka berarti suatu kerugian karena mengalami kemandegan. Apabila keadaan sekarang berubah menjadi lebih buruk dari keadaan yang lalu, maka berarti suatu kecelakaan bahkan musibah.
            Adanya perubahan sebagai tanda adanya kehidupan dan perkembangan. Maka apabila tidak terjadi perubahan, maka berarti bahwa kehidupan itu mandeg dan tidak berkembang. Namun demikian, pengalaman empiris menunjukkan bahwa adanya usaha perubahan sering mampu meningkatkan kinerja lembaga lebih maju pesat. Perlu juga disadari bahwa banyak pula usaha perubahan, namun kenyataannya tidak berhasil. Hal ini kadang menimbulkan keragu-raguan pada diri orang/kelompok lain untuk berusaha berubah.
            Perubahan merupakan keniscayaan yang perlu dilakukan terus menerus dalam rangka menuju  kemajuan. Maka logis bila Allah menyiratkan perlu perubahan dalam Q.S. Ar Ra’d: 11 yang artinya:”Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka”. Merubah pada hakekatnya meningkatkan kebaikan dan menjauhi kegiatan-kegiatan yang merusak. Oleh karena itu, Rasulullah s.a.w. menegaskan untuk merubah kemunkaran dengan kekuasaan, lisan, maupun diam (tidak melakukan kejahatan). Perintah ini ditegaskan dalam salah satu hadist yang diriwayatkan oleh Abu S’ad Al Khudhri yang artinya:” Apabila kamu sekalian menyaksikan/mengetahui kemunkaran,hendaknya dirubah dengan tangan (kekuasaan). Apabila kamu tidak mampu, maka hendaknya dirubah dengan lisan (nasehat, tulisan). Apabila dengan lisan ternyata tidak mampu, maka hendaknya dirubah dengan hati, yang demikian adalah selemah-lemah iman”.
            Memahami hadits tersebut, sebagian ulama menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan tangan (kekuasaan) yang dilakukan oleh para pemegang kekuasaan. Kemudian yang dimaksud dengan lisan dilakukan oleh para ilmuwan atau ulama. Sedangkan melakukan perubahan dengan hati dapat dilakukan oleh masyarakat pada umumnya. Merubah dengan hati berarti minimal mencegah diri agar tidak melakukan tindak kejahatan.
            Perpustakaan sebagai lembaga yang selalu berubah (library is the growing organism) harus selalu melakukan perubahan. Perubahan ini dapat dilakukan pada manajemen, koleksi, sistem, sumber daya manusia, anggaran, layanan, pengolahan, maupun pada anggaran. Perubahan ini hendaknya disesuaikan dengan tingkat kebutuhan informasi masyarakatnya.
Namun demikian, perlu disadari bahwa untuk menuju proses perubahan itu selalu dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang memengaruhi perubahan ini antara lain dari internal perpustakaan itu sendiri, dimana kepala/manajemen perpustakaan harus bisa mengendalikan. Sedangkan faktor eksternal antara lain adanya tekanan global dan semakin ketatnya kompetisi.
            Bertitik tolak dari sini, maka untuk berubah dan mengembangkan pengelolaan suatu perpustakaan diperlukan manajemen/kepemimpinan yang profesional. Dalam hal ini banyak teori tentang kepemimpnan yang profesional. Salah satu teori kepemimpinan yang profesional menyatakan bahwa kepemimpinan yang profesional adalah kepemimpinan yang memiliki pemahaman visi (the need for vision), etika (the need for ethics), keberagaman budaya (the need for cultural diversity), dan pelatihan (the need for training (Stoner dan Freeman (1992:16).
  1. The Need for Vision
Manajer/kepala perpustakaan membawa perubahan dan kemajuan yang signifikan apabila memiliki visi yang jelas. Oleh karena itu, kepala perpustakaan harus mampu melihat jauh ke depan tentang perpustakaan yang dipimpinnya dan tujuan perpustakaan yang akan dicapainya. Visi ini akan menjadi acuan utama semua staf perpustakaan yang dipimpinnya. Tanpa adanya visi yang jelas,maka tenaga perpustakaan akan melakukan kegiatan yang tidak jelas arahnya. Sebab sang komandan tidak bisa membuat perencanaan jangka panjang dan tidak mampu memberikan pengarahan. Hal ini lantaran kepala perpustakaan tidak memiliki pengetahuan/pengalaman tentang manajemen dan kurang paham seluk beluk perpustakaan. Jadinya, perpustakaan asal jalan meskipun jalan di tempat.
  1. The Need for Ethics
Dalam memenej perpustakaan, diperlukan pemahaan etika. Baik etika lembaga, etika profesi, maupun etika komunikasi. Tanpa pemahaman ini, perjalanan kepemimpinan perpustakaan akan terhambat oleh masalah moral. Maka tak heran bila terjadi pemogokan kerja, protes tersembunyi, bahkan stress terselubung. Hal ini antara lain disebabkan bahwa kepala perpustakaan tidak memahami etika tersebut. Maka wajar kalau langkahnya trunyak trunyuk.
  1. The Need for Cultural Diversity
Orang-orang yang bekerja di perpustakaan terdiri dariberbagai macam tingkat pendidikan, ras, suku, agama, paham, dan politik. Faktor ini harus dipahami oleh manajemen. Untuk itu, manajemen harus memiliki komitmen yang kuat untuk memberikan perlakuan yang adil tanpa memandang ras, suku, agama, dan perbedaan politik. Sebab keberagaman budaya (cultural diversity) ini merupakan kenyataan dalam kehidupan bernegara, berbangsa, dan bermasyarakat.
  1. The Need for Training
Dalam memenej perpustakaan diperlukan ketrampilan manajemen. Oleh karena itu, kepala perpustakaan perlu menyadari akan pentingnya peningkatan sumber daya manusia perpustakaan. Peningkatan ini antara lain dalam bentuk kesempatan studi lanjut, magang, pengikutertaan dalam kompetisi kepustakawanan, pendidikan dan pelatihan, dan kagiatan peningkatan kompetensi kepustakawanan.
Pelatihan adalah keseluruhan kegiatan untuk memberi, memeroleh, meningkatkan, serta mengembangkan kompetensi kerja, produktivitas, kedisiplinan, sikap, dan etos kerja pada tingkat ketrampilan dan keahlian tertentu sesuai dengan jenjang dan kualifikasi jabatan dan pekerjaan (UNdang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 dalam Lasa Hs 2017).

Bersambung


Lasa Hs